Etalase

“Diculke Ndhase, Dicekeli Buntute”

catrawarta.com — Pepatah Jawa tersebut menyimpan sebuah makna yang sangat tajam. Secara harfiah berarti kepala dilepas, namun bagian buntut tetap dipegang erat....

hyperabstract 03062025
“HYPERABSTRACT-03062025”

catrawarta.comPepatah Jawa tersebut menyimpan sebuah makna yang sangat tajam. Secara harfiah berarti kepala dilepas, namun bagian buntut tetap dipegang erat. Ada kesan bebas, namun arah sesungguhnya tetap dikendalikan. Kebebasan hadir hanya sebagai sebuah ilusi yang terukur. Otonomi seolah diberikan, tetapi sejak awal sudah diberi batas yang mengikat. Dalam praktik seni rupa kontemporer, situasi ini menemukan bentuknya yang faktual. Seniman diberi ruang bergerak, tetapi jalurnya telah dipetakan oleh sistem. Pilihan terlihat banyak, padahal arah akhir sudah ditentukan penyelenggara.

Setiap pengumuman kompetisi hampir selalu diawali dengan tema tertentu. Tema itu diurai melalui bahasa kuratorial yang tampak filosofis dan ilmiah. Namun di balik kemasan tersebut, ruang gerak kreativitas justru menyempit. Sejak awal, telah ada arah yang dipatok. Proses penciptaan tidak lagi murni berangkat dari dorongan batin internal. Ia bergerak dalam koridor sempit yang sudah digariskan oleh kurator. Pedoman itu bekerja halus, tetapi efektif mengarahkan cara berpikir seniman.

Fenomena ini merasuk tidak hanya ke kompetisi anak-anak, tapi juga pada seniman profesional. Sistem pameran open call dan seniman yang terikat kontrak dengan galeri memiliki pola yang cenderung serupa. Penyelenggara menyediakan kotak, lalu seniman diminta memotong kaki mereka. Langkah ini diambil agar karya bisa muat dalam kotak tersebut. Peran seniman yang seharusnya menjadi pengembara batin kini menjadi terbatas. Gerak kreatif mereka terkunci pada ruang yang telah disediakan. Seniman hanya menjadi pengisi ruang dalam skenario yang sudah disusun dengan perfek.

Ada satu pertanyaan mendasar yang perlu untuk direnungkan bersama. Dalam praktik seperti ini, apa bedanya seniman dengan seorang tukang kayu? Tukang kayu menggergaji papan hanya sesuai dengan pesanan lemari. Tukang bangunan pun bekerja berdasar pada panduan gambar teknik bangunan. Dalam posisi ini, seniman berada pada garis koordinat yang serupa. Mereka menjadi teknisi visual yang bertugas menerjemahkan kehendak sang pemesan. 

Kegelisahan kreatif yang bersemayam di batin seniman terpinggirkan sejak  proses berkarya. Motivasi utamanya demi memenuhi keinginan pihak luar. Letupan energi dari dalam jiwa perlahan meredup. Seniman sibuk membaca teks kuratorial agar karyanya tidak dianggap melenceng. Posisi tawar mereka pun menjadi rawan di hadapan sistem pameran. Kedaulatan sebagai subjek pencipta perlahan mulai terlepas dari genggamannya. Imajinasi tidak lagi bebas mengembara mencari “kebenaran” estetik dari perspektif pribadinya.

Kebebasan ekspresi menjadi barang mewah yang langka. Padahal, teori-teori seni selalu mengagungkan kemerdekaan dalam setiap proses penciptaan. Batasan tema sebagai syarat mutlak adalah bentuk pemasungan kreativitas halus. Seniman diarahkan masuk ke dalam ruang pemikiran yang mungkin masih asing. Atau, ruang tersebut tidak sejalan dengan perjalanan spiritual yang mereka tempuh. Estetika akhirnya hanya menjadi hamba bagi tuntutan narasi besar kurator.

Ketergantungan ekonomi memperparah kondisi ini di dalam ekosistem seni. Hasrat akan pengakuan formal seringkali mengalahkan idealisme pribadi seniman. Otentisitas kerap kali dikorbankan di atas altar kepatuhan pada sistem. Seniman menjadi sangat mahir mengolah simbol visual yang disukai juri. Atau, teknisi simbol yang mahir membaca selera pemesan.

Sebenarnya, kebebasan bukanlah berarti ketiadaan aturan dalam proses berkarya. Kebebasan adalah keteguhan untuk tetap menjadi diri sendiri saat berkarya. Namun, dalam jerat pesanan tema, mereka menjadi buruh ide bagi narasi yang dibangun orang lain. “Ruh” kesenian dicabut bahkan sebelum kuas menyentuh permukaan kain kanvas.

Tarik-menarik kepentingan ini terasa jelas dalam lanskap seni di era kontemporer. Idealisme seniman berhadapan langsung dengan kebutuhan untuk tetap tampil. Banyak panggung seni berubah menjadi ruang seleksi yang sangat ketat. Mereka yang luwes menyesuaikan diri akan lebih mudah untuk masuk. Sementara itu, seniman yang bertahan pada jalur pribadi sering tersisih. Panggung seni rupa tidak lagi sepenuhnya menghargai integritas sebuah proses.

Dampak nyata dari fenomena ini terlihat jelas pada karya dihasilkan. Banyak karya tampak sangat rapi, teknis, dan juga terukur. Namun, ada jarak lebar yang terasa saat kita melihatnya langsung. Kecerdasan visual memang hadir, tetapi denyut emosinya terasa lemah. Seniman terjebak dalam akrobatik teknis demi memenuhi sebuah panduan kuratorial. Mereka tidak sempat bertanya, apakah itu adalah suara hati yang jujur.

Meski begitu, institusi tetap memiliki peran yang sangat penting saat ini. Galeri dan penyelenggara bertugas menjaga agar ekosistem seni tetap bergerak. Tanpa kerangka kerja, sebuah penyelenggaraan pameran bisa kehilangan fokus utama. Namun, persoalan muncul ketika kerangka kerja itu berubah menjadi instruksi. Gagasan orisinal disesuaikan agar peluang tampil di pameran tetap terbuka.

Pameran-pameran besar belakangan ini cenderung mengusung berbagai macam isu global. Lingkungan, politik identitas, hingga teknologi menjadi pilihan tema yang utama. Isu tersebut memang sangat penting bagi perjalanan panjang peradaban manusia. Namun, masalah muncul jika tema tersebut dipaksakan secara sangat instan. Karya yang dihasilkan akan tampak menjadi sangat mentah karena si seniman tidak mengenal betul isu yang dijadikan tema. Gagasan visual menjadi dangkal karena jarak pengalaman empiris yang masih asing. Akhirnya, karya hanya berhenti sebagai ilustrasi visual atas sebuah isu.

Seni rupa semestinya mampu melampaui batasan kata-kata. Ia hadir untuk menyentuh hal-hal yang sangat sulit untuk diucapkan. Seni bukan sekadar ilustrasi dari teks panjang di dinding galeri. Namun, praktik hari ini seringkali membalikkan posisi yang ideal tersebut. Teks kuratorial berada di depan, sementara visual hanya mengikuti di belakang. Kedaulatan rupa akhirnya tunduk pada kedaulatan bahasa yang penuh konsep.

Karya yang kuat hanya lahir dari sebuah pergulatan batin. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang telah diendapkan cukup lama. Penciptaan bukan respons cepat terhadap tren yang sedang terjadi. Dari situlah muncul energi murni yang tidak akan mudah ditiru. Tanpa pergulatan ini, karya seni hanya akan menjadi komoditas biasa.

Jim Supangkat pernah memberi catatan penting mengenai arah seni rupa. Ia melihat dorongan menuju bahasa global yang seragam semakin kuat. Seniman didorong untuk berbicara dengan pola yang seragam pula. Akibatnya, gaya personal yang unik seringkali terabaikan begitu saja. Identitas individu menjadi kabur di tengah arus internasional yang deras. Seniman kehilangan warna aslinya demi bisa diterima dalam kancah global.

Semestinya otonomi seniman menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Tanpa otonomi yang kuat, proses penciptaan bisa kehilangan daya kejut. Jika kondisi ini terus dibiarkan, sejarah seni hanya mencatat kepatuhan. Tidak ada loncatan kreatif yang berarti bagi perkembangan sejarah seni. Tidak ada keberanian baru yang mampu membuka kemungkinan estetik lainnya. Seni akan terjebak dalam lingkaran repetisi yang menjemukan.

Dinamika seni kontemporer saat ini bergerak dengan sangat cepat. Banyak pameran bermunculan di berbagai sudut kota dan juga galeri. Namun, kuantitas tersebut tidak selalu sejalan dengan kualitas yang dihasilkan. Wadah seni seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh secara organik. Ia bukan pabrik yang memproduksi keseragaman karya untuk selera pasar. Kualitas sebuah ekosistem diukur dari keberanian menghargai setiap perbedaan.

Kemerdekaan ekspresi terjaga jika seniman mampu menjaga jarak yang sehat. Mereka harus kuat menghadapi tekanan eksternal dari pasar maupun kurator. Di dalam setiap goresan, harus ada jejak pribadi yang kuat. Jejak tersebut tidak boleh didikte oleh kepentingan pihak mana pun. Kedaulatan batin inilah yang membedakan seorang pencipta dengan pelaksana teknis. Seniman sejati adalah tuan atas setiap keputusan estetik yang diambilnya.

Seni rupa tidak akan pernah lahir dari sebuah kepatuhan buta. Ia justru tumbuh subur dari ketegangan antara kebebasan dan batas. Ketika batas terlalu kuat, daya hidup di dalam karya menyusut. Tarik-menarik ini adalah energi utama dalam proses kreatif seniman mana pun. Tanpa adanya ketegangan, sebuah karya rupa akan terasa hambar dan kosong. Kesenian membutuhkan ruang bebas agar “ruh”nya tetap terus menyala.

Menjaga otonomi adalah pekerjaan yang  tidak ringan. Tren di era kontemporer yang sangat dinamis seringkali menyeret seniman dalam arus. Namun, justru di sanalah nilai kesenimanan seseorang sedang dipertaruhkan sekarang. Nilai seni bukan pada seberapa tepat seniman mengikuti sebuah tema. Sejauh mana keberanian melampaui batas adalah ukuran yang jauh lebih hakiki. Seniman harus berani berdiri tegak di atas prinsip estetikanya sendiri.

Purwosari, 02 Februari 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *