catrawarta.com — Nilai tukar rupiah Kembali mengalami pelemahan beberapa hari terakhir ini. Pada penutupan perdagangan Senin (6/7/2026) petang, rupiah menyentuh di level Rp 18.000 per dolar AS. Kini, menjelang sesi pembukaan, rupiah masih tampak di level Rp 18.019 per dolar AS.
Selain faktor internal, menurut para pengamat, faktor eksternal juga masih berpengaruh. Dari sisi internal, salah satu kemungkinannya karena defisit negara perdagangan Indonesia.
Pada eksternal, situasi di Timur Tengah terutama konflik Amerika Serikat dan Iran yang belum sepenuhnya mereda membuat pasar juga memperlihatkan sentimen negatif. Pengaruh dolar AS yang menguat di seluruh dunia juga menjadi salah satu faktor.
Pengamat keuangan yang juga Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi seperti dikutip dari investor.id. memprediksi mata uang rupiah fluktuatif namun rentan melemah di antara Rp 17.990 – Rp 18.050.
”Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun,” paparnya.
Perkembangan Negosiasi AS-Iran
Sama seperti kekhawatiran banyak pihak, ia berpendapat rupiah berisiko terus melemah selama sentimen tentang geopolitik di Eropa Timur, dan perkembangan negosiasi damai AS-Iran di Timur Tengah belum menunjukkan perkembangan berarti.
Pernyataan-pernyataan pimpinan Amerika Serikat dan Iran yang masih memanas membuat pasar menunggu bahkan merespons negatif. Mereka khawatir bakal terjadi konflik terbuka kembali yang dampaknya bisa memperparah ekonomi global terutama pada krisis energi.
Sementara itu Ekonom UMY, Dyah Titis Kusuma Wardani PhD menanggapi pendapat sejumlah pihak yang menyatakan fundamental ekonomi nasional kuat. Ia mengatakan tekanan terhadap rupiah dapat berasal dari penguatan dolar AS, ketidakpastian suku bunga global, capital outflow, dan pelemahan pasar keuangan.
Menurutnya, kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal serta stabilitas domestik juga berpengaruh. Dengan demikian, fundamental yang kuat tidak membuat rupiah otomatis kebal terhadap gejolak global maupun perubahan persepsi pasar.

KDM Tegaskan Nama Provinsi Tetap Jawa Barat, Bukan Tatar Sunda 