Catra Wisata, Warta

Bermain Bareng ‘King Julien’ di Gembira Loka Zoo

catrawarta.com — Sosok “King Julien” tak lagi sekadar karakter di Film Animasi Madagascar. Di Gembira Loka Zoo, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan...

Lemur ekor cincin yang menjadi isnpirasi karakter king julien di film animasi madagscar Doc m dhiyaul haq
Lemur Ekor Cincin yang menjadi isnpirasi karakter 'king Julien" di Film Animasi Madagscar. doc; M Dhiyaul Haq

catrawarta.comSosok “King Julien” tak lagi sekadar karakter di Film Animasi Madagascar. Di Gembira Loka Zoo, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan lemur—satwa yang menjadi inspirasi tokoh tersebut—dalam area tanpa sekat yang ramai selama libur IdulFitri.

Sejak pagi, arus pengunjung mulai memadati kawasan kebun binatang. Untuk pembelian tiket, pengunjung dapat membeli secara langsung di loket tiket yang tersedia. Namun untuk mensiasati kalau tidak ingin antre panjang seperti saat moment liburan lebaran pengunjung dapat melakukan pembelian tiket jauh-jauh hari secara daring dengan harga Rp85.000 untuk dewasa di website resmi Gembira Loka: https://gembiralokazoo.com/ticket.

Zona primata menjadi salah satu pusat keramaian. Di area ini, pengunjung diarahkan menuju sebuah aviary lemur berbentuk lingkaran, dengan jalur masuk dan keluar dari sisi utara. Di dalamnya, pengunjung berjalan menyusuri lintasan melingkar yang mengitari ruang terbuka tempat lemur dilepas bebas.

Tidak ada sekat jeruji. Lemur bergerak aktif di antara dahan, tali, dan batang pohon, bahkan melintas di dekat pengunjung. Situasi ini menciptakan pengalaman yang berbeda dari kebun binatang pada umumnya—lebih dekat, lebih spontan, dan lebih interaktif.

Dua jenis lemur menjadi penghuni utama, yakni lemur ekor cincin dan lemur coklat, yang merupakan satwa asal Madagaskar dan tergolong koleksi baru di kebun binatang ini. Lemur ekor cincin tampil mencolok dengan pola hitam-putih pada ekornya, sementara lemur coklat memiliki warna tubuh yang lebih lembut dengan karakter wajah yang ekspresif.

Beberapa lemur tampak melompat di atas jalur pengunjung, sementara lainnya bergelantungan atau mendekat ketika pengunjung berhenti untuk berfoto. Momen-momen inilah yang memicu antusiasme, terutama bagi anak-anak.

“Biasanya hanya lihat dari jauh, sekarang bisa dekat sekali. Anak-anak jadi lebih berani,” ujar Rina (34), salah satu pengunjung, 23 Maret 2026 lalu.

Konsep interaksi ini dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan edukasi berbasis pengalaman. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga memahami perilaku satwa secara langsung, termasuk kebiasaan lemur yang hidup berkelompok dan aktif pada siang hari.

Selama libur Lebaran, area ini menjadi salah satu titik terpadat. Pada jam-jam tertentu, antrean untuk memasuki aviary terlihat meningkat, menandakan tingginya minat terhadap model wisata interaktif.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran tren wisata satwa. Pengalaman tidak lagi berhenti pada aktivitas melihat, tetapi berkembang menjadi keterlibatan langsung antara pengunjung dan satwa.

Di sisi lain, interaksi tersebut juga membawa pesan konservasi. Lemur sebagai satwa endemik Madagaskar menghadapi ancaman serius di habitat aslinya. Kehadirannya di ruang interaksi publik menjadi sarana untuk membangun kesadaran sekaligus empati terhadap upaya pelestarian satwa.

Di tengah riuh libur Idulfitri, pengalaman “bermain bareng King Julien” ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan arah baru wisata edukatif—yang mendekatkan manusia dengan satwa tanpa kehilangan makna konservasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *