Pena Catra

Seandainya Anak-anak Muda Itu Duduk Manis…

catrawarta.com — Mereka anak-anak bangsawan. Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh lingkungan yang aman penuh kemewahan. Duduk manis pun tak mungkin mereka...

Classroom scene with students at wooden desks a girl in a sari sits front right as others study with a stovia sign on the wall near large windows
Ilustrasi: Anak-Anak Muda Mahasiswa STOVIA. Sumber: catrawarta.

catrawarta.comMereka anak-anak bangsawan. Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh lingkungan yang aman penuh kemewahan. Duduk manis pun tak mungkin mereka tak bisa makan. Mengapa mereka memilih jalan terjal?

Anak-anak itu, yang menjadi protagonis atas lahirnya semangat kebangsaan, hidup dalam cakrawala kolonial. Pergaulan mereka, andaikan mau, hanya di kalangan terbatas, kelas atas. Segala hal privilege mereka miliki. Andai mereka turun ke bawah, berinteraksi dengan rakyat jelata, mereka pasti disembah dimuliakan penuh penghormatan. Tinggal perintah, selesailah. Tinggal tunjuk, dapatlah.

Tetapi mereka, para bangsawan muda itu, paham tugas sejarahnya. Tugas yang tak mungkin datang dan bisa dikerjakan orang kebanyakan: mengartikulasikan sistem dan nilai pergerakan saat banyak orang belum tersadarkan. Kebanyakan kaum bangsawan, bahkan, memilih menjilat dan kongkalingkong dengan penguasa kolonial untuk mendapatkan kedudukan, gelar dan kekayaan. Pilihan, pada akhirnya, harus disuarakan.

Anak-anak muda yang sekolah di STOVIA itu, yang tak hanya mempelajari keilmuan, juga berjuang keras menemukan jawaban atas pertanyaan: mengapa bumiputera terjajah dalam kebodohan. Mereka aktif diskusi, rajin membaca berita, sesekali menulis di media, dan mengorganisir diri dalam kelompok studi atau komunitas pergerakan. Bahwa kebodohan tak bisa dibiarkan. Bahwa pembodohan harus dilawan dan dihentikan. Bahwa kualitas diri sangat menentukan keberhasilan pergerakan.

Pendidikan, kata Mahaguru Sejarah UGM Prof Sartono Kartodirdjo, adalah dinamit bagi kolonialisme. Dimanapun kolonialisme bercokol, di sanalah pembodohan dilakukan. Rakyat di tanah jajahan tak boleh sekolah, harus bodoh, bahkan dibiarkan tetap dungu. Segala kebijakan dan upaya dilakukan, termasuk ancaman penjara bagi siapapun yang melawan, demi menjaga statua quo, kemapanan bagi penguasa.

Maka ketika anak-anak muda keturunan bangsawan itu menyadari posisi dan kompetensi, lalu menggerakkan kesadaran kebangsaan, bangun kolonial bisa runtuh. Beruntung mereka, para pelajar dan mahasiswa STOVIA itu, sempat berdiskusi dengan bangsawan penjelajah asal Mlati Sleman, Wahidin Sudirohusodo. Tokoh yang rela berjalan dari satu kota ke kota lain menghubungi para bangsawan untuk membantu studiefond yang dia dirikan dalam rangka membantu sekolah anak-anak pribumi, menginspirasi anak-anak muda agar berdiri sebagai putera Pertiwi.

20 Mei 1908 anak-anak muda itu kemudian sepakat mendirikan Budi Utomo, organisasi pergerakan pertama yang mencoba memajukan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Anak-anak muda yang tak mau hanya duduk manis melihat martabat dan kehormatan bangsanya, meski pada tahap awal disebut Jawa, diinjak-injak kolonial Belanda, dikekang dan dipaksa tetap terbelakang. Mereka secara cerdas mampu mengartikulasikan pergerakan dan menggerakkannya sebagai sarana meraih kemerdekaan.

Lima bulan kemudian, memang, mereka coba dipatahkan oleh bangsawan tua yang takut berhadap-hadapan dengan penguasa kolonial Belanda. Dalam Kongres I Budi Utomo di Yogyakarta, tepatnya kini di SMA Negeri 11 Yogyakarta, mereka dikudeta oleh golongan tua. Struktur pengurus diganti kalangan bangsawan tua. Namun, api perlawanan yang terlanjur nyala itu tak mudah dipatahkan dan dipadamkan. Mereka menyebar dan mendirikan berbagai organisasi pergerakan.

Mereka, anak-anak muda mahasiswa STOVIA itu, lahir menjadi bangsawan baru. Bangsawan cendekiawan yang menjadi generasi pertama bangsa ini yang sadar akan tanggung jawab moral akademisnya untuk kemajuan bangsanya. Sejarah mencatatnya dengan tinta emas.

Pertanyaannya, kemana anak-anak muda masa kini saat bangsa dan negaranya tidak sedang baik-baik saja? Sejarah selalu membuka ruang untuk perjuangan, tergantung mereka berani berdiri dan lantang berkata, “Ini dadaku, mana dadamu?” atau tetap duduk manis menanti bantuan BLT.

Jauh sebelum merdeka, pada 1931, WR Supratman, komponis muda yang brilian, telah menggubah lagu Di Timur Matahari. Sederhana tapi padat maknanya:

Di timur matahari mulai bercahaya
Bangun dan berdiri kawan semua
Marilah mengatur barisan kita
Pemuda pemudi Indonesia

Rakyat menanti hadirkan para pemuda yang berani berdiri dan teratur dalam barisan. Pemuda yang sadar kompetensi dan berdedikasi, bukan pemuda yang amnesia dan abai masa depan bangsanya.

Ksatrian Sendaren, 20 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *