Etalase

Gothak Gathuk Pethuk

catrawarta.com — Lebih dari sekedar kesesuaian, kecocokan atau keserasian, gathuk dalam konsep Jawa adalah tempuk nganti ngepok, bertemu sampai ujung kesadaran. Dalam...

Dr Nasir Tamara diskusi dengan Ansori (Dok. Catrawarta)

catrawarta.comLebih dari sekedar kesesuaian, kecocokan atau keserasian, gathuk dalam konsep Jawa adalah tempuk nganti ngepok, bertemu sampai ujung kesadaran.

Dalam konteks bambu atau kayu, ia merujuk pertemuan dua bambu atau kayu sampai benar-benar bersenyawa, tak terlihat sambungan. Saling mengisi dan menutup, juga saling menguatkan. Serupa pring (bambu) pethuk, konstruk ajaib yang dianggap mendatangkan tuah, ia unik, estetis dan berdaya.

Bisa jadi begitulah pertemuan Ansori dan En Roel, dua perupa beda karakter dan gaya. Keduanya berulang kali bertemu, seperti kakak beradik yang tak hanya saling bertegur sapa tetapi berbagi energi. Pertemuan alami, natural dan mempribadi itu tak serta merta harus saling mempengaruhi.

Karakter keduanya bertahan dalam keaslian dan, karenanya, justru saling mengisi. Karya mereka ikhlas, apa adanya. Kesamaan keduanya terletak pada pertemuan. Pertemuan Ansori dengan tokoh melahirkan karya mozaik tokoh yang bersangkutan. Pertemuan En Roel dengan aktivitas manusia juga melahirkan karya yang berdimendi sosial.

Ansori kuat dari sisi pemberdayaan limbah kaca (beling) dalam beragam motif. Seninya dekoratif, indah bagai mozaik. Meskipun banyak, kemudian, menampilkan sosok atau tokoh, kesan mozaik melekat pada dirinya. En Roel sebaliknya, dia mengeksplorasi garis dan warna hingga lahir beragam karya tematis. Dalam beberapa karya, En Roel terlihat sangat terkesan dengan momen pertemuan. Ia mencoba mengabadikan dalam goresan yang cair, riuh rendah dan dekoratif. Ia mencoba menarik visualisasi energi, gerakan dan aliran waktu.

Keduanya mengelola dan menyatukan energi dengan pameran bersama. Gothak Gathuk Pethuk. Intensitas pertemuan melahirkan komitmen dan kesepakatan untuk sama-sama mengisi ruang Galeri Saptohoedojo. Sebuah momentum besar tengah mereka bidik. Bahwa keseriusan dan keteguhan berproses akan didukung semesta untuk masuk dan menapaki ruang kebudayaan yang lebih besar.

Maka tak mengherankan saat melihat karya mereka berdua, tamu yang hadir dan memenuhi Galeri Saptohoedojo saat opening, Minggu (1/2/2026) malam amat terkesan dan kagum. Tokoh budaya Nasir Tamara sampai berulang kali mengajak diskusi pada Ansori dan Enroel. Pemilik Ndalem Natan itu tidak saja mengapresiasi tetapi juga mendorong agar kedua pelukis berkarakter itu lebih berani.

Pelukis Nasirun juga memberikan catatan penting bagi pameran keduanya. Seniman ngapak ini memberikan kiat agar para seniman lukis bisa menapaki kesuksesan secara finansial. Bahkan sampai acara ditutup dan pengunjung pulang, dia masih asyik berdiskusi dengan kedua pelukis. Sebuah penghormatan dan pengakuan pada pencapaian para juniornya.

Pameran “Gothak Gathuk Pethuk” dilaksanakan pada 1-7 Februari 2026 bersamaan Pekan Kebudayaan Saptohoedojo. Bangsawan – seniman, RM Saptohoedojo, lahir di Surakarta 6 Februari 1925. Galerinya yang berada di tepi Jl Adisutjipto menjadi saksi perjuangan dan penghormatannya pada para seniman. Watak dan karakternya yang lembah manah, bisa dilihat dari nisannya yang berada di deretan paling bawah dari tujuh tingkatan di makam Girisapto Imogiri yang dia bangun.

Ars longa, vita brevis, seni itu abadi hidup itu singkat. Happy birthday, Romo Sapto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *