catrawarta.com — Kasus keracunan MBG Kembali terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Mereka merupakan anak-anak SD, SMP dan SMK. Seluruh siswa kini dalam perawatan medis.
Keracunan terjadi di Kecamatan Gubug. Siswa yang mengalami keracunan yakni PAUD Ngroto, SD Trisari, SD Penadaran dan SD Glapan. Sebagian merupakan siswa SMP dan SMK. Selain itu ada pula sejumlah santri setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Djatmiko menjelaskan total siswa yang tercatat keracunan sebanyak 658. Mereka langsung mendapatkan perawatan dan sudah menjalani rawat jalan.
Kejadian tersebut sudah berlangsung beberapa hari lalu, tepatnya Jumat (9/1/2026), setelah memperoleh jatah MBG dari SPPG yang ada di Kuwaron. Tak berapa lama menyantap makanan, mereka mengalami gejala mual, mulas dan muntah-muntah.
Masih Ada yang Dirawat
”Saat ini masih ada yang dalam perawatan, jumlahnya 79 orang. Mereka berada di sejumlah fasilitas Kesehatan. Beberapa di puskesmas dan lainnya di RS Ki Ageng Getas Pendowo serta RS Soedjati,” ungkap Djatmiko.
Pihaknya terus melakukan pemantauan meskipun semua sudah tertangani. Ia menyatakan tidak menutup kemungkinan data berubah karena ada penambahan atau pengurangan yang sudah membaik.
Selain penanganan korban, Dinas Kesehatan juga mengambil sampel makanan untuk penelitian lebih lanjut ke laboratorium. Berdasarkan sampel makanan bisa diketahui penyebab pasti keracunan.
Penanganan Keracunan Makanan
Menanggapi berbagai kasus keracunan MBG, Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof Tri Wibawa, menjelaskan perbedaan antara alergi dan keracunan makanan, agar masyarakat dapat mengambil langkah pertolongan pertama.
Menurutnya, keracunan makanan terjadi akibat masuknya kuman atau zat berbahaya dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi. Keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala seperti sakit perut, muntah, dan diare, yang muncul beberapa jam hingga hari setelah mengonsumsi makanan tertentu.
”Sangat penting penanganan pertama yang cepat dan tepat ketika siswa menunjukkan gejala keracunan makanan. Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Langkah paling penting dalam pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi,” jelasnya.
Penderita perlu banyak minum air putih atau cairan dengan suplemen elektrolit. Apabila muntah masih terjadi, minuml sedikit demi sedikit. Jika kondisi memburuk, segera cari pertolongan dari petugas kesehatan.
Ia mengingatkan pentingya pengawasan ketat terhadap seluruh rantai produksi makanan MBG mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi. Setiap tahap proses dapat menjadi titik masuk bagi bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, standar kebersihan harus diterapkan secara optimal.

“Maskot Barata” – Dari Perlawanan Menuju Konsolidasi Politik 