Etalase

Kejujuran Dalam Berkarya Seni

catrawarta.com — Membedah kejujuran dalam seni terdengar sederhana. Ia kerapkali dipahami sebagai berkarya apa adanya, sebatas kemampuan. Gagasan yang diekspresikan sesuai dengan pikiran...

Penulis istirahat sejenak di tengah proses berkarya Hyperabstract. (Dok. Penulis)

catrawarta.comMembedah kejujuran dalam seni terdengar sederhana. Ia kerapkali dipahami sebagai berkarya apa adanya, sebatas kemampuan. Gagasan yang diekspresikan sesuai dengan pikiran dan perasaan, tanpa dibuat-buat. Namun pada praktiknya tantangan yang dihadapi tidak sesederhana itu. Di balik permukaan kanvas yang tampak tenang, ada pertarungan sengit antara ego, tuntutan pasar, dan keberanian untuk menelanjangi jiwa di ruang publik.

Seni rupa hari ini sering kali terjebak dalam obsesi “terlihat canggih”. Banyak perupa pemula hingga kawakan justru tergelincir pada pamer teknik atau sekadar mengekor tren demi mendapatkan pengakuan secara instan. Akibatnya, karya yang lahir terasa hambar. Ada getaran yang hilang ketika tangan bergerak hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, bukannya merespons dorongan batin yang mendesak untuk tumpah. Padahal, tanpa ‘ruh’ emosional, sebuah karya tak lebih dari benda dekoratif yang dingin – cantik dipandang, tapi tidak mampu menyentuh rasa.

Kejujuran artistik menuntut nyali untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan. Seorang seniman yang jujur tidak akan sungsang-sumbal menutupi goresan yang dianggap “salah” secara akademis, asalkan itu lahir dari kejernihan emosi. Dalam cacat dan goresan yang kasar itulah sering kali tersimpan karakter unik yang sulit diduplikasi atau dilukis ulang.

Namun, integritas ini terus-menerus diteror oleh logika pasar. Begitu sebuah gaya terbukti laku keras, muncul godaan besar untuk mereplikasinya secara repetitif demi pundi-pundi rupiah. Di titik inilah kejujuran mulai terkikis menjadi mesin produksi. Seniman tidak lagi sedang melakukan eksplorasi kreatif, melainkan terjebak dalam “pabrik ide” mereka sendiri yang monoton dan hampa.

Jujur juga bukan berarti berkarya tanpa konsep atau asal-asalan. Ia justru membutuhkan intensitas merenung yang terus-menerus. Perupa tidak pernah berhenti melakukan dialog batin yang melelahkan: “Kenapa memilih warna ini? Apa benar ini yang dirasakan, atau sekadar ikut-ikutan?” Menghadapi sisi gelap, kegelisahan, hingga trauma pribadi adalah jalan terjal yang harus ditempuh agar karya memiliki “ruh”.

Di era digital, tantangan ini kian riuh. Alat bantu visual instan memang memudahkan siapa saja mencuri estetika, tapi mata publik yang jeli tidak bisa dibohongi. Mereka tetap bisa membedakan mana karya yang lahir dari keringat emosi dan mana yang sekadar polesan permukaan. Sejarah membuktikan bahwa karya yang abadi, seperti coretan Affandi yang menumpahkan cat langsung dari tube-nya, bukanlah yang paling rapi, melainkan yang paling jujur menyampaikan pesan zamannya.

Maka, kejujuran adalah kekayaan paling berharga sekaligus benteng terakhir harga diri seorang perupa. Saat tren berganti dan harga pasar naik-turun tak menentu, hanya kejujuran yang membuat karya tetap tegak di jalannya. Menjadi jujur memang berisiko membuat seniman ditolak atau karyanya tidak “dimengerti”, namun bagi seniman sejati, lebih baik dihujat karena menjadi diri sendiri daripada dipuja karena menjadi orang lain.

Purwosari, 13 Pebruari 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *