catrawarta.com — Kedai Barat Istana, sebuah kedai yang berada di kawasan barat Istana Pakualaman, Yogyakarta, menjadi ruang alternatif bagi pameran seni kriya bertajuk Segoberart Mini Exhibition. Pameran ini berlangsung sejak 26 Januari hingga 26 Februari, menghadirkan karya-karya seniman muda yang mencoba mendekatkan seni kriya dengan ruang publik sehari-hari.(31/1)
Pameran ini berangkat dari respons terhadap potensi ruang yang dinilai terlalu sayang jika hanya difungsikan sebagai kedai. Melalui inisiatif tersebut, ruang komersial di kawasan Pakualaman ini diolah menjadi ruang pamer yang terbuka dan cair bagi publik umum.
Segoberart Mini Exhibition diprakarsai oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kriya. Sebanyak sekitar 30 peserta mendaftarkan karyanya untuk ditampilkan. Setelah melalui proses kurasi, 15 karya seni kriya terpilih untuk dipamerkan selama satu bulan penuh.
Meski mengusung tema bebas, proses kurasi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan aspek estetika, semiotika, dan teknik penciptaan. Kurasi tersebut dilakukan untuk memastikan karya yang dipamerkan tetap memiliki kekuatan gagasan sekaligus relevan dengan konteks ruang pamer.
Salah satu penggagas kegiatan, Oktavian Adiprasetyo, mengatakan pameran ini juga bertujuan mengenalkan seni kriya kepada publik yang lebih luas. Menurutnya, seni selama ini kerap dipersepsikan terbatas pada patung dan lukisan.
“Ini keinginan kami untuk membantu promosi kedai, dan memberikan ruang sebagai ekspresi para seniman muda,” ujar Oktavian.
Ia menambahkan, pameran ini juga menjadi ruang bagi seniman untuk mengekspresikan karya mereka di luar lingkungan kampus, tidak hanya di galeri formal tetapi juga di ruang-ruang alternatif seperti kedai.
Namun, penyelenggaraan pameran seni kriya di ruang publik masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyaknya agenda seni serupa di Yogyakarta serta rendahnya pemahaman masyarakat terhadap seni kriya menjadi kendala tersendiri dalam menjangkau audiens yang lebih luas.
“Masih banyak masyarakat yang belum memahami karya kriya sebagai karya seni, bukan sekadar produk fungsional,” kata Oktavian.
Meski demikian, penyelenggara menilai pameran ini sebagai langkah awal membangun ekosistem seni kriya yang lebih inklusif. Ke depan, mereka berencana kembali menggelar pameran seni kriya bekerja sama dengan HMJ Kriya, dengan memanfaatkan ruang-ruang publik sebagai medium perjumpaan seni dan masyarakat.

Bisakah PSI Jadi Pioner Integritas Berdemokrasi? 