Warta

Sejarah 25 Juli: Hari Kelahiran Sarwo Edhie Wibowo, Jenderal Penumpas G30S/PKI

catrawarta.com — 25 Juli merupakan hari kelahiran dari salah satu tokoh militer paling dihormati dalam catatan sejarah, Sarwo Edhie Wibowo. Namanya tak...

Letjen purn sarwo edhie wibowo yang tumpas g30spki
Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo yang tumpas G30SPKI. (dok. Antara)

catrawarta.com25 Juli merupakan hari kelahiran dari salah satu tokoh militer paling dihormati dalam catatan sejarah, Sarwo Edhie Wibowo. Namanya tak asing lagi di Tanah Air. Selain jejaknya yang luar biasa di bidang militer, Sarwo Edhie Wibowo juga dikenal sebagai ayah mertua langsung dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sekaligus kakek dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Jauh sebelum berkarir menjadi politikus serta tentara, Sarwo diketahui lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada tahun 1925 dari pasangan suami istri Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini. Masa kecilnya pun dipenuhi dengan situasi perjuangan kemerdekaan RI yang masih memanas.

Sehingga, gambaran perjuangan dan kerja keras telah diperoleh Sarwo sejak kecil. Dia pun tumbuh menjadi manusia dewasa yang tegas dan disiplin dalam menjalani berbagai aktivitas sehari-hari.

Saat anak-anak, dia bahkan telah memiliki ketertarikan soal bela diri dan suka belajar silat. Dia juga disebut sangat kagum dengan tentara Jepang dan mulai melirik kesempatan sebagai tentara kala itu.

Perjuangannya pun dimulai saat Sarwo remaja dengan tekad kuatnya mendaftar sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA). Sementara pada saat RI telah merdeka, dia menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebelum akhirnya berubah nama institusi sebagai ABRI dan kini TNI.

Lantaran memiliki kemampuan berstatregi dan tegas, dia kemudian didapuk menjadi Komandan Batalion di Divisi Diponegoro 1945. Karirnya terus melesat saat dia akhirnya menjadi Komandan Resimen Divisi Diponegero 1951, Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional 1959, Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) 1962, serta Komandan RPKAD 1964 yang jadi cikal bakal Kopassus di masa kini.

Tumpas Bersih G30S/PKI

Hingga saat peristiwa G30S/PKI, Sarwo yang kala itu menjabat sebagai Komandan RPKAD langsung bergerak ketika dia mendapat kabar mengenai tewasnya sang sahabat, Ahmad Yani beserta sejumlah jenderal lainnya.

Dia segera menggerakkan pasukan RPKAD dari Cijantung menuju Jakarta dengan perintah Soeharto yang berpangkat Mayor Jenderal dengan jabatan Panglima Kostrad. Dengan dedikasi tinggi dan profesionalisme, dia memimpin operasi militer dalam menumpas G30S/PKI.

Dia berperan memberi koordinasi dan perintah pasukan dalam merebut sejumlah objek vital di Jakarta seperti RRI, Pusat Telekomunikasi, hingga Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang menjadi basis kelompok G30S sejak tanggal 1-2 Oktober 1965. Tak cuma itu, dia juga mengejar para tokoh yang dianggap memiliki keterlibatan dengan peristiwa G30S/PKI.

Setelah mendapat para target sasaran, dia juga memimpin operasi lanjutan di Jawa Tengah untuk membersihkan negara dari sisa-sisa gerakan PKI dengan tujuan agar tak terjadi insiden serupa di masa mendatang. Beberapa daerah yang menjadi pusat operasi adalah Semarang, Surakarta, Boyolali, dan beberapa lokasi lainnya.

Sarwo Edhie tercatat meninggal dunia pada 9 November 1989 di Jakarta dengan pangkat terakhir sebagai Letnan Jenderal TNI. Beliau dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo.

Kini Bergelar Pahlawan

Hingga pada tahun 2025 lalu di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, Sarwo Edhie Wibowo mendapat anugerah berupa gelar pahlawan nasional. Dalam upacaranya, Sarwo Edhie merupakan nama yang menjadi usulan khusus dari Provinsi Jawa Tengah.

Saat dianugerahi, ahli waris Sarwo Edhie yakni AHY turut hadir di lokasi pada Bulan November 2025 di Istana Negara, Jakarta Pusat.

Kini, nama Sarwo Edhie juga telah diabadikan di sejumlah titik. Di antaranya sebagai nama jalan protokol utama di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Ada juga Namanya yang diabadikan sebagai fasilitas kemiliteran di lingkungan TNI Angkatan Darat, seperti Gedung Sarwo Edhie di kompleks Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Cijantung, Jakarta Timur, untuk mengenang jasa beliau sebagai mantan Komandan RPKAD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *