catrawarta.com — Kuliner dan lukisan tampak tidak punya hubungan. Yang satu berurusan dengan dapur, yang lain dengan kanvas. Namun, keduanya bertemu pada satu hal yang sama, yaitu rasa. Bukan sekadar rasa di lidah, tetapi rasa sebagai ukuran kualitas. Di warung kuliner di mana pun, ukuran itu bekerja tanpa teori. Orang datang dari latar berbeda, duduk sejajar, lalu menilai tanpa perlu kesepakatan tertulis. Lidah para penggemar kuliner dari tukang becak, pegawai kantoran, hingga kolektor mobil mewah biasanya punya frekuensi yang sama soal kuliner mana yang benar-benar sedap.
Kesepakatan rasa ini tidak butuh ijazah. Tidak perlu sertifikat dari pakar nutrisi. Ada radar batin yang bekerja secara kolektif di tengah masyarakat. Orang paham mana bumbu yang meresap dan mana yang cuma air panas diberi pewarna. Di sini, kualitas tidak butuh iklan muluk-muluk. Ia bicara sendiri lewat indra.
Dalam seni rupa pun, mekanisme serupa sebenarnya juga ada, walau tidak sama persis. Antara seniman, pengamat, kolektor, dan publik – mereka memiliki semacam kepekaan bersama. Karya yang lahir dari kerja serius, baik secara teknis maupun batin, memancarkan sesuatu yang sulit ditutupi. Tanpa banyak kata, ia terbaca. Tanpa banyak pengantar, ia terasa.
Namun, adanya kesamaan kepekaan bersama itu bisa terusik. Bahkan bisa bergejolak manakala muncul sebuah kebaruan. Bentuk yang tidak biasa. Cara yang tidak umum. Di sinilah panggung debat dimulai. Ada yang bersikap apresiatif. Ada yang spontan menolak mentah-mentah. Ada pula yang memilih diam sambil melihat perkembangan opini. Di sini bukan hanya karya yang diuji, tetapi juga cara bersikap.
Kebaruan memang tidak datang untuk membuat semua orang nyaman. Ia mengganggu kebiasaan. Memaksa mata dan pikiran bekerja ulang. Menantang kemapanan mata yang sudah terbiasa melihat yang itu-itu saja. Seperti rasa yang asing di lidah. Bisa ditolak, bisa juga dicoba. Tidak semua harus diterima. Tetapi tidak semua perlu ditutup.
Dalam perkembangan seni rupa, pergeseran cara pandang terlihat cukup jelas. Batas antara pendekatan lama dan baru semakin longgar. Medium makin beragam. Cara penyajian makin terbuka. Instalasi, performans, hingga praktik lintas disiplin hadir berdampingan dengan lukisan dan patung. Peta seni menjadi lebih luas, tetapi juga lebih rumit.
Pengamat seni Suwarno Wisetrotomo pernah menegaskan bahwa karya tidak cukup hanya mengandalkan tampilan. Ia harus ditopang oleh gagasan yang jelas. Tanpa itu, karya mudah menjadi permukaan semata. Pernyataan ini penting dibaca dlm konteks sekarang, ketika bentuk bisa sangat variatif, tetapi tidak selalu disertai dasar pemikiran yang kuat.
Gejala yang muncul kemudian adalah karya yang tampak menarik, tetapi cepat habis. Ia hadir sebagai kejutan. Mengundang perhatian sesaat. Namun, tidak meninggalkan jejak yang panjang dan berkesan . Seperti masakan yang kaya bumbu, tetapi tidak memberi rasa kenyang. Ada sensasi, tetapi tidak bertahan.
Di sisi lain, masih ada kelompok seniman yang bertahan pada pendekatan lama. Mereka menekankan keterampilan teknis. Ketelitian bentuk. Ketekunan proses. Tradisi dijaga seperti resep yang diwariskan. Tidak mudah diubah. Sikap ini memberi stabilitas, tetapi juga bisa membatasi jika menutup kemungkinan baru.
Sebaliknya, ada seniman yang tidak terlalu peduli dengan teknik atau keindahan fisik karya. Bagi mereka, yang paling utama adalah ide atau pesan di baliknya. Bentuk karyanya bisa apa saja. Bahkan karyanya terkadang terlihat berantakan, karena mereka sengaja ingin mendobrak aturan. Tujuannya bukan untuk memanjakan mata, melainkan untuk menyentil dan mengusik pikiran pemirsa agar mereka mempertanyakan wacana yang diusung.
Dua kubu ini, yang mengutamakan teknik dan yang mengutamakan wacana, berjalan beriringan namun jarang sejalan. Di tengah-tengahnya, banyak pelaku seni yang hanya ikut-ikutan tren. Mereka berkarya bukan karena punya prinsip yang kuat, melainkan sekadar mengikuti apa yang sedang populer atau laku di pasar. Inilah yang kemudian memicu masalah.
Perbedaan sebenarnya bukan masalah. Ia tanda bahwa kehidupan seni masih terus bergerak. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi jarak yang tidak bisa dijembatani. Diskusi bergeser menjadi penilaian sepihak. Orang lebih cepat menolak daripada mencoba memahami.
Padahal sesuatu yang baru butuh waktu. Tidak bisa langsung dinilai tuntas dalam sekali lihat. Ia perlu diuji. Dirasakan berulang-ulang. Diletakkan dalam konteks yang lebih luas. Tanpa proses itu, kebaruan hanya berhenti sebagai kejutan, dan tidak sempat tumbuh.
Seni membutuhkan ruang percakapan yang intens, bukan hanya dipajang ruang pamer. Percakapan yang terbuka. Yang memberi tempat bagi perbedaan, tanpa harus saling meniadakan. Kualitas karya tidak ditentukan oleh siapa yang berbicara, tetapi oleh apa yang dihadirkan karya itu sendiri.
Seperti kuliner yang enak, kualitas tidak perlu diumumkan panjang. Aromanya cukup memberi tanda. Rasanya menyelesaikan penjelasan. Orang datang karena pengalaman, bukan karena ajakan. Dalam seni, hal yang sama berlaku. Karya yang kuat akan menemukan jalannya sendiri.
Kebaruan yang dipaksakan tidak akan bertahan lama, akan runtuh oleh waktunya sendiri. Sebaliknya, kebaruan yang lahir dari proses yang tekun akan bertahan. Ia membuka jalan baru. Lalu suatu saat, ia pun akan diuji kembali. Perjalanan seni memang tidak pernah berhenti.
Waktu bekerja tanpa tergesa, tapi terus berlalu. Ia menyaring dan memisahkan. Mana yang benar-benar hidup, mana yang hanya lewat. Dalam proses itu, rasa kembali menjadi penentu. Seperti lidah yang tidak bisa dibohongi, waktu pun bekerja dengan ketelitian yang sama.
Kejujuran seorang kreator adalah bumbu paling inti dalam setiap karya. Tanpa itu, kebaruan hanya akan menjadi kosmetik yang gampang luntur disapu hujan zaman. Seni rupa butuh lebih banyak karya yang “berkaldu”, bukan sekadar yang “bervetsin” tinggi namun hambar dalam ingatan.
Menikmati inovasi adalah soal kesiapan batin untuk mencicipi kemungkinan. Sebagaimana kuliner yang terus berevolusi tanpa kehilangan jati diri jenis masakannya, lukisan pun harus berani melangkah tanpa meninggalkan kekuatan rasanya. Di situlah letak martabat sebuah karya.
Perlu merenungkan setiap goresan dan setiap sesapan. Karena dalam setiap inovasi yang tulus, selalu ada sepotong “kebenaran” yang menunggu untuk ditemukan. Waktu adalah juri yang tidak punya kepentingan kecuali pada kebenaran rasa itu sendiri.
Purwosari, 06 April 2026

Para Kuda Berburu Juara, Ketika Pacuan Tak Hanya Olahraga tetapi juga Wisata 