catrawarta.com — Di tengah lanskap geopolitik yang terus bergerak, Indonesia memilih satu jalur yang lebih halus namun berdampak panjang kebudayaan. Dari Beijing, denyut itu terasa nyata. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menapaki serangkaian agenda yang bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan upaya merajut kembali simpul-simpul peradaban yang telah terjalin berabad-abad.
Minggu, 26 April, Beijing menjadi tempat temu antara gagasan, imajinasi, dan peluang. Dalam pertemuannya dengan G.H.Y Culture & Media Group serta para sineas, aktor, dan pelaku industri kreatif Tiongkok, Fadli Zon tidak sekadar berbicara kerja sama. Fadli Zon menawarkan visi menjadikan film sebagai bahasa bersama. Industri perfilman Indonesia dan Tiongkok didorong melangkah ke tahap lebih konkret—produksi bersama (co-production) yang tak hanya mempertemukan pasar, tetapi juga menyatukan narasi.
Langkah ini menemukan momentumnya ketika Pusat Penelitian-Pengembangan Animasi dan Game RI diresmikan di Tiongkok. Sebuah sinyal bahwa Indonesia tak ingin sekadar menjadi konsumen budaya global, melainkan turut menjadi produsen yang diperhitungkan dalam ekosistem industri kreatif Asia.
Namun diplomasi tidak berhenti di ruang-ruang industri. Malam harinya, suasana Wisma KBRI di Beijing berubah menjadi ruang kehangatan diaspora. Di bawah undangan Duta Besar RI untuk RRT, Djauhari Oratmangun, para pelajar, akademisi, pengajar Bahasa Indonesia, hingga komunitas Indonesia berkumpul dalam satu suasana yang cair namun sarat makna.
Di antara mereka hadir pula para Indonesianis, termasuk Xu Liping dari Center for Southeast Asian Studies, Chinese Academy of Social Sciences. Percakapan yang mengalir tidak hanya membahas kerja sama formal, tetapi juga menyentuh dimensi yang lebih dalam: bagaimana kebudayaan menjadi jembatan pemahaman antarbangsa.
Fadli Zon menegaskan, hubungan Indonesia–Tiongkok tidak lahir kemarin sore. Jejaknya terpatri sejak abad ke-7, melalui temuan keramik, artefak perdagangan, hingga akulturasi yang masih hidup dalam tradisi masyarakat Nusantara. Sejarah panjang itu kini menemukan relevansinya kembali di era modern—ketika hubungan politik, ekonomi, dan keamanan semakin erat, tetapi membutuhkan fondasi yang lebih manusiawi.
Di sinilah kebudayaan mengambil peran. Ia tidak berisik, tetapi bekerja dalam diam: membangun rasa saling percaya.

Indonesia, kata Fadli Zon, perlu semakin “terlihat” di Tiongkok. Bukan hanya melalui diplomasi formal, tetapi lewat kehadiran yang hidup: Rumah Budaya Indonesia, pameran seni, festival, pengiriman seniman, hingga penerjemahan karya sastra ke dalam Bahasa Mandarin. Upaya ini tidak hanya memperkenalkan Indonesia, tetapi juga membuka ruang dialog lintas peradaban.
Diskusi malam itu mengerucut pada hal-hal konkret bagaimana karya sastra Indonesia bisa lebih luas diterjemahkan. Bagaimana mahasiswa dapat menjadi motor kegiatan budaya, hingga bagaimana bahasa dan lagu daerah tetap lestari di tengah arus globalisasi. Kampus, komunitas, dan institusi menjadi simpul penting kolaborasi masa depan.
Dalam lanskap ini, diaspora Indonesia tampil bukan sekadar perantau, tetapi duta budaya. Mereka membawa Indonesia dalam keseharian—dalam bahasa, makanan, seni, hingga cara berpikir. Peran mereka menjadi krusial, karena diplomasi sejati tidak selalu lahir dari podium resmi, tetapi dari interaksi manusia ke manusia.
Beijing, malam itu, menjadi saksi bahwa kebudayaan masih memiliki daya paling kuat: menyatukan yang berbeda tanpa memaksa seragam. Dari layar film hingga halaman buku, dari ruang akademik hingga komunitas diaspora, Indonesia sedang menulis bab baru dalam hubungan dengan Tiongkok. Bukan dengan kekuatan keras, tetapi dengan kekuatan makna.

Menanam Tangguh, Menuai Cerdas: “Tiga Laku Orang Tua dalam Cahaya Iman” 