catrawarta.com — Kenaikan suku di bumi melampaui ambang batas yakni 1,5 derajat Celcius. Kenaikan terus terjadi dan selama 11 tahun ini tercatat sebagai periode terpanas sepanjang sejarah dunia.
Kerusakan demi kerusakan alam terus terjadi. Bumi sudah memberi tanda-tanda peringatan dan terlihat nyata di seluruh dunia. Kerusakan yang terjadi jauh melampaui sekadar kenaikan suhu bumi. Udara yang tercemar hingga kerusakan lahan, rusaknya ekosistem, serta hilangnya keanekaragaman hayati.
Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres menyampaikan hal itu bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni 2026. Pada laman resmi indonesia.un.org, ia menyatakan kerusakan alam mengancam kesehatan, menghancurkan tempat tinggal, dan memperparah krisis kelaparan.
”Dunia kini dalam proses menuju lonjakan suhu sementara yang melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius. Setiap peningkatan suhu, sekecil apa pun, akan membawa dampak buruk yang lebih besar terutama bagi mereka yang paling rentan,” papar Antonio dalam pernyataan tertulisnya.
Kembalikan Suhu Aman
Ia menekankan, tugas seluruh warga bumi memastikan agar lonjakan suhu tersebut sekecil mungkin, berlangsung sesingkat mungkin, dan seaman mungkin. Selain itu, segera mengembalikan suhu bumi ke tingkat yang aman bagi kehidupan. Hal itu berarti semua pihak harus menurunkan emisi secara signifikan.
Menurut Antonio, mempercepat peralihan yang adil dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan merupakan satu-satunya jalan yang berkelanjutan untuk menekan biaya dan mencapai ketahanan energi yang nyata.
Langkah lain, mengurangi emisi gas metana juga salah satu cara tercepat dan termurah untuk membatasi pemanasan global dalam jangka pendek. Ini akan melindungi kelestarian hutan, lahan, dan lautan.
Semua warga bumi hendaknya membantu masyarakat beradaptasi terhadap dampak buruk yang telah terjadi saat ini. Artinya, jelas Antonio, memenuhi janji pendanaan iklim kepada negara-negara berkembang untuk menyelamatkan nyawa, melindungi mata pencaharian, dan memperkuat perekonomian.
UGM Tanam Pohon
Sementara itu UGM bersama PT Pamapersada Nusantara menggelar kegiatan bertajuk “Rooting for Future: Penanaman Pohon Bersama Hari Lingkungan Hidup PAMA–UGM–IKN Eco Edu Forest” di Wanagama Nusantara, Ibu Kota Nusantara (IKN).
Penanaman pohon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), jajaran Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, jajaran PT Pamapersada Nusantara, serta Rektor UGM.
Pada kegiatan itu, menurut rilis UGM, sejumlah bibit tanaman ditanam sebagai wujud komitmen bersama untuk mendukung penguatan ekosistem asli Kalimantan, pemulihan tutupan vegetasi, serta pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kehadiran spesies-spesies tersebut dapat memperkaya keanekaragaman hayati sekaligus mendukung terbentuknya ekosistem yang lebih resilien dan berkelanjutan di kawasan IKN.

Sekolah Rakyat, Bukti Nyata Pemerintah Bantu Masyarakat Miskin di Bidang Pendidikan 