Catra Wisata

Wisata ‘Njeron Beteng’ , Tawarkan Perpaduan Olahraga dan Sejarah 

catrawarta.com — Kawasan historis ‘Njeron Beteng’ Yogyakarta kini punya cara baru untuk memanjakan wisatawan. Setelah melalui dua kali tahap uji coba, Forum...

Peserta wisata Njeron Beteng start dari Ndalem Pakuningratan. (Istimewa)

catrawarta.comKawasan historis ‘Njeron Beteng’ Yogyakarta kini punya cara baru untuk memanjakan wisatawan. Setelah melalui dua kali tahap uji coba, Forum Komunikasi Pokdarwis Kemantren Kraton (FKPKK) Kota Yogyakarta resmi menerima kunjungan perdana wisatawan domestik (wisdom).

Sebanyak delapan wisatawan asal Jakarta menjadi rombongan pertama yang mencicipi pengalaman unik berkeliling kawasan cagar budaya menggunakan sepeda. Tidak sekadar gowes, paket ini menawarkan perpaduan olahraga, sejarah, dan pelestarian budaya dalam satu rangkaian perjalanan.

“Potensi Njeron Beteng sangat layak untuk dikomersialkan secara luas. Selain rute yang sudah ada, kami berencana mengintegrasikan aktivitas budaya lain seperti workshop membatik dan jumputan,”​ kata Koordinator FKPKK sekaligus Ketua Pokdarwis Kadipaten, Rahadyan Chandra, Selasa (17/2/2026).

Kuliner Tradisional

Selain membatik dan jumputan, pihaknya juga memperkenalkan kuliner tradisional maupun pertunjukan seni. Ke depan, FKPKK akan berkolaborasi dengan Kraton, Dinas Pariwisata dan pelaku jasa pariwisata lainnya agar paket ini semakin dikenal luas, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Chandra mengatakan, dalam kegiatan itu para wisatawan diajak menyusuri jejak sejarah di Balik Beteng. Dimulai dari Ndalem Pakuningratan, Kadipaten. Dari sana, peserta diajak menuju Masjid Sela di Panembahan. ​

Selain itu menyusuri kampung-kampung bersejarah seperti Langenastran dan Suryoputran, hingga tiba di sisi timur Beteng Baluwarti. Di Namburan Lor, para peserta ditantang untuk menjajal ketangkasan memanah tradisional khas Mataram, yakni Jemparingan.

“Masjid Sela bukan sembarang bangunan, karena termasuk masjid tertua di Yogya yang dibangun langsung pada era Sri Sultan Hamengku Buwono I,” kata Cahndra menjelaskan kepada para peserta. 

Mewiru

Tidak berhenti di situ, perjalanan berlanjut melewati Plengkung Wijilan dan Alun-alun Utara menuju sisi barat Beteng. Di Ndalem Mangkubumen, para wisatawan diajak menyelami filosofi busana Jawa melalui praktik mewiru (melipat) kain jarik.

​”Pengalaman wisata selama tiga jam ini sungguh luar biasa. Njeron Beteng ternyata punya alternatif menarik selain Kraton dan Taman Sari. Aktivitas seperti jemparingan dan mewiru kain ini bisa jadi daya tarik unggulan,” ungkap Arie, salah satu peserta asal Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *