catrawarta.com — Keberadaan Indonesia bagaikan masuk perangkap ketika bergabung dengan Board of Peace. Pasalnya, serangan Israel ke Palestina masih berlangsung dan Amerika Serikat malah melakukan hal yang sama ke Republik Islam Iran.
Seperti diketahui, keberadaan BoP kabarnya untuk menyelesaikan konflik di Palestina. Anehnya, tidak melibatkan Palestina sebagai korban genosida. Penyelesaian bakal berlangsung secara damai. Namun demikian, serangan ke Palestina masih terjadi dan kini ke Iran.
Pakar hubungan internasional, Prof Dafri Agussalim mengungkapkan, setelah masuk BoP, AS dan Israel menyerang Iran yang jelas-jelas membela Palestina. Ini memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan prinsip bebas aktif.
Masyarakat menunggu ketegasan sikap pemerintah atas serangan ke Palestina bahkan kemudian ke Iran meskipun sudah masuk menjadi anggota BoP yang akan menjaga perdamaian. Namun demikian, tak lama setelah bergabung, aksi militer AS dan Israel justru tampak nyata.
Masuk Perangkap AS dan Israel
”Maka, sangat penting membaca ulang arah kebijakan luar negeri dan dampaknya bagi kepentingan nasional. Dampak konflik dan keanggotaan Indonesia di BoP sangat luas,” ujar Dafrin.
Ia mengatakan persepsi internasional terhadap Indonesia dapat berubah ketika keputusan politik diambil di tengah situasi konflik terbuka. Langkah bergabung ke BoP beriringan dengan serangan yang terjadi, sehingga memunculkan tafsir keberpihakan.
”Indonesia masuk perangkap AS dan Israel melalui keanggotaan di BoP. Jadi, begitu Indonesia masuk, tiba-tiba Israel menyerang, tamparan yang keras bagi politik luar negeri kita,” paparnya penuh keprihatinan.
Menurut Dafri, posisi Indonesia sebagai negara nonblok menjadi pertanyaan dunia. Ia mengungkapkan, kredibilitas sebagai mediator menuntut jarak yang jelas dari pihak-pihak yang berkonflik. Dalam teori resolusi konflik, mediator harus dipandang netral dan memiliki reputasi yang kuat agar dipercaya kedua belah pihak.
Iran Bersikap Tegas
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi menegaskan sikap Iran yang membalas serangan brutal Israel dan Amerika Serikat. Ia menepis anggapan negaranya menyerang negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah.
Ia menjelaskan, yang menjadi sasarn adalah pangkalan militer asing di negara kawasan Timur Tengah yang telah menyerang Iran. Ia secara terbuka mengatakan keberadaan pangkalan militer negara asing di kawasan Timur Tengah menjadi batu lonjatan untuk mengganggu kedaulatan Iran.
Boroujerdi menegaskan, fokus utama Iran adalah keberadaan militer negara asing dan sekutunya yang menjadi provokator terjadinya konflik. Ia menolak anggapan memusuhi negara-negara Teluk, justru sebaliknya sangat menghargai kedaulatan sebuah negara.

Remaja Tewas Saat Pembubaran “Perang Senjata Mainan” di Makassar, Sorotan pada Penggunaan Senjata Api Aparat 