Warta

Sebelum Gugurnya Prajurit TNI, Netanyahu Perintahkan Perluasan Operasi Militer

catrawarta.com — Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu diketahui memerintahkan perluasan operasi militer di Lebanon selatan, beberapa saat sebelum seorang prajurit TNI...

Prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL untuk menjaga perdamaian di Lebanon Selatan. (tniad.mil.id)

catrawarta.comPerdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu diketahui memerintahkan perluasan operasi militer di Lebanon selatan, beberapa saat sebelum seorang prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL), gugur dalam serangan di kawasan tersebut.

Prajurit TNI yang meninggal dunia akibat serangan Zionis Israel itu bernama Praka Farizal Rhomadhon dari Yonif 113/Jaya Sakti Kodam Iskandar Muda Aceh. Ia gugur aibat serangan artileri di dekat Adchit Al Qusayr, Minggu (29/3/2026). Tiga prajurit TNI lainnya mengalami luka. Praka Farizal sendiri berasal dari Lendah Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melansir laporan Anadolu, dalam pernyataan video yang diunggah di platform X), Netanyahu menegaskan, Israel akan terus melanjutkan serangan hingga tujuan militernya tercapai.

Dia mengatakan, “Israel bertekad untuk secara mendasar mengubah situasi di wilayah utara (Lebanon Selatan).” Ia juga menambahkan, operasi militer di Lebanon akan terus berlangsung, dengan pasukan Israel bertindak secara tegas sampai target terpenuhi.

Sebagai informasi, dalam konflik antara Israel dengan kelompok Hizbullah itu, Zionis menyerang pos UNIFIL di dekat Adchit Al Qusayr pada, Minggu malam. “Seorang penjaga perdamaian tewas secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di pos UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr,” demikian pernyataan UNIFIL.

Namun, hingga kini UNIFIL belum memastikan asal proyektil tersebut. Pasukan perdamaian PBB itu masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Kami tidak mengetahui asal usul proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan untuk menginvestigasi peristiwa ini,” lanjut pernyataan tersebut.

UNIFIL ditempatkan di Lebanon selatan untuk mengawasi konflik di sepanjang garis demarkasi Lebanon dan Israel. Wilayah tersebut kerap menjadi pusat bentrokan antara pasukan militer Israel dengan milisi Hizbullah yang berafiliasi dengan Iran.

Eskalasi sendiri makin meningkat setelah Amerika Serika (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan sejumlah wilayah yang menampung aset militer AS di kawasan tersebut.

Konflik pun meluas ke Lebanon setelah kelompok Hizbullah ikut melancarkan serangan ke sejumlah target militer di Israel. Serangan balasan Israel dilaporkan telah merengut lebih dari 1.000 korban jiwa warga Lebanon dan melukai ribuan lainnya.

Insiden ini juga menelan korban dari kalangan personel UNIFIL dari berbagai negara. Namun, Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya sudah menegaskan keselamatan personel Kontingen Garuda tetap menjadi prioritas.

“Pemerintah Indonesia terus memantau secara dekat perkembangan situasi serta dampaknya terhadap Kontingen Garuda,” kata kementerian tersebut dalam keterangannya baru-baru ini.

MUI Kecam Keras

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras serangan Israel ke Lebanon yang mengakibatkan gugurnya seorang prajurit TNI yang tergabung dalam misi pasukan perdamaian PBB. MUI mendesak pemerintah Indonesia untuk menuntut pertanggungjawaban atas peristiwa ini dengan mengambil langkah diplomatik yang tegas melalui jalur bilateral maupun multilateral.

“Kepada pemerintah Indonesia agar mengambilkan langkah diplomatik yang tegas melalui jalur bilateral maupun multilateral guna menuntut pertanggungjawaban atas insiden ini,” kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim dalam keterangannya,

Selain itu, MUI meminta PBB agar segera melakukan investigasi independen dan menjatuhkan sanksi yang sesuai terhadap pelaku pelanggaran. MUI menyerukan kepada masyarakat internasional untuk tidak bersikap diam terhadap tindakan yang mencederai hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. “Kepada umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan para korban serta memperkuat solidaritas kemanusiaan dan komitmen terhadap perdamaian dunia,” tegasnya.

MUI menegaskan, perdamaian dunia tidak akan terwujud tanpa adanya penghormatan terhadap hukum internasional dan keadilan. Oleh karena itu, MUI menegaskan, segala bentuk pelanggaran harus dihentikan dan ditindak secara tegas demi menjaga stabilitas global dan kemanusiaan. (Berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *