Catra Budaya

Kulit Jeruk Bali ke Taman Surga, Ritual Yasa Peksi Burak Dakwah Keraton Jogja

catrawarta.com — Di balik harum melati dan kulit jeruk bali yang diukir dengan penuh ketelatenan, Keraton Yogyakarta kembali menghidupkan satu laku budaya...

Keraton Jogja gelar ritual Yasa Peksi Burak

catrawarta.comDi balik harum melati dan kulit jeruk bali yang diukir dengan penuh ketelatenan, Keraton Yogyakarta kembali menghidupkan satu laku budaya yang sarat makna. “Hajad Dalem Yasa Peksi Burak.” Upacara ini digelar untuk menyambut peristiwa agung Isra’ Mi’raj yang jatuh pada 27 Rejeb dalam penanggalan Jawa—tahun ini bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026. Sebuah peristiwa iman yang diterjemahkan keraton ke dalam bahasa simbol, rasa, dan kerja bersama.

Yasa berarti membuat atau mengadakan. Peksi adalah burung. Burak merujuk pada Buraq—makhluk cahaya yang diyakini menjadi kendaraan Nabi Muhammad Saw dalam perjalanan Isra’ Mi’raj. Dari makna itulah Yasa Peksi Burak bermula, sebuah perayaan yang tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjelma pendidikan nilai.

Pagi hari di wilayah keputren, kesunyian bekerja terasa khidmat. Para kerabat dan Abdi Dalem puteri merangkai Peksi Burak dari buah dan kulit jeruk bali. Kulitnya diukir menyerupai badan, leher, kepala, hingga sayap burung. Burung jantan diberi pial sebagai penanda—detail kecil yang menunjukkan ketelitian besar. Sepasang Peksi Burak itu kelak bertengger di atas susuh, sarang dari daun kemuning, disangga ruas-ruas bambu, diletakkan di puncak pohon buah.

Pohon buah itu sendiri adalah doa yang dirangkai. Tujuh macam buah lokal—salak, sawo, apel Malang, jeruk bali, rambutan, manggis, dan pisang raja di bagian paling bawah—disusun menyerupai pohon. Tujuh (pitu) dimaknai sebagai pitulungan, harap akan pertolongan, keselamatan, dan kesejahteraan. Pisang raja melambangkan Raja Kasultanan Ngayogyakarta sebagai pengayom rakyat. Untaian melati melilitnya—kesucian yang memeluk kuasa.

Di sisi lain, empat pohon bunga dirangkai para Abdi Dalem Keparak. Dedaunan dan bunga disusun pada kerangka bambu, membentuk taman surga. Keseluruhan komposisi—sepasang burung di puncak pohon buah, dikelilingi taman bunga—menghadirkan gambaran harmoni, kosmos kecil yang mengajarkan keseimbangan.

Menjelang Asar, setelah doa bersama dipimpin Abdi Dalem Punakawan Kaji, arak-arakan bergerak. Peksi Burak diusung melewati pelataran keraton, keluar Regol Kamandungan Lor, menyusuri Rotowijayan, menuju Masjid Gedhe di barat Alun-Alun Utara. Di sana, Abdi Dalem Pengulon menerima Peksi Burak, disertai doa keselamatan bagi Sultan dan keluarga, kelestarian keraton, serta kesejahteraan kawula.

Malam hari, selepas Isya, masyarakat berkumpul. Laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak, duduk melingkari Peksi Burak. Di hadapan mereka, Kiai Penghulu membuka kitab yang mengisahkan Isra’ Mi’raj—latar peristiwa, dialog singkat Nabi dengan Malaikat Jibril, hingga hikmah perjalanan. Semua mendengar dalam khidmat. Tidak ada jarak yang dibuat-buat yang ada adalah kebersamaan yang belajar.

Di akhir acara, buah-buahan pada rangkaian Peksi Burak dibagikan kepada warga. Simbol kembali menjadi laku, berkah dibagi, kegembiraan dipeluk bersama. Dengan itu, rangkaian Hajat Dalem Yasa Peksi Burak ditutup—tanpa gegap gempita, namun meninggalkan jejak.

Yasa Peksi Burak adalah dakwah yang bekerja pelan. Ia mengajarkan bahwa iman bisa dirawat melalui keindahan, ketekunan, dan gotong royong. Dari kulit jeruk bali yang diukir, dari buah yang dirangkai, keraton menyampaikan pesan inti Isra’ Mi’raj. Kedekatan dengan Tuhan mesti berbuah pada ketertiban laku—shalat lima waktu—dan kepedulian pada sesama. Di situlah budaya menjadi jembatan, dan tradisi menjelma pelajaran hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *