Idea Catra

Iran–Israel, Perang Agama atau Perebutan Kekuasaan Global?

catrawarta.com — Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memicu perdebatan lama. Apakah konflik ini murni perang agama, atau sesungguhnya pertarungan geopolitik yang...

Ilustrasi Iran–Israel, Perang Agama atau Perebutan Kekuasaan Global? - Sumber: Freepik

catrawarta.comKetegangan antara Iran dan Israel kembali memicu perdebatan lama. Apakah konflik ini murni perang agama, atau sesungguhnya pertarungan geopolitik yang lebih kompleks?

Ini bukan pertanyaan sederhana. Konflik Iran – Israel menyentuh tiga lapisan sekaligus, yaitu ideologi agama, kepentingan geopolitik, dan perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah.

Untuk memahami posisi Iran, perlu melihat karakter dasar negaranya. Sejak Revolusi Iran 1979 yang dipimpin Ruhollah Khomeini, Iran berubah dari monarki menjadi Republik Islam. Sistem politiknya dikenal sebagai konsep Wilayat al-Faqih—kepemimpinan ulama dalam pemerintahan. Dalam sistem ini, otoritas tertinggi berada di tangan Pemimpin Tertinggi (Rahbar), yang memegang kendali atas militer, keamanan, kebijakan strategis, dan arah ideologis negara.

Pasca Khomeini wafat pada 1989, posisi ini dipegang oleh Ali Khamenei. Dalam struktur ini, presiden dan parlemen tetap dipilih melalui pemilu. Akan tetapi kandidatnya diseleksi oleh lembaga ulama seperti Dewan Penjaga.

Model ini menjadikan Iran sebagai negara teokrasi modern yaitu penggabungan demokrasi elektoral dengan otoritas religius.

Ideologi negara tidak hanya bersifat domestik, melainkan juga revolusioner. Republik Islam Iran juga memposisikan dirinya sebagai pelindung kaum tertindas (mustadh’afin) dan penentang dominasi Barat di Timur Tengah. Di sinilah Palestina menjadi simbol perjuangan ideologis Iran.

Israel & Proyek Zionisme

Sementara pada posisi lain, negara Israel lahir dari gerakan politik modern bernama Zionisme. Yaitu sebuah gerakan nasionalisme Yahudi yang bertujuan mendirikan negara bagi bangsa Yahudi di tanah historis mereka.

Negara Israel sendiri  berdiri pada 1948 setelah berakhirnya mandat Inggris di Palestina. Sejak berdirinya negara Israel, konflik  dengan bangsa Palestina terus berlangsung. Konflik tersebut akhirnya melahirkan perang, pendudukan wilayah, dan ketegangan politik yang berkepanjangan hingga saat ini.

Konflik Israel – Palestina kemudian menjadi salah satu sumber legitimasi politik bagi Iran pasca revolusi 1979. Pemerintah Iran secara konsisten menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan menentang keberadaan Israel sebagai negara yang dianggap hasil kolonialisme Barat.

Konfrontasi ideologis ini membuat hubungan kedua negara tidak sekadar rival politik, tetapi juga permusuhan ideologis.

Dalam retorika resmi Iran, perlawanan terhadap Israel disebut sebagai jihad melawan penindasan. Dukungan Iran terhadap kelompok perlawanan Palestina seperti Hamas dan Hezbollah menjadi bagian dari strategi tersebut. 

Banyak analis melihat bahwa agama lebih sering berfungsi sebagai bahasa legitimasi politik daripada satu-satunya penyebab konflik. Bagi Iran, konflik dengan Israel juga berkaitan dengan upaya membangun pengaruh regional—dari Irak, Suriah, Lebanon hingga Yaman—dalam apa yang sering disebut “poros perlawanan”. Sementara itu Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama karena program nuklirnya serta jaringan sekutu militernya di kawasan.

Peran Amerika Serikat

Konflik ini semakin kompleks karena keterlibatan Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel. Sejak lama Washington memberikan dukungan militer, diplomatik, dan ekonomi kepada Israel. Sebaliknya, Iran berada di bawah berbagai sanksi ekonomi Barat sejak revolusi 1979.

Dalam pandangan Iran, tekanan ini   sebagai upaya hegemonik Barat untuk mengendalikan Timur Tengah. Sementara Amerika Serikat memandang, kebijakan terhadap Iran dilihat sebagai bagian dari strategi keamanan regional dan pencegahan proliferasi nuklir.

Dengan demikian, konflik Iran–Israel tidak dapat dipisahkan dari rivalitas global antara kekuatan Barat dan negara-negara yang menantang dominasi tersebut.

Perang Agama atau Geopolitik?

Dalam perspektif ideologis, konflik ini memang memiliki dimensi agama. Iran adalah negara teokrasi Syiah yang menggunakan bahasa keagamaan dalam politiknya. Israel juga memiliki identitas negara Yahudi anti Islam yang kuat.

Namun pada saat yang sama, faktor geopolitik jauh lebih menentukan.  Perebutan pengaruh kawasan, keamanan energi, aliansi militer, serta persaingan kekuatan global. Agama menjadi simbol mobilisasi, sementara kekuasaan dan keamanan menjadi kepentingan strategis.

Di tengah pertarungan besar itu, rakyat Palestina tetap menjadi pusat tragedi kemanusiaan. Perang, blokade, dan kekerasan berkepanjangan telah menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar selama puluhan tahun.

Negara Iran memandang, Palestina adalah isu ideologis sekaligus politik luar negeri.
Bagi Israel, konflik tersebut adalah persoalan keamanan nasional.

Sementara bagi masyarakat internasional, persoalan Palestina terus menjadi ujian bagi sistem hukum internasional dan diplomasi global.

Akhirnya, konflik Iran–Israel bukan sekadar perang dua negara. Perang Iran – Israel adalah pertarungan narasi tentang dunia. Antara perlawanan terhadap dominasi global, keamanan negara, identitas agama, dan perebutan pengaruh geopolitik.

Apakah Iran – Israel perang agama? Sebagian iya—karena simbol dan retorikanya sarat bahasa teologis.

Namun pada level yang lebih dalam, konflik ini adalah persimpangan antara ideologi, kekuasaan, dan strategi global yang menjadikan Timur Tengah sebagai salah satu panggung paling menentukan dalam politik dunia modern. Wallahu alam. (*) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *