catrawarta.com — Bandung kerap membanggakan diri sebagai kota kreatif dan ramah publik. Namun di banyak sudut jalan, trotoar justru berubah menjadi arena perebutan ruang yang meminggirkan pejalan kaki.
Motor melintas seenaknya di atas jalur pedestrian. Parkir liar memakan badan trotoar. Pedagang kaki lima memenuhi ruang berjalan. Sementara tiang utilitas berdiri tanpa tata letak yang jelas di tengah jalur pejalan kaki.
Yang tersisa bagi warga hanyalah ruang sempit, rusak, bahkan membahayakan.
Fenomena motor naik trotoar bukan lagi kejadian sesekali. Di sejumlah titik rawan kemacetan seperti kawasan Jalan Kopo hingga Dago Cikapayang, trotoar sering berubah fungsi menjadi “jalur alternatif” pengendara motor yang ingin memotong antrean.
Budaya melanggar ini berlangsung terang-terangan. Pejalan kaki dipaksa minggir. Lansia harus ekstra hati-hati. Penyandang disabilitas semakin kesulitan mengakses ruang publik. Ironisnya, solusi yang muncul kadang justru menambah persoalan baru.
Alih-alih membangun trotoar yang nyaman dan inklusif, sejumlah titik malah dipasangi beton penghalang berlebihan yang membuat jalur pedestarian terasa seperti arena “Ninja Warrior”. Motor memang terhambat, tetapi pejalan kaki ikut dibuat repot.
Pengguna kursi roda kesulitan bermanuver. Orang tua harus melangkah zig-zag. Ibu membawa stroller pun dibuat kewalahan.
“Bukan cuma bikin kendaraan susah naik, pejalan kaki terlebih difabel dan lansia juga sami riweuhna,” keluh seorang warga Bandung.

Memberantas Aktivitas Keuangan Ilegal, IASC Blokir 460.270 Rekening di 19 Bank 