catrawarta.com — Konflik Palestina – Israel terus menjadi perhatian dunia. Persoalan di sana tak hanya konflik politik, tetapi juga menyangkut kemanusiaan dan masa depan generasi.Di tengah situasi tersebut, pendidikan dan diplomasi akademik menjadi jalur strategis untuk membangun perdamaian yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Muhammadiyah melalui Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memandang isu Palestina sebagai tanggung jawab moral dan kemanusiaan. Akademisi perlu merespons melalui pendekatan akademik dan kelembagaan.
Karena itu, sebagai bentuk komitmen perdamaian, UMY menggelar Strategic Meeting and Soft Launching of Palestine Center for Global Peace di Gedung AR Fachruddin A Lantai 5 UMY. Kampus berupaya membangun pusat kajian dan jejaring global yang berfokus pada isu perdamaian, keadilan, serta penguatan solidaritas internasional.
Membangun Keadilan Sosial
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Syamsul Anwar menyampaikan perspektif Muhammadiyah mengenai dakwah dan perdamaian. Ia menegaskan bahwa dakwah Islam tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun keadilan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia menegaskan Muhammadiyah mendefinisikan dirinya sebagai gerakan dakwah Islam yang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Karena itu, dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi diwujudkan melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang menjawab persoalan umat.
Presiden Universitas Al-Quds, Palestina, Prof Imad Abu Kishek, mengungkapkan sangat terkesan dengan kesinambungan sistem serta luasnya layanan yang dikembangkan Muhammadiyah dalam melayani masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan dakwah Islam dapat diwujudkan dalam bentuk institusi yang kuat, profesional, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Menjawab Tantangan Umat
”Model yang dikembangkan Muhammadiyah sangat relevan untuk menjawab tantangan umat di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina. Karena itu, kami ingin membangun jembatan antara Indonesia dan Yerusalem melalui pendidikan. Tidak ideal jika mahasiswa mengenal Eropa, tetapi tidak mengenal saudara-saudaranya di dunia Islam,” papar Imad.
Ia menyampaikan rencana penguatan kerja sama jangka panjang melalui pendirian wakaf pendidikan sebagai bentuk dukungan berkelanjutan bagi Universitas Al-Quds dan pengembangan sumber daya manusia Palestina.
Menurutnya wakaf merupakan instrumen penting untuk menjaga kesinambungan hubungan. Pihaknya telah membangun wakaf di beberapa negara dan berharap dapat melakukan hal yang sama dengan Indonesia.
”Hasilnya akan digunakan untuk mendukung mahasiswa, riset, serta keberlanjutan institusi pendidikan kami,” imbuh Imad.

Pleret dan Kebesaran Keraton Mataram Islam 