Warta

Orangtua Merasa Perih Lihat Kekejaman di Daycare Little Aresha

catrawarta.com — Orang tua mana yang tak merasa geram mengetahui kekejaman tempat penitipan anak yang mestinya memberikan rasa aman dan nyaman. Namun,...

Person in an orange shirt tapes a banner for a daycare program on a storefront with a blue bicycle parked in front and colorful posters along a fence
Lokasi Daycare Little Aresha di Umbulharjo Yogyakarta. kompas.com)

catrawarta.comOrang tua mana yang tak merasa geram mengetahui kekejaman tempat penitipan anak yang mestinya memberikan rasa aman dan nyaman. Namun, yang terjadi, justru sebaliknya, anak mereka tertekan dan terluka secara fisik.

Salah satu orang tua korban, Noorman menyebutkan, ia telah menitipkan kedua anaknya di tempat tersebut sejak tahun 2022-2025 dan 2024 hingga sekarang. Belakangan terungkap, daycare tersebut ternyata beroperasi secara ilegal.

“Kami tidak menyangka sama sekali karena awalnya tidak ada kecurigaan, meski anak pertama saya sering mengalami luka di dahi, punggung, hingga tangan yang selalu diklaim pengasuh sebagai luka dari rumah,” ujar Noorman, Minggu (26/4/2026).

Kondisi lebih mengkhawatirkan dialami anak keduanya. Ia menceritakan, sejak dititipkan, anak bungsunya hampir setiap bulan harus berobat ke dokter, karena batuk dan pilek kronis hingga akhirnya divonis pneumonia. “Anak yang kecil divonis pneumonia dan sering ada luka di bibir serta punggung. Setiap kami tanya, jawabannya selalu sama, luka itu sudah ada dari rumah, padahal sebelum berangkat saya sendiri yang memandikan dan memastikan kondisinya baik-baik saja,” katanya.

Memunculkan Kecurigaan

Kecurigaan Noorman semakin menguat saat memperhatikan nafsu makan dan berat badan anaknya. Meskipun selalu membawakan bekal dalam porsi besar dan susu merek premium, berat badan anak tidak kunjung bertambah. “Ternyata saat digerebek baru ketahuan, makanan itu tidak diberikan ke anak, tapi diduga dimakan pengasuhnya atau dibuang ke tempat sampah (berdasarkan video pada saat penggerebekan),” ungkapnya.

Dampak dari perlakuan keji ini tidak hanya berupa luka fisik, tetapi juga trauma psikis. Noorman menyebut anak sulungnya yang kini berusia 6 tahun jadi sering mengompol dan buang air besar di celana karena diduga sering diancam  pengasuh. “Ternyata anak-anak lain juga mengalami hal yang sama, karena mereka ketakutan mau buang air akibat diancam atau dipojokkan oleh pengasuh di sana,” jelasnya.

Berkoordinasi dengan Anggota DPD

Kini, para orangtua korban telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan meminta pengawalan kasus ini hingga tuntas. Para orang tua juga melakukan audiensi dengan anggota DPD RI Ahmad Syauqi Soeratno. “Tuntutan kami kasus ini diusut tuntas dan pelaku dihukum seberat-beratnya, dan kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi orang tua lain agar lebih waspada mengecek izin dan aktivitas daycare secara langsung,” ucap Noorman.

Hal serupa diungkapkan Khairunnisa. Ia menyampaikan kemarahannya saat mendapati buah hatinya menjadi salah satu korban yang terekam dalam video viral. Meski anaknya belum genap satu bulan dititipkan di sana, dirinya menemukan bukti fisik dan perlakuan tidak manusiawi.

“Anak saya tidak diberi baju dan tangannya bukan dibedong, tapi diikat kencang. Di salah satu video yang tersebar, saya yakin itu anak saya. Saya menangis melihatnya,” terang Khairunnisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *