catrawarta.com — Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon geram terhadap generasi Z yang terkesan acuh tak acuh atau kurang menaruh perhatian terhadap situs sejarah. Padahal, tempat-tempat bersejarah itu jika dikelola serius mampu bernilai ekonomi dan potensial dimanfaatkan untuk sejumlah aktivitas kebudayaan.
Saat meninjau Benteng Marlborough dan Rumah Kediaman Bung Karno yang menjadi dua ikon sejarah di Kota Bengkulu, Fadli Zon menantang Generasi Z di Bengkulu ikut terlibat aktif menghidupkan situs sejarah melalui festival dan kegiatan kreatif agar kawasan bersejarah di Bengkulu menjadi daya tarik bagi wisatawan.
“Saya berharap generasi muda terutama Generasi Z di Bengkulu bisa aktif membuat kegiatan dan festival di kawasan situs sejarah agar semakin banyak orang datang dan merasakan nilai sejarahnya,” kata Fadli Zon, Rabu (25/2/2026).
Menurut dia, situs bersejarah tidak cukup hanya dipelihara secara fisik, tetapi juga perlu dihidupkan dengan aktivitas yang melibatkan komunitas dan anak muda agar memiliki daya tarik yang berkelanjutan.
Situs sejarah di Bengkulu, Benteng Marlborough, Rumah Bung Karno, dan situs lainnya memiliki ruang terbuka yang potensial dimanfaatkan untuk sejumlah aktivitas kebudayaan.
Fadli Zon mengatakan, budaya harus ditempatkan sebagai kekuatan ekonomi dan juga mampu melahirkan talenta-talenta baru dari kalangan muda sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.
“Budaya harus kita hidupkan agar menjadi kekuatan ekonomi. Dari sana bisa lahir talenta-talenta baru,” katanya
Dalam kunjungannya ke Bengkulu, Fadli Zon menilai situs peninggalan masa kolonial tersebut memiliki daya tarik wisata sejarah yang tinggi dan potensial menarik lebih banyak wisatawan. “Saya kira masyarakat Indonesia perlu datang ke Bengkulu, terutama ke Benteng Marlborough, untuk melihat keindahan dan nilai sejarahnya, termasuk Rumah Kediaman Bung Karno yang memiliki nilai historis tinggi,” ujarnya.
Benteng Marlborough adalah benteng bertahanan Inggris terbesar di Asia Tenggara antara tahun 1714-1719 di kota Bengkulu atau tepatnya di tepi pantai Tapak Padri menghadap Samudera Hindia. Benteng ini berbentuk kura-kura yang berfungsi sebagai basis militer, pusat dagang lada dan penjara.
Sedangkan Rumah Bung Karno, berada di tengah Kota Bengkulu, tepatnya di jalan Soekarno Hatta. Rumah ini sangat bersejarah dan menjadi tempat pengasingan Bung Karno saat itu. Bangunan ini berarsitektur perpaduan Eropa dan Cina.

Jejak Alex Noerdin: Warisan Pembangunan dan Catatan Akhir Kekuasaan 