Pena Catra

Sungkeman Lebaran, Menjaga Akhlak di Tengah Arus Modernitas

catrawarta.com — Puncak perjalanan spiritual umat Islam hadir pada  Hari Raya Idulfitri.  Sebuah momentum kembali kepada fitrah, setelah sebulan menahan diri, membersihkan...

Ilustrasi Sungkeman lebaran adalah tradisi luhur masyarakat Jawa menjaga adab - akhlak di tengah arus modernisasi - sumber: catrawarta

catrawarta.comPuncak perjalanan spiritual umat Islam hadir pada  Hari Raya Idulfitri.  Sebuah momentum kembali kepada fitrah, setelah sebulan menahan diri, membersihkan jiwa, dan mengasah kepekaan sosial. Lebaran juga merupakan media rekonsiliasi  memperbaiki relasi, menyambung yang retak, dan merajut kembali ikatan keluarga. Dalam tradisi masyarakat Jawa, nilai luhur itu menemukan ekspresi paling intim melalui sungkeman.

Sungkeman bukan sekadar ritual budaya. Sungkeman adalah peristiwa batin. Seorang anak bersimpuh di hadapan orang tua, menundukkan tubuh dan ego. Lalu mengucap maaf dengan penuh kesadaran, dan  menerima doa restu sebagai bekal hidup. Dalam suasana yang hening dan haru. Sungkeman menghadirkan kejujuran emosional yang sering kali sulit ditemukan dalam keseharian.

Di masa lalu, lanskap pagi Idulfitri di kampung-kampung Jawa memiliki pola yang nyaris seragam. Seusai salat Id, keluarga berkumpul dalam kehangatan rumah. Orang tua duduk sebagai pusat penghormatan, sementara anak-anak, menantu, hingga cucu bergiliran bersimpuh. Bahasa Jawa krama inggil mengalir lembut, menghadirkan kesantunan sekaligus kedalaman makna. Air mata yang menetes bukanlah tanda kelemahan, melainkan simbol keikhlasan untuk saling memaafkan.

Tradisi ini tidak berhenti pada lingkup keluarga inti. Sungkem meluas dalam bentuk sowan atau ujung Lebaran—kunjungan kepada sesepuh, tetangga, dan tokoh masyarakat. Di sana, terbangun tatanan sosial yang menjunjung tinggi penghormatan yang muda mendatangi yang tua, yang junior menghargai yang senior. Sungkeman, dalam konteks ini, menjadi perekat sosial yang memperkuat kohesi komunitas.

Zaman bergerak cepat. Modernitas membawa perubahan dalam cara manusia berinteraksi. Di kota-kota besar, sungkeman kerap disederhanakan menjadi sekadar jabat tangan. Bahasa krama inggil semakin jarang terdengar, tergantikan oleh bahasa yang lebih praktis. Bahkan, silaturahmi pun perlahan beralih ke ruang digital—pesan singkat, panggilan video, hingga ucapan di media sosial.

Efisiensi memang menjadi ciri zaman, tetapi ia sering datang dengan harga, berkurangnya kedalaman makna. Ketika sungkeman kehilangan ruangnya, yang ikut tereduksi bukan hanya bentuk tradisi, melainkan juga nilai-nilai yang dikandungnya. Padahal, dalam setiap gerakan bersimpuh, tersimpan pelajaran tentang kerendahan hati, keberanian mengakui kesalahan (ngaku lepat), dan kesediaan membuka diri untuk memaafkan.

Secara kultural, sungkeman adalah hasil dialog panjang antara nilai Islam dan budaya Jawa. Sungkeman merepresentasikan ajaran saling memaafkan dalam Islam yang diterjemahkan ke dalam simbol-simbol lokal yang halus dan penuh makna. Bahkan secara historis, praktik ini memiliki akar dalam tradisi keraton, yang kemudian membumi menjadi budaya masyarakat luas.

Lebih dari sekadar warisan budaya, sungkeman sesungguhnya adalah instrumen pendidikan karakter. Dalam sungkeman terkandung  ajaran tata krama (adab), penghormatan kepada orang tua, serta kesadaran moral tentang pentingnya menjaga relasi. Dalam dunia yang semakin individualistik, nilai-nilai ini justru menjadi semakin relevan. Tanpa fondasi akhlak yang kuat, kemajuan material hanya akan melahirkan kehampaan sosial.

Ironisnya, pergeseran gaya hidup modern kerap menempatkan tradisi seperti sungkeman sebagai sesuatu yang usang. Lebaran lebih sering dipahami sebagai ajang konsumsi, perjalanan wisata, atau sekadar rutinitas tahunan. Ruang-ruang refleksi dan kehangatan keluarga perlahan menyempit.

Di sinilah pentingnya kesadaran bersama untuk merawat kembali makna. Sungkeman tidak harus dipertahankan secara kaku dalam bentuknya, tetapi nilai yang dikandungnya tidak boleh hilang. Bersimpuh mungkin dapat menyesuaikan konteks, tetapi kerendahan hati, penghormatan, dan kejujuran emosional harus tetap hidup.

Peran keluarga menjadi kunci. Orang tua bukan hanya pelaku tradisi, tetapi juga pendidik nilai. Anak-anak perlu diperkenalkan pada makna sungkeman sejak dini—bahwa meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan moral. Bahwa menghormati orang tua bukan sekadar kewajiban, tetapi wujud cinta dan bakti.

Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya tentang kemenangan spiritual, tetapi juga tentang komitmen untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sungkeman adalah salah satu jalan sunyi menuju ke sana—sebuah praktik sederhana yang menyimpan kedalaman makna.

Jika tradisi ini terus dirawat dan diwariskan, maka Idulfitri tidak akan sekadar menjadi perayaan seremonial. Ia akan tetap menjadi “sekolah akhlak” yang hidup—tempat di mana generasi demi generasi belajar tentang kerendahan hati, penghormatan, dan kemanusiaan. Di tengah arus zaman yang kian deras, sungkeman adalah jangkar nilai yang menjaga kita tetap berakar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *