catrawarta.com — Daryono tak asing bagi masyarakat Indonesia terutama yang berada di daerah rawan gempa bumi. Nama tersebut selalu muncul menyampaikan berbagai informasi sesaat setelah terjadi gempa bumi, di mana pun di seluruh Indonesia.
Ya, Dr Daryono merupakan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kabar mundurnya dari jabatan mengagetkan banyak orang. Bahkan ramai di media sosial, ia sengaja ”diminta” mundur oleh pihak tertentu.
Namun bukan begitu penyebab mundurnya Daryono. Ia ternyata menderita sakit kornea mata langka yang mengharuskannya istirahat. Ia menyebut sakitnya sebagai distrofi kornea mata.
”Saat ini saya mengambil cuti untuk perawatan medis sakit mata,” ujar Daryono dalam keterangannya kepada media.
Selain cuti, ia berencana mengajukan pensiun dini karena ingin fokus menjalani pengobatan sakitnya. Ia mengatakan masih tercatat sebagai pegawai BMKG hingga 1 Mei 2026 mendatang.
Tetap Peduli pada Kebencanaan
Daryono mengungkapkan meskipun mundur dari jabatan dan pensiun dini, ia tetap peduli pada kebencanaan. Ia akan menyampaikan berbagai hal tentang kebencanaan melalui kegiatan terutama yang bersifat mengedukasi.
Ia akan memberikan ilmu yang selama ini diperolehnya kepada masyarakat. Pasalnya, Indonesia merupakan negara rawan bencana dan banyak orang perlu edukasi terus menerus. Ia tak bosan-bosannya menyampaikan kabar dan informasi yang mengedukasi.
”Saya akan terus komitmen pada ilmu kebencanaan dan menyampaikan berbagai hal terutama edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.
Distrofi Kornea Mata
Sakit yang menimpa Daryono ternyata bukan sembarangan. Karena itu ia harus menjalani pengobatan medis. Ia menyebut sakitnya sebagai distrofi kornea mata. Lantas, apa itu distrofi kornea?
Sejumlah sumber menyebutkan, distrofi kornea mata termasuk penyakit langka. Korneanya dipenuhi zat abnormal yang dapat mengganggu penglihatan dan mengakibatkan rasa sakit berkepanjangan.
Penyebabnya karena faktor genetika atau keturunan. Bukan karena infeksi atau peradangan biasa. Sehingga memerlukan penanganan medis khusus. Jenis distrofi ada beberapa macam dan Tindakan penanganan bisa operasi transplantasi kalau benar-benar parah.

Bukan Sekadar Juara Dunia, Mahasiswa UI Ini Mendesain Kebebasan Berlari bagi Penyandang Tunanetra 