catrawarta.com — Kemunculan ikan sapu-sapu yang kian masif di sejumlah sungai di Indonesia kembali menjadi perhatian. Spesies yang dikenal dengan nama ilmiah Plecostomus ini bahkan mampu mendominasi perairan dengan kondisi tercemar, keruh, hingga minim oksigen—situasi yang umumnya tidak dapat ditoleransi oleh ikan lain.(11/4/2026)
Fenomena tersebut bukan tanpa sebab. Para ahli menyebut, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang membuatnya sanggup bertahan hidup di lingkungan ekstrem sekalipun.
Salah satu keunggulan utama terletak pada sistem pernapasannya. Berbeda dengan ikan pada umumnya, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan mengambil oksigen langsung dari udara. Dalam kondisi air dengan kadar oksigen rendah, ikan ini tetap dapat bertahan dengan naik ke permukaan untuk “menghirup” udara.
Selain itu, struktur tubuhnya yang dilapisi pelindung keras membuat ikan ini relatif tahan terhadap serangan predator. Lapisan seperti armor tersebut juga membantu mereka bertahan di lingkungan dengan kondisi fisik yang tidak stabil, seperti arus deras atau dasar sungai yang tercemar limbah.
Dari sisi pola makan, ikan sapu-sapu tergolong sangat adaptif. Mereka mampu mengonsumsi alga, lumut, hingga sisa-sisa organik di dasar perairan. Bahkan di sungai yang tercemar, ikan ini tetap dapat menemukan sumber makanan yang cukup untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
Kemampuan reproduksi yang tinggi turut mempercepat penyebarannya. Dalam kondisi lingkungan yang minim predator alami, populasi ikan sapu-sapu dapat meningkat pesat dalam waktu singkat. Hal ini yang kemudian menyebabkan spesies ini mendominasi dan menekan keberadaan ikan lokal.
Kondisi sungai yang mengalami penurunan kualitas lingkungan juga menjadi faktor pendukung. Pencemaran air dan perubahan ekosistem justru menciptakan habitat yang sesuai bagi ikan sapu-sapu, sementara banyak spesies lain tidak mampu beradaptasi.
Di sejumlah wilayah, keberadaan ikan ini mulai dipandang sebagai ancaman ekologis. Selain mengganggu keseimbangan ekosistem, dominasi ikan sapu-sapu juga berpotensi memengaruhi hasil tangkapan nelayan di perairan darat.
Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, mulai dari penangkapan hingga pemanfaatan sebagai bahan konsumsi. Namun, tanpa perbaikan kualitas lingkungan, langkah tersebut dinilai belum efektif menekan populasinya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemampuan ikan sapu-sapu bertahan hidup bukan sekadar keunggulan biologis, tetapi juga menjadi indikator menurunnya kualitas ekosistem perairan.

Petani Temanggung Siap Tanam Tembakau, Tuntut Jaminan Pupuk, Regulasi dan Harga 