catrawarta.com — Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan pengenalan dan pelatihan Biosaka di Sekarwangi Resto, Jalan Yogyakarta–Wates, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini memperkenalkan Biosaka sebagai praktik pertanian berbasis pengetahuan lokal yang dikembangkan petani Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia.
Di tengah meningkatnya biaya produksi dan tekanan degradasi lahan, Biosaka hadir sebagai pendekatan alternatif yang berangkat dari pengalaman lapangan petani. Biosaka merupakan singkatan dari Bio Sistem Alam Kembali ke Alam, sebuah praktik yang dipopulerkan oleh Muhammad Anshar, petani padi asal Blitar, Jawa Timur, sejak sekitar 2010.
Berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi tanah yang kian menurun akibat penggunaan bahan kimia berlebihan, Anshar mengembangkan Biosaka melalui pengamatan langsung dan uji coba berkelanjutan di lahan pertaniannya sendiri. Ia merumuskan Biosaka bukan sebagai produk, melainkan sebagai metode membaca ulang respons alam terhadap perlakuan manusia.
Berbeda dari pupuk atau pestisida, Biosaka berupa cairan hasil perasan berbagai tanaman lokal yang tumbuh di sekitar sawah, seperti rumput liar dan dedaunan. Tanaman tersebut dipilih bukan karena kandungan haranya, melainkan karena kemampuannya bertahan di lingkungan ekstrem. Dalam pendekatan Biosaka, daya adaptasi tanaman liar diyakini menyimpan sinyal biologis yang dapat merangsang ketahanan tanaman budidaya.
Biosaka tidak bekerja dengan menambahkan nutrisi, melainkan berfungsi sebagai pemantik respons fisiologis tanaman. Cairan ini diaplikasikan dalam dosis sangat kecil pada fase tertentu pertumbuhan tanaman untuk merangsang penyerapan hara, memperkuat perakaran, serta meningkatkan ketahanan terhadap stres lingkungan.

Ilustrasi tahapan pengenceran larutan N Level 1 menggunakan air 15 liter. Dari larutan awal 15 ml, dilakukan pembagian fungsi: untuk menetralkan bau, menetralkan tanah, serta dikombinasikan dengan kompos, kotoran ternak, dan urin. Setiap tahapan menggunakan dosis kecil sebagai pemantik respons alami, bukan sebagai pupuk atau nutrisi utama.
Pengalaman lapangan menunjukkan hasil yang tidak instan, tetapi relatif konsisten. Tanaman yang diaplikasi Biosaka umumnya tampak lebih segar, batang lebih kokoh, dan daun tidak mudah menguning. Hasil panen tidak selalu meningkat signifikan, namun biaya produksi dapat ditekan, kondisi tanah lebih terjaga, dan ketergantungan pada bahan kimia berkurang.
Pendekatan ini kemudian menarik perhatian pelaku usaha. Ketua HIPPI DIY, Arya Ariyanto, menilai Biosaka relevan dengan tantangan yang dihadapi petani saat ini. “Biosaka menawarkan metode yang lebih ramah lingkungan, praktis, dan hemat biaya,” ujarnya.
Meski demikian, Biosaka juga memicu diskusi di kalangan akademik. Sejumlah peneliti menilai klaim Biosaka masih memerlukan pengujian ilmiah lebih lanjut. Namun, para pendukungnya menegaskan bahwa pengalaman empiris petani merupakan bentuk pengetahuan yang layak dihargai dan menjadi pijakan penting bagi pengembangan riset yang lebih kontekstual.
Biosaka tidak ditawarkan sebagai solusi instan. Ia hadir sebagai upaya menggeser cara pandang pertanian dari pola ekstraktif menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan. Di tengah krisis iklim, degradasi tanah, dan tekanan ekonomi petani, Biosaka menegaskan bahwa pengetahuan lokal masih memiliki ruang dan relevansi dalam menjawab tantangan pertanian masa kini.

Oknum Guru Cabuli 13 Murid di Tangerang Selatan 