catrawarta.com — Di tengah persaingan kerja yang makin ketat, ada fenomena yang terasa janggal. Ketika banyak orang berusaha mendapatkan pekerjaan, sebagian lainnya justru sibuk menolak. Alasannya berulang: gaji kecil, pekerjaan tidak sesuai, atau dianggap tidak selevel. Tapi kalau ditarik lebih dalam, ini bukan sekadar soal gengsi—melainkan soal bagaimana seseorang menilai kemampuan dirinya sendiri.
Fenomena pilah-pilih kerja bisa dijelaskan melalui perkembangan riset terbaru tentang kesenjangan antara kepercayaan diri dan kemampuan nyata.
Salah satu rujukan penting datang dari studi terbaru berjudul “Revisiting the Dunning–Kruger Effect: A Cross-Cultural Analysis of Self-Assessment Bias” (2024) yang dipublikasikan melalui platform Springer. Studi ini menunjukkan bahwa individu dengan performa rendah tetap cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang tidak sebanding dengan kemampuannya.
Artinya, bias dalam menilai diri sendiri masih konsisten terjadi, bahkan dalam berbagai konteks budaya.
Temuan ini diperkuat oleh penelitian lain berjudul “Metacognitive Deficits and Overconfidence in Skill Acquisition” (2024) yang dimuat di ScienceDirect.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa akar masalahnya terletak pada keterbatasan metakognitif—kemampuan seseorang untuk mengevaluasi dirinya sendiri secara objektif. Ketika kemampuan ini rendah, seseorang tidak hanya kurang kompeten, tetapi juga tidak menyadari kekurangannya.
Lebih jauh lagi, studi terbaru tahun 2025 berjudul “Cognitive and Biological Factors Behind Overconfidence Bias” menunjukkan bahwa overconfidence bukan sekadar persoalan sikap, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor kognitif yang kompleks. Dengan kata lain, kecenderungan merasa “lebih mampu dari yang sebenarnya” bukan hal yang jarang, dan bisa terjadi tanpa disadari.
Jika ditarik ke konteks dunia kerja, temuan-temuan ini membantu menjelaskan fenomena pilah-pilih kerja yang sering terjadi. Ketika seseorang merasa layak mendapatkan pekerjaan atau gaji tertentu tanpa memiliki pengalaman atau skill yang memadai, penilaian tersebut bisa jadi bukan hasil pertimbangan objektif, melainkan bias persepsi terhadap diri sendiri.
Di sinilah muncul apa yang bisa disebut sebagai ilusi kompetensi.
Masalahnya, bias ini sering dibungkus dengan istilah yang terdengar positif, seperti “tahu value diri”. Padahal tanpa ukuran yang jelas—seperti pengalaman kerja, portofolio, atau skill yang teruji—klaim tersebut menjadi sulit dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, dunia kerja memiliki logika yang lebih sederhana. Perusahaan menilai berdasarkan kontribusi nyata, bukan persepsi pribadi. Tanpa kemampuan yang bisa langsung digunakan, ekspektasi tinggi justru menjadi penghambat untuk masuk ke dalam sistem kerja itu sendiri.
Lingkungan modern juga turut memperkuat fenomena ini. Paparan media sosial yang menampilkan kesuksesan instan tanpa proses panjang menciptakan standar semu. Banyak yang ingin langsung berada di titik akhir, tanpa memahami tahapan yang harus dilalui.
Padahal, hampir semua perjalanan karier dimulai dari bawah—dari pekerjaan yang mungkin tidak ideal, tetapi penting sebagai proses belajar dan pembentukan kompetensi.

Pelopor Pendidikan Nasional: Antara Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara 