catrawarta.com — Dalam lanskap pengasuhan modern, ilmu pengetahuan kembali menegaskan sesuatu yang sejatinya telah lama hidup dalam nilai-nilai agama. Anak tidak hanya dibentuk oleh kata-kata. Anak dibentuk oleh keteladanan, kedekatan, dan penjelasan yang penuh makna. Pandangan Lisa Feldman Barrett dari ranah psikologi Harvard seolah mengafirmasi prinsip-prinsip pengasuhan yang juga diajarkan dalam tradisi keagamaan.
Pertama, keteladanan adalah bahasa paling jujur.
Anak adalah peniru ulung. Apa yang dilihat, itulah yang ditanam dalam jiwanya. Dalam perspektif agama, ini selaras dengan konsep uswah hasanah—teladan yang baik—sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Orang tua bukan sekadar pemberi nasihat, tetapi cermin hidup. Ketika orang tua rajin membaca, bekerja dengan jujur, dan memperlakukan orang lain dengan hormat, anak menyerap nilai itu tanpa perlu ceramah panjang. Pendidikan sejati lahir dari laku, bukan sekadar kata.
Kedua, dialog adalah jembatan akal dan hati.
Mengajak anak berbicara, membacakan buku, dan mendengarkan mereka bukan hanya memperkaya kosakata. Mengajak anak berbicara juga membangun ikatan batin. Dalam agama, komunikasi penuh kasih ini adalah bentuk tarbiyah—pendidikan yang menyentuh ruh dan akal sekaligus. Tradisi Islam, misalnya, mengenal kisah-kisah para nabi sebagai media pendidikan yang sarat hikmah. Kata-kata yang lembut dan penuh makna akan menumbuhkan kecerdasan sekaligus kepekaan spiritual.
Ketiga, menjelaskan adalah bentuk penghormatan pada akal anak. Pertanyaan “mengapa” bukan gangguan, melainkan tanda tumbuhnya nalar. Menjawab dengan alasan yang bijak mengajarkan anak tentang sebab-akibat, tanggung jawab, dan empati. Dalam perspektif agama, ini sejalan dengan perintah untuk menggunakan akal (tafakkur). Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, bukan sekadar menerima. Maka, ketika orang tua menjelaskan dengan sabar, mereka sedang menanamkan tradisi berpikir kritis yang berakar pada nilai spiritual.
Pada akhirnya, membentuk anak tangguh dan cerdas bukan proyek instan, melainkan perjalanan nilai. Ilmu psikologi modern dan ajaran agama bertemu pada satu titik: anak tumbuh kuat ketika ia melihat kebaikan, merasakan kasih, dan memahami makna. Di situlah keluarga menjadi madrasah pertama—tempat akal diasah, hati diasuh, dan iman ditumbuhkan. (Berbagai sumber)

Indonesia Kembali Mengutuk Keras Israel 