Catra Budaya, Warta

“Janur, Dapur, dan Lebaran”

catrawarta.com — Fajar bahkan belum benar-benar merekah ketika jemari-jemari cekatan mulai menautkan helai-helai janur, merangkai bentuk yang kelak sarat makna. Di sebuah...

Ilustrasi Janur Dapur dan Lebaran

catrawarta.comFajar bahkan belum benar-benar merekah ketika jemari-jemari cekatan mulai menautkan helai-helai janur, merangkai bentuk yang kelak sarat makna. Di sebuah rumah sederhana di sudut Yogyakarta, dapur telah lebih dulu “terjaga”—menghidupkan suasana dengan semerbak santan hangat yang berpadu lembut dengan aroma serai dan daun salam. Di ruang itulah, Lebaran tidak sekadar datang sebagai perayaan, melainkan dihadirkan dengan rasa, dirawat dengan cinta, dan dihidupkan dalam setiap proses yang sederhana namun penuh makna.

Khodijah (54), ibu rumah tangga, duduk bersila di dekat tumpukan janur. Jemarinya lincah membentuk anyaman ketupat, sebuah keterampilan yang diwariskan turun-temurun. “Ini bukan sekadar masak. Ini soal menjaga warisan,” ujarnya pelan. 

Ketupat, opor ayam, dan rendang bukan hanya hidangan khas. Di baliknya, tersimpan cerita panjang tentang kesabaran, kebersamaan, dan makna berbagi. Bagi Khodijah, proses memasak justru lebih sakral dibandingkan saat menyantapnya. “Dari malam takbiran kami sudah mulai. Anak-anak membantu, meski kadang sambil bercanda. Tapi di situ hangatnya terasa,”  ujarnya. 

Di sudut dapur lain, panci besar berisi opor ayam mendidih perlahan. Santan yang kental berpadu dengan bumbu kuning menciptakan aroma yang begitu khas. Sementara itu, rendang dimasak dengan penuh kesabaran, diaduk berulang selama berjam-jam hingga bumbu meresap sempurna.

Pengasuh PP Nurul Ummahat KH Abdul Muhaimin menjelaskan, tradisi memasak hidangan Lebaran memiliki akar filosofi yang dalam. “Ketupat itu berasal dari kata ‘ngaku lepat’, artinya mengakui kesalahan. Sementara proses memasak seperti rendang mengajarkan ketekunan dan kesabaran.”

Dalam perbincangan khusus, Abdul Muhaimin menambahkan, tradisi ini juga menjadi sarana edukasi keluarga. Anak-anak belajar nilai gotong royong, menghargai proses, dan memahami makna berbagi sejak dini. “Di dapur, nilai-nilai itu ditanamkan tanpa terasa,” ujarnya.

Menjelang siang, suasana rumah semakin riuh. Meja mulai ditata. Ketupat yang sudah matang digantung rapi, opor ayam disajikan dalam mangkuk besar, dan rendang berwarna cokelat pekat menjadi primadona di tengah hidangan.

Tak ketinggalan, toples-toples kue kering berjajar manis. Nastar, kastengel, dan putri salju seolah menjadi pelengkap wajib. Bagi banyak keluarga, menyajikan kue kering adalah simbol keterbukaan—bahwa siapa pun tamu yang datang akan disambut dengan tangan terbuka.

“Kalau Lebaran, rumah harus siap untuk siapa saja. Entah keluarga, tetangga, atau tamu tak terduga,” kata Khodijah sambil tersenyum

Inilah yang namanya “berbagi”. Makna  Lebaran  yang sesungguhnya.  Sederhana namun mendalam. Hidangan yang disiapkan bukan hanya untuk keluarga inti, tetapi juga untuk tetangga, kerabat, bahkan mereka yang membutuhkan.

Seorang tetangga, Ahmad Fauzi (38), mengaku selalu menunggu momen ini. “Bukan cuma makanannya, Tapi suasananya. Kita saling berkunjung, saling memaafkan. Itu yang tidak bisa digantikan.”

Tradisi ini, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus besar dan mewah. Justru dari dapur sederhana, nilai-nilai kemanusiaan tumbuh subur.

Namun di tengah modernitas, tantangan mulai terasa. Banyak keluarga kini memilih cara instan—membeli ketupat jadi, opor siap saji, atau bahkan memesan katering. Praktis, memang. Tapi perlahan menggerus ruang kebersamaan di dapur.

Khadijah tidak menyalahkan perubahan itu. “Zaman memang berubah. Tapi kalau bisa, jangan hilang semuanya. Minimal anak-anak tahu cara membuat ketupat.”

Menjaga tradisi bukan soal menolak modernitas, melainkan merawat esensi. Dapur adalah ruang memori, tempat di mana cinta diracik bersama bumbu dan waktu.

Menjelang sore, suara takbir kembali menggema. Ketupat-ketupat matang siap dipotong, opor dan rendang siap disajikan. Rumah itu kini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang perjumpaan.

Di setiap suapan, ada cerita. Di setiap hidangan, ada makna. Dan di balik semua itu, ada tangan-tangan yang bekerja dengan cinta—menganyam bukan hanya janur, tetapi juga kenangan yang akan terus hidup dari satu Lebaran ke Lebaran berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *