Warta

“Maskot Barata” – Dari Perlawanan Menuju Konsolidasi Politik 

catrawarta.com — Peluncuran maskot baru PDI Perjuangan bernama Barata pada peringatan HUT ke-53 partai bukan sekadar pengenalan identitas visual. Di balik tampilannya...

Maskot Barata

catrawarta.comPeluncuran maskot baru PDI Perjuangan bernama Barata pada peringatan HUT ke-53 partai bukan sekadar pengenalan identitas visual. Di balik tampilannya yang lebih kasual dan modern, tersimpan pesan politik tentang arah, reposisi, sekaligus cara partai memaknai relasinya dengan rakyat ke depan.

PDI Perjuangan sejak lama dikenal sebagai partai dengan simbol banteng yang kuat, keras, dan konfrontatif. Logo lama dengan mata merah merepresentasikan fase perjuangan yang penuh tekanan. Banteng kala itu adalah simbol resistensi, perlawanan terhadap represi politik, oligarki kekuasaan, dan ketidakadilan struktural.

Barata hadir dengan wajah berbeda. Hoodie merah, kepalan tangan ke depan, dan mata putih dengan bola mata hitam memberi kesan lebih tenang, reflektif, dan adaptif. Ini bukan banteng yang sekadar menyeruduk, melainkan banteng yang sadar arah dan strategi. Perubahan visual ini mencerminkan pergeseran pendekatan politik. Dari politik perlawanan menuju politik konsolidasi dan keberlanjutan.

Penjelasan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, Prananda Prabowo, memperkuat tafsir tersebut. Barata adalah hasil proses ideologis yang panjang, melibatkan partisipasi publik melalui sayembara nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa partai ingin tampil lebih inklusif dan partisipatoris -setidaknya pada level simbolik.

Dalam kacamata politik komunikasi, maskot bukan sekadar ornamen. Ia adalah alat narasi. Barata diposisikan sebagai “energi dari rakyat”, sebuah metafora yang hendak menegaskan bahwa sumber legitimasi PDI Perjuangan tetap berada di basis massa. Pada saat yang sama, narasi energi juga menyiratkan kebutuhan untuk menjaga daya hidup partai di tengah tantangan zaman dengan adanya kejenuhan publik, disrupsi digital, dan perubahan karakter pemilih.

Pernyataan Koordinator Media Pintar Perjuangan (MPP), Henky, tentang Barata sebagai gerakan inklusif dan pemberdayaan, menguatkan makan Barata. Maskot ini bukan hanya ditujukan untuk loyalis lama, tetapi juga untuk menjangkau generasi baru yang lebih cair secara ideologis, lebih visual, dan lebih responsif terhadap simbol ketimbang jargon politik klasik.

Perbedaan paling penting antara maskot lama dan Barata terletak pada orientasi waktunya. Maskot lama menoleh ke masa lalu dimana perjuangan dilakukan dengan heroik, keras, dan penuh konflik. Barata menatap ke depan, pada stabilitas, kolaborasi, dan relevansi. Ini sekaligus menandai upaya PDI Perjuangan menjaga kesinambungan kekuasaan tanpa kehilangan klaim sebagai “partai rakyat”.

Apakah simbol ini akan efektif? Itu bergantung pada konsistensi antara narasi dan praktik politik. Barata bisa menjadi simbol harapan, tetapi juga berpotensi menjadi sekadar kosmetik jika tidak diikuti kebijakan nyata yang berpihak pada rakyat kecil. Dalam politik, simbol hanya akan hidup jika disokong tindakan.

Pada titik ini, Barata adalah pernyataan niat. Ia menandai bagaimana PDI Perjuangan ingin dibaca sebagai partai yang tetap berakar pada rakyat, namun lebih lentur menghadapi masa depan. Apakah niat itu akan menjelma menjadi realitas politik, waktu dan publik yang akan mengujinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *