Idea Catra

47 Tahun Diembargo, Iran Makin Berkibar — 80 Tahun Merdeka, Indonesia Diambang Tumbang

catrawarta.com — Lebih dari empat dekade, Iran hidup dalam tekanan negara adidaya. Sejak 1979, Revolusi Islam Iran, negara itu menghadapi embargo ekonomi,...

Ilustrasi 47 Tahun Diembargo Iran Makin Berkibar — 80 Tahun Merdeka Indonesia Diambang Tumbang - Sumber: Catrawarta

catrawarta.comLebih dari empat dekade, Iran hidup dalam tekanan negara adidaya. Sejak 1979, Revolusi Islam Iran, negara itu menghadapi embargo ekonomi, isolasi diplomatik, hingga ancaman militer dari Amerika Serikat dan sekutunya.  Logika umum, dengan tekanan selama itu,  harusnya sebagai negara Iran lumpuh —menggerus stabilitas, melemahkan ekonomi, dan meruntuhkan legitimasi politik.  Fakta  berkata lain. Iran tidak runtuh. Iran tetap berdiri, bahkan lebih kokoh.  Beberapa aspek justru menunjukkan daya tahan yang mengundang tanda tanya besar.

Di titik inilah perbandingan dengan Indonesia menjadi relevan. Indonesia adalah negara yang tidak pernah mengalami embargo panjang seperti Iran. Republik Indonesia merdeka sejak 1945. NKRI memiliki sumber daya alam melimpah, serta berada dalam posisi geopolitik yang relatif stabil. Namun setelah delapan dekade kemerdekaan, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar. Persoalan ketergantungan ekonomi, lemahnya kedaulatan industri, serta krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan. Pertanyaan pun mengemuka secara tajam—apa yang sebenarnya membedakan keduanya?

Salah satu jawabannya terletak pada bagaimana tekanan direspons. Bagi Iran, embargo bukan sekadar hambatan, melainkan paksaan untuk berubah. Ketika akses ke pasar Barat ditutup, Iran mengalihkan orientasi ekonominya ke Asia. Mereka membangun hubungan dagang baru, memperluas jejaring ekonomi regional. Dan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada sistem global yang didominasi Barat. Dalam kondisi terbatas, Iran dipaksa untuk bertahan dengan mengandalkan kemampuan sendiri.

Sebaliknya, Indonesia justru sering terjebak dalam kenyamanan semu. Keterbukaan ekonomi tidak selalu diiringi dengan penguatan kapasitas domestik. Ekspor masih didominasi bahan mentah, sementara industri hilir berkembang lambat. Ketergantungan pada impor, baik untuk teknologi maupun kebutuhan dasar tertentu, masih menjadi realitas. Indonesia memiliki peluang untuk mandiri, tetapi tidak selalu memiliki kesungguhan kuat untuk benar-benar mandiri.

Teknologi Iran Berkembang Pesat

Tekanan juga membentuk cara sebuah negara memandang ilmu pengetahuan. Dalam kondisi terisolasi, Iran tidak memiliki banyak pilihan selain mengembangkan kapasitas internalnya. Investasi pada pendidikan dan riset menjadi kebutuhan strategis. Pertumbuhan jumlah mahasiswa yang signifikan sejak akhir 1970-an mencerminkan orientasi tersebut. Dalam keterbatasan akses global, Iran membangun kekuatan dari dalam. Iran mengembangkan teknologi, memperkuat sektor kesehatan, hingga meningkatkan kapasitas industri berbasis pengetahuan.

Indonesia memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap dunia luar, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubah akses tersebut menjadi kekuatan. Pendidikan sering kali masih berorientasi administratif, bukan transformasional. Riset belum menjadi landasan pokok dalam pembangunan. Anggaran yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas inovasi. Di sinilah terlihat perbedaan mendasar. Iran membangun karena terpaksa, Indonesia sering menunda karena merasa belum perlu.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah ideologi. Iran berdiri di atas fondasi yang jelas, dengan konsep kepemimpinan berbasis ulama yang dikenal sebagai wilayat al-faqih. Figur seperti Ali Khamenei menjadi simbol kontinuitas politik dan ideologis. Terlepas dari berbagai kritik, sistem ini memberikan satu hal yang krusial, yaitu arah yang relatif konsisten.

Demokrasi Berjalan Tanpa Kesadaran

Indonesia sebenarnya memiliki dasar ideologi yang kuat dalam Pancasila. Dalam praktiknya, ideologi Pancasila tak berdaya. Pancasila hanya sebagai simbol formal. Dasar negara belum sepenuhnya menjadi etos yang menggerakkan kebijakan dan perilaku elite. Politik transaksional, fragmentasi kepentingan, dan dominasi pragmatisme sering kali mengaburkan arah kebangsaan. Akibatnya, konsensus ideologis yang seharusnya menjadi kekuatan justru kehilangan daya ikatnya.

Di tingkat masyarakat, perbedaan ini juga terasa. Iran menunjukkan tingkat partisipasi publik yang relatif tinggi dalam momentum nasional, bahkan di tengah tekanan ekonomi. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan ideologis dan emosional yang cukup kuat antara negara dan rakyat. Sementara itu, Indonesia menghadapi tantangan berupa menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi dan elite politik. Demokrasi berjalan, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedalaman kesadaran.

Kepemimpinan menjadi faktor penentu berikutnya. Di Iran, persepsi terhadap kesederhanaan dan konsistensi pemimpin menjadi bagian dari legitimasi. Kepemimpinan tidak hanya dinilai dari kebijakan, tetapi juga dari keteladanan. Di Indonesia, persoalan kepemimpinan sering kali berkutat pada citra dan popularitas. Kasus korupsi, konflik kepentingan, dan praktik oligarki terus menggerus kepercayaan publik.

Dari seluruh perbandingan ini, muncul satu pelajaran penting. “Kemerdekaan formal tidak otomatis melahirkan kedaulatan substantif.” Iran, yang hidup dalam tekanan, justru membangun daya tahannya melalui kemandirian, konsistensi ideologi, dan penguatan internal. Indonesia, yang memiliki ruang lebih luas, belum sepenuhnya mampu memanfaatkan kebebasan tersebut untuk membangun fondasi yang kokoh.

Apa Yang Salah Dengan Indonesia? 

Ini bukan berarti Iran tanpa masalah atau Indonesia tanpa harapan. Keduanya memiliki kompleksitas masing-masing. Namun refleksi ini penting sebagai cermin. Bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kondisi eksternal. Kekuatan sebuah negara ditentukan pula oleh bagaimana ia merespons kondisi tersebut.

Pada akhirnya, pertanyaannya adalah: “apa yang salah dengan Indonesia”. Bukanlah tudingan, melainkan ajakan untuk berbenah. Mungkin yang perlu diperbaiki adalah cara kita memaknai kemerdekaan—bukan sekadar bebas dari penjajahan. Namun kemerdekaan harusnya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bukan sekadar memiliki sumber daya, tetapi mampu mengelolanya dengan visi jangka panjang. Dan bukan sekadar memiliki demokrasi, tetapi memastikan bahwa demokrasi itu melahirkan kepemimpinan yang berintegritas.

Iran menunjukkan bahwa tekanan tidak selalu menghancurkan. Dalam banyak kasus, justru tekananlah yang menempa ketangguhan. Pertanyaannya, apakah Indonesia harus menunggu tekanan untuk menjadi kuat, atau mulai membangun kekuatan itu dari sekarang? Wallahu alam. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *