catrawarta.com — Periode libur panjang di bulan Mei mendorong peningkatan aktivitas perjalanan masyarakat Indonesia, baik domestik maupun internasional. Bandara yang lebih padat, antrean check-in yang mengular serta jadwal penerbangan yang lebih dinamis menjadi gambaran umum pada periode ini.
Di tengah tingginya mobilitas tersebut, berbagai risiko perjalanan seperti keterlambatan penerbangan hingga kehilangan bagasi turut meningkat. Bagi traveler, kondisi ini dapat membuat perjalanan yang seharusnya menjadi momen menyenangkan dan rehat sejenak dari padatnya aktivitas justru diwarnai dengan ketidakpastian.
Pada periode peak season, misalnya, gangguan operasional seperti flight delay dan mishandled baggage menjadi salah satu isu yang paling sering terjadi di bandara dengan trafik tinggi. Tidak jarang traveler harus menghadapi keterlambatan berjam-jam atau tiba di destinasi tanpa bagasi, sehingga mengganggu keseluruhan rencana perjalanan.
Meski sering dikaitkan dengan periode libur panjang, gangguan perjalanan sejatinya dapat terjadi kapan saja. Data internal Allianz Indonesia dalam satu tahun terakhir menunjukkan, keterlambatan penerbangan, kehilangan bagasi dan kerusakan bagasi menjadi risiko yang paling sering dialami traveler. Adapun keterlambatan penerbangan menyumbang 57%, kehilangan bagasi dan kerusakan bagasi 20% serta biaya medis dan/atau biaya terkait medis di luar negeri akibat sakit atau kecelakaan 11% dari total klaim perjalanan dalam periode tersebut.
“Lonjakan perjalanan pada periode libur panjang bukan sekadar tren musiman, tetapi mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mobile. Namun di balik itu, risiko perjalanan juga menjadi semakin kompleks dan tidak bisa lagi dianggap sebagai hal sepele. Data kami menunjukkan bahwa gangguan seperti keterlambatan penerbangan dan masalah bagasi masih mendominasi. Ini menjadi pengingat bahwa perencanaan perjalanan yang baik perlu dilengkapi perlindungan perjalanan sejak awal,” ujar Ignatius Hendrawan, Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia dalam keterangan persnya, belum lama ini
Antisipasi Kemungkinan Gangguan
Di tengah meningkatnya minat traveling, terutama di kalangan usia produktif, tingkat kesiapan terhadap risiko perjalanan masih belum sepenuhnya sejalan. Banyak traveler telah merencanakan itinerary secara detail, namun belum mengantisipasi kemungkinan gangguan yang dapat terjadi selama perjalanan.
Perlindungan perjalanan menjadi salah satu aspek yang mulai dipertimbangkan oleh traveler. Untuk itu proteksi perjalanan bukan hanya menjadi opsi tambahan, tetapi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap rencana perjalanan.
“Kesiapan menghadapi risiko akan memberikan peace of mind dan pengalaman perjalanan yang menyenangkan, sehingga tujuan traveling tercapai,” kata Ignatius Hendrawan

Jamu, Warisan Leluhur yang Tetap Relevan di Tengah Gaya Hidup Modern 