catrawarta.com — Kecelakaan kereta api Argo Bro Anggrek yang menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu memakan korban jiwa 16 orang. Semuanya merupakan penumpang KRL yang berada di gerbong perempuan.
Saat ini sedang berlangsung investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Lembaga tersebut sejak kejadian sudah langsung terjun ke lokasi kejadian.
Pakar perkeretaapian UMY, Prof Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi mengungkapkan pentingnya menunggu hasil investigasi resmi sebelum menarik kesimpulan. Ia minta berbagai spekulasi yang berkembang di ruang publik sebaiknya tidak menjadi dasar penilaian.
”Investigasi dari KNKT menjadi kunci untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara objektif dan komprehensif,” ujar Sri Atmaja.
Punya Landasan Kuat
Ia memaparkan, dalam perspektif keselamatan perkeretaapian, sistem di Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan kuat melalui Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP) yang berbasis manajemen risiko dan perbaikan berkelanjutan.
Regulasi tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 serta standar internasional seperti ISO 45001 dan ISO 31000.
Namun demikian, insiden di Bekasi Timur menjadi refleksi penting terkait implementasi sistem di lapangan. Ia menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap berbagai aspek, mulai dari sistem persinyalan, komunikasi, kondisi jalur, hingga kepatuhan terhadap prosedur operasional oleh petugas.
”Keselamatan tidak bisa dilihat secara parsial. Ini adalah satu kesatuan sistem yang melibatkan prasarana, sarana, manusia, prosedur, hingga lingkungan eksternal,” tandas Sri Atmaja.
Pendekatan Berbasis Pencegahan
Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis pencegahan (prevention-oriented), bukan sekadar respons reaktif setelah kecelakaan terjadi. Pendekatan mencakup inspeksi rutin, penerapan sistem deteksi dini, serta penguatan sistem fail-safe yang mampu mencegah kegagalan berujung kecelakaan.
Selain itu, kepadatan jalur kereta di wilayah Jabodetabek dengan headway yang semakin pendek turut menjadi tantangan tersendiri. Kompleksitas ini menuntut sistem keselamatan yang lebih adaptif dan presisi.
”Hasil investigasi nantinya harus mampu mengungkap akar permasalahan (root cause analysis), apakah disebabkan oleh faktor teknis, manusia, atau kegagalan sistemik yang saling berkaitan. Setiap kegagalan kecil dalam sistem keselamatan tidak boleh dianggap sepele, karena dapat memicu kegagalan yang lebih besar,” jelasnya.

Jogja Darurat Kejahatan Anak, Perlu Pembentukan Satgas Khusus 