catrawarta.com — Desember selalu datang dengan dua wajah, perayaan dan pengeluaran. Di Kota Yogyakarta, wajah itu tercermin jelas dalam angka inflasi Desember 2025 yang mencapai 0,53 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat, angka ini sedikit lebih tinggi dibanding Desember 2024 yang berada di 0,48 persen.
Angka boleh terlihat kecil di atas kertas, tetapi bagi warga kota—terutama generasi muda yang hidup dari gaji bulanan, uang saku, atau penghasilan kreatif—inflasi adalah cerita tentang dompet yang terasa lebih cepat menipis.
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menjelaskan bahwa tekanan inflasi secara bulanan paling besar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan andil mencapai 0,35 persen. Artinya, kebutuhan paling dasar justru menjadi faktor utama kenaikan harga.
“Ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga, khususnya pangan, masih menjadi penentu utama inflasi,” ujar Joko, Sabtu (10/1/2026).
Tak berhenti di situ, inflasi juga didorong oleh perawatan pribadi dan jasa dengan andil 0,1 persen, disusul transportasi sebesar 0,06 persen, serta pakaian dan alas kaki di angka 0,01 persen. Kombinasi ini menggambarkan satu hal, akhir tahun adalah momen belanja, dari dapur hingga gaya hidup.
Jika ditarik ke level komoditas, cerita inflasi menjadi lebih konkret. Cabai rawit kembali menjadi “langganan” penyumbang inflasi tertinggi dengan andil 0,1 persen. Disusul emas perhiasan sebesar 0,09 persen, sebuah sinyal bahwa selain konsumsi harian, masyarakat juga aktif berinvestasi atau membeli aset aman di penghujung tahun.
Sementara itu, bensin dan daging ayam ras masing-masing menyumbang 0,05 persen, memperlihatkan tekanan simultan antara mobilitas dan konsumsi protein. Komoditas lain seperti cabai merah dan bawang merah menyumbang 0,03 persen, disusul telur ayam ras, jeruk, dan semangka di kisaran 0,02 persen, serta tomat dengan andil 0,01 persen.
Namun, tidak semua harga bergerak naik. Ada pula komoditas yang justru menahan laju inflasi. Kacang panjang, bayam, buncis, dan mentimun tercatat sebagai penghambat inflasi, memberi sedikit ruang napas di tengah tekanan harga.
Bagi Gen Z, inflasi bukan sekadar grafik ekonomi. Ia hadir dalam harga seporsi ayam geprek, ongkos bensin, atau belanja sayur harian. Angka 0,53 persen mungkin terdengar akademis, tetapi dampaknya nyata: pilihan belanja jadi lebih selektif, gaya hidup lebih adaptif.
Akhirnya, inflasi Desember 2025 bukan hanya penutup tahun dalam statistik, melainkan cermin dinamika hidup kota. Di Yogyakarta, kota yang dikenal hemat dan bersahaja, inflasi mengingatkan bahwa keseimbangan antara kebutuhan, keinginan, dan daya beli selalu menjadi pekerjaan rumah—terutama saat kalender berganti tahun.

Ratusan Siswa Grobogan Keracunan, Perlu Perketat Pengawasan MBG 