catrawarta.com — Di banyak lintasan lari, kebebasan adalah hak yang nyaris tak dipikirkan. Orang berlari untuk sehat, untuk ambisi, atau sekadar menaklukkan diri sendiri. Namun bagi penyandang tunanetra, lintasan kerap berubah menjadi ruang penuh risiko. Ketergantungan pada pendamping menjadi keniscayaan. Kebebasan bergerak, sesuatu yang dianggap sederhana, berubah menjadi privilese.
Dari kegelisahan itulah, sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia merancang sesuatu yang lebih dari sekadar perangkat teknologi. Mereka menamainya RunSight—sebuah wearable berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan pelari tunanetra berlari secara mandiri, aman dan percaya diri.
Proyek ini dikembangkan oleh Tim Labmino UI dan mengantarkan Indonesia meraih pengakuan global dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT). Tim ini tak hanya masuk jajaran terbaik dunia, tetapi juga dinobatkan sebagai Global Ambassador, sebuah capaian yang untuk pertama kalinya diraih oleh tim dari Indonesia.
Namun bagi mereka, gelar bukanlah inti cerita.
Teknologi yang Berpihak
RunSight dirancang bukan untuk memamerkan kecanggihan, melainkan menjawab kebutuhan konkret. Perangkat ini bekerja dengan sistem sensor dan algoritma pintar yang memetakan rintangan di depan pengguna, lalu menerjemahkannya dalam panduan suara secara real-time. Dengan begitu, pelari tunanetra dapat menentukan arah, menghindari hambatan, dan menjaga ritme tanpa harus selalu bergantung pada pemandu.
Di sinilah letak pembeda inovasi ini. Di tengah derasnya perlombaan menciptakan teknologi yang serba cepat dan serba pintar, RunSight justru memusatkan perhatian pada akses dan keberpihakan. Teknologi tidak lagi netral; ia diposisikan sebagai alat pembebasan.
“Bagi kami, yang paling penting bukan sekadar lolos seleksi atau meraih gelar, tetapi bagaimana teknologi ini benar-benar bisa digunakan dan dirasakan manfaatnya,” ungkap salah satu anggota tim dalam keterangan resmi.
Dari Kampus ke Panggung Dunia
Perjalanan menuju panggung global tidak berlangsung instan. Tim Labmino harus melalui tahapan panjang: validasi ide, pengujian prototipe, hingga penyempurnaan desain agar tetap ringan, hemat daya, dan ergonomis ketika dipakai berlari. Tantangan teknis kerap muncul—mulai dari akurasi deteksi rintangan hingga stabilitas sistem di ruang terbuka.
Kompetisi Samsung ini mempertemukan inovator muda dari berbagai negara dengan latar belakang persoalan sosial yang berbeda. Di forum itulah RunSight diuji—bukan hanya oleh juri, tetapi oleh standar global tentang keberlanjutan, dampak sosial, dan skalabilitas.
Pengakuan sebagai Global Ambassador menjadi simbol bahwa gagasan yang lahir dari kampus di Depok mampu berdiri sejajar dengan inovasi dari negara-negara maju.
Lebih dari Prestasi Nasional
Kisah ini dengan mudah dapat dibingkai sebagai kebanggaan nasional. Indonesia kembali “mencetak sejarah”. Mahasiswa UI “mengharumkan nama bangsa”. Tetapi narasi seperti itu sering kali berhenti pada euforia.
Yang lebih penting justru terletak pada pesan yang dibawa RunSight: bahwa inovasi terbaik tidak selalu lahir dari ambisi menjadi yang paling canggih, melainkan dari keberanian melihat kelompok yang selama ini kurang diperhatikan.
Di Indonesia, akses olahraga bagi penyandang disabilitas masih menghadapi banyak keterbatasan—mulai dari fasilitas hingga dukungan teknologi. RunSight membuka kemungkinan baru: bahwa inklusivitas tidak harus menunggu kebijakan besar; ia bisa dimulai dari ruang kelas, dari diskusi mahasiswa, dari keberanian bertanya, “Mengapa mereka belum bisa?”
Mendesain Kebebasan
Pada akhirnya, yang sedang dirancang oleh mahasiswa UI ini bukan sekadar alat bantu lari. Mereka sedang mendesain ulang makna kebebasan bergerak. Di lintasan, setiap langkah adalah keputusan. Bagi pelari tunanetra, setiap langkah juga tentang kepercayaan.
Jika teknologi mampu mengembalikan rasa percaya itu—mengurangi ketakutan, membuka ruang mandiri—maka ia telah melampaui fungsinya sebagai perangkat.
RunSight mungkin lahir dari sebuah kompetisi global. Tetapi dampaknya berpotensi jauh lebih luas dari sekadar panggung penghargaan. Ia adalah pengingat bahwa di balik gelar juara dunia, ada misi yang lebih sunyi: memastikan bahwa kebebasan berlari bukan hak segelintir orang, melainkan milik semua.

Menkomdigi Siapkan 302 Talenta Digital, Wajib Kuasai AI 