Catra Cendekia, Warta

Sejarah 7 Juli: Sosok Mastini Hardjoprakoso, Kepala Perpusnas Perempuan Pertama

Mastini Hardjoprakoso adalah Kartini di Perpusnas. Dia menjadi tonggak kepustakawanan di Indonesia yang penuh dedikasi dan inspiratif.

Mastini hardjoprakoso sosok kartini di perpusnas dan menjadi kepala perempuan pertama yang penuh dedikasi dan inspiratif
Mastini Hardjoprakoso, Sosok Kartini di Perpusnas dan menjadi kepala perempuan pertama yang penuh dedikasi dan inspiratif. (dok. Perpusnas RI)

catrawarta.com25 Juni 2025 lalu, Pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 81/M/2025. Isinya soal penetapan bahwa kini bangsa Indonesia bisa memperingati Hari Pustakawan Indonesia yang memang perlu diberi apresiasi mendalam.

Penetapan ini jelas merupakan langkah konkret untuk melindungi profesi pustakawan di Tanah Air sekaligus menjadi pengingat bahawa ada kontribusi pustakawan yang masih aktif di tengah pusaran disrupsi teknologi.

Bicara soal pustakawan, ada salah satu sosok inspiratif yang punya dedikasi tinggi terhadap dunia kepustakawanan. Bisa dibilang, dia adalah sosok kartini yang telah bekerja keras mendatangkan perspektif baru tentang dunia perpustakaan menjadi hal yang menarik.

Dia adalah Mastini Hardjoprakoso. Sosok perempuan hebat yang kerap dipanggil Ibu Mastini ini merupakan pendiri dari Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas).

Lahir pada 7 Juli 1923 di Modjogedang, Karanganyar, Mastini tumbuh di lingkungan bangsawan, dekat dengan literasi, hingga berkarakter lembut namun tetap gigih.

Semangatnya membara setiap kali dia membuka buku, mencium aroma setiap halamannya, dan membaca setiap pengetahuan yang ada di dalamnya.

Dikutip dari buku berjudul Mastini Hardjoprakoso : Sekilas Perjalanan Hidup dan Kontribusi dalam Bidang Perpustakaan di Indonesia karya Farli, putri dari RMT Hardjoprakoso yang keenam ini lantas sempat menempuh pendidikan di HIS Siswo School di Solo dengan lingkungan bangsa Belanda.

Usai tamat sekolah, dia lantas berkarir di Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) milik Belanda. Mulai dari sana, kemudian Mastini mulai terjun di bidang kepustakawanan.

Semangat yang tak padam, ketekunan, dan keuletan Mastini dalam bekerja menjadikan putri bangsawan ini dilirik oleh atasan hingga dia dikirim untuk menempuh pendidikan tinggi di Belanda. Tepatnya pada tahun 1955, dia lantas belajar teknis perpustakaan di Nederlands Instituut vor Documentatieen Registratie menggunakan beasiswa Stichting voor Culturele Samenwerking.

Kepala Perempuan Pertama Perpusnas

Mastini memimpin rapat dengan berani di perpusnas ri
Mastini memimpin rapat dengan berani di Perpusnas RI (dok. Perpusnas RI)

Kecerdasannya membuat Mastini kian bersinar. Dia bahkan mendapat tawaran bekerja beberapa kali di luar negeri untuk memimpin perpustakaan tertentu.

Meski diiming-imingi uang senilai fantastis sebagai gaji dengan kehidupan yang lebih baik, Mastini dengan tegas justru menolak. Dia tetap ingin kembali ke Tanah Air dan menyebut bakal mengembangkan perpustakaan besar yang kita kenal di masa kini sebagai Perpustakaan Nasional RI.

Benar saja, sepulang dari sekolah, dia langsung getol mengupayakan berdirinya Perpusnas. Tujuannya, dia ingin memperjuangkan idealismenya sendiri dan mengubah pandangan soal buku yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan.

Dia menilai, buku dan pengetahuan itu bisa didapatkan secara cuma-cuma sebagai hak asasi manusia oleh masyarakat di Tanah Air lainnya, sekalipun bukan berstatus sebagai bangsawan dan konglomerat.

Saat memimpin Perpusnas, dia tak hanya duduk di struktural saja. Ada beberapa karya yang lahir dari otak briliannya sendiri.

Salah satunya yakni The Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia yang berisi soal bibliografi di Indonesia yang masih lemah. Menariknya, karya luar biasanya ini mendorong terciptanya regulasi yang bertajuk Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1990 Tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam yang masih digunakan hingga saat ini.

Selain berdedikasi tinggi menjadi Kepala Perpustakaan Nasional RI, Ibu Mastini juga menjadi dosen luar biasa di Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia dari tahun 1973 hingga tahun 1989.

Organisasi profesi juga seringkali menjadi wadah aktif bagi Mastini untuk tetap berkarya. Dia tercatat bahkan pernah menduduki dua kali posisi sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia, seperti yang dilansir dari laman resmi Perpusnas, Selasa (7/7). Selain itu, dia juga sempat menjadi Excutive Board of Congres of Southeast Asia Librarians (CONSAL) dan anggota Country Directors of National Libraries (CDLN).

Atas jasa dan buah pemikiran besarnya di bidang kepustakawanan ini, dia beberapa kali mendapat ganjaran penghargaan bergengsi. Di antaranya meliptui Bintang Mahaputra Utama hingga Nugra Jasadarma Pustaloka Life Time Achievement.

Mastini rasanya adalah simbol perempuan Indonesia yang lembut, beradab, dan begitu tulus mencintai Tanah Airnya sendiri. Jika tak ada Mastini yang menjadi garda terdepan di Perpusnas, mungkin saja bangsa Indonesia ini tak bisa memiliki arsip hingga informasi bersejarah yang terawat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *