catrawarta.com — Kampus menjadi salah satu ruang rentan penyebaran penyakit menular, termasuk super flu. Ini dapat terjadi karena mobilitas warga kampus sangat tinggi, mahasiswa maupun dosennya.Menurut dokter spesialis penyakit dalam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Agus Widyatmoko SpPD MKes mengungkapkan kewaspadaan kolektif civitas academica menjadi kunci utama mencegah meluasnya penularan virus di ruang pendidikan.
”Kampus memiliki karakteristik sosial yang khas. Aktivitas tatap muka yang padat, mobilitas mahasiswa yang tinggi, serta jejaring interaksi yang luas berpotensi mempercepat penyebaran supe flu,” papar Agus.
Pada lingkungan padat seperti kampus, kecepatan penularan penyakit dapat berdampak pada meningkatnya jumlah kasus. Terlebih, apabila tidak ada antisipasi sejak dini melalui langkah-langkah pencegahan.
Biasakan Menggunakan Masker
Agus menekankan pentingnya budaya saling melindungi di lingkungan akademik, antara lain dengan membiasakan penggunaan masker saat mengalami gejala flu.
Selain itu, menjaga kebersihan tangan, serta tidak memaksakan diri untuk tetap beraktivitas ketika sedang sakit. Ia menilai kedisiplinan individu memiliki peran besar memutus rantai penularan. ”Flu tidak boleh dianggap sepele, karena satu orang yang sakit bisa menularkan ke banyak orang di lingkungan kampus,” tandasnya.
Tanda Terpapar Super Flu
Ia mengingatkan agar civitas academica lebih peka terhadap tanda-tanda infeksi yang memerlukan perhatian medis, seperti demam tinggi yang menetap, nyeri otot berat, atau gangguan pernapasan.
Deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
”Kampus berupaya memperkuat peran kampus sebagai ruang belajar yang aman dan sehat bagi seluruh penghuninya. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar aktivitas akademik tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek kesehatan publik,” tegas Agus.

Kulit Jeruk Bali ke Taman Surga, Ritual Yasa Peksi Burak Dakwah Keraton Jogja 