Catra Budaya, Warta

Nyekar – Merawat Ingatan – Menyambung Doa

catrawarta.com — Terik matahari menyengat nisan dan dedaunan pohon kamboja. Langkah-langkah pelan telapak kaki  memasuki kompleks pemakaman kampung. Jalan setapak di sela...

Nyekar (ziarah kubur) Hari Raya Idhul Fitri di Makam Santen Kotagede Yogyakarta merupakan tradisi melekat di masyarakat. Foto: M. Dhiyaul Haq

catrawarta.comTerik matahari menyengat nisan dan dedaunan pohon kamboja. Langkah-langkah pelan telapak kaki  memasuki kompleks pemakaman kampung. Jalan setapak di sela nisan makam nan rindang. Tanahnya mengeluarkan aroma bunga kamboja  yang berpadu dengan wangi bunga setaman. Di antara deretan nisan, Moch Ali dan sekeluarga berjalan menuju pusara leluhur. Mereka ada yang membawa sapu lidi dan sebungkus bunga.

Mereka berhenti di sebuah makam sederhana. Tanpa banyak kata, mereka mulai bekerja. Ada yang menyapu daun kering, merapikan rumput liar, lalu menyiramkan air perlahan. Sesekali  menatap batu nisan itu lama, seakan sedang membaca kembali kenangan yang tak tertulis. “Setiap nyekar, rasanya seperti pulang. Seperti ketemu orang tua, bapak ibu. Seolah  pulang ke rumah,” ujar Moch Ali  di sela ziarah di Makam Santen Kotagede Yogyakarta, Jumat (20/3/2026). 

Menjelang atau selepas sholat  Idul Fitri, tradisi ziarah kubur atau nyekar menjadi pemandangan yang akrab. Orang-orang datang dari berbagai tempat, membawa rindu yang tak selalu terucap. Mereka tidak hanya membersihkan makam, tetapi juga merawat hubungan yang telah berubah bentuk—dari kehadiran menjadi kenangan.

Di sudut lain, Dimas duduk bersila di samping makam ayahnya. Tasbih berputar perlahan di jemarinya, sementara bibirnya komat-kamit melafalkan doa. Angin pagi menyapu pelan wajahnya, seolah ikut membawa pesan yang tak kasatmata. “Dulu saya sering diajak ke sini. Dikenalkan dengan simbah oleh bapak. Sekarang saya datang bersama adik-adik, keponakan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan perjalanan panjang tentang kehilangan dan penerimaan. Bagi Moch Ali, nyekar bukan sekadar tradisi tahunan. Ziarah  adalah sarana untuk berdialog, meski tanpa jawaban. Tempat untuk menumpahkan rindu, meski hanya pada tanah yang diam.

Di sekitar mereka, suasana serupa terulang. Keluarga-keluarga datang dengan cara masing-masing. Ada yang membawa anak kecil, mengenalkan sejak dini arti menghormati leluhur. Ada pula yang datang sendiri, tenggelam dalam keheningan yang justru terasa menenangkan.

Menurut Prof. Dr. Mochamad Sodik S. Sos., M. Si, sosiolog Islam dari Universitas Islam Negeri  Sunan Kalijaga Yogyakarta, nyekar adalah pertemuan antara ajaran agama dan budaya. Ziarah kubur dalam Islam mengajarkan manusia untuk mengingat kematian dan mendoakan yang telah wafat. Sementara dalam tradisi Jawa, nyekar adalah bentuk penghormatan kepada leluhur—cara halus untuk menjaga hubungan lintas generasi.

Menjelang Idul Fitri, makna itu terasa semakin kuat. Hari raya bukan hanya tentang saling memaafkan dengan yang hidup, tetapi juga mengingat mereka yang telah lebih dulu pergi. Dalam diam makam, manusia diajak untuk kembali—pada asal-usul, pada kasih sayang yang pernah tumbuh, pada nilai-nilai yang diwariskan.

Tak jauh dari gerbang pemakaman, Mbah Chambali menggelar dagangan bunga setaman. Tangannya cekatan merangkai mawar, kenanga, dan melati dalam bungkusan kecil. Baginya, nyekar bukan hanya tradisi spiritual, tetapi juga berkah ekonomi.

“Kalau akhir dan Lebaran, pembeli ramai. Alhamdulillah, dari sini bisa menambah penghasilan,” ujarnya di Makam umum,” ujarnya. 

Tradisi ini, diam-diam, menghidupkan banyak sisi kehidupan. Ia menggerakkan ekonomi kecil, mempertemukan keluarga, dan membuka ruang refleksi yang jarang ditemui di hari-hari biasa.

Seiring waktu, dunia memang berubah. Teknologi mendekatkan yang jauh, tetapi seringkali menjauhkan yang dekat. Namun nyekar tetap bertahan—sederhana, sunyi, dan jujur. Ia tidak membutuhkan sinyal atau layar, hanya langkah kaki dan niat untuk mengingat.

Menjelang siang, satu per satu peziarah mulai beranjak pulang. Sumarni berdiri perlahan, menatap sekali lagi makam yang baru saja ia bersihkan. Ia merapikan kerudungnya, lalu menarik napas panjang. “Lebaran itu bukan cuma ketemu yang hidup. “Tapi juga mengingat yang sudah tidak ada.”

Di antara sepi makam dan taburan bunga, nyekar mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam. bahwa cinta tidak berhenti pada kematian. Ia tetap hidup dalam doa, dalam ingatan, dan dalam langkah-langkah yang selalu kembali—setiap kali manusia ingin pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *