catrawarta.com — Pelecehan dan kekerasan seksual pada anak-anak masih sering terjadi. Bahkan belum lama, seorang anak menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual di sebuah rumah ibadah. Akibatnya, korban mengalami trauma berat. Orangtuanya mengadu ke Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo agar pelaku bisa mendapat hukuman setimpal.
Tak hanya itu, pelecehan dan kekerasan juga terjadi di berbagai lembaga pendidikan. Banyak korban tak berani bicara karena di bawah ancaman dan tekanan pelaku. Ada pula lembaga yang berusaha menutupi agar tak sampai masyarakat tahu.
Menanggapi berbagai kejadian tersebut, pakar Pendidikan Agama Islam UMY, Prof Akif Khilmiyah menekankan pentingnya pendidikan seks sejak dini. Selain itu, penambahan literasi islami supaya anak-anak dan para remaja tumbuh dengan pemahaman sesuai keilmuan dan keagamaan.
Minimnya pemahaman mengenai seksualitas dapat meningkatkan kerentanan anak, remaja, hingga mahasiswa terhadap berbagai bentuk kekerasan seksual. Dampaknya, mereka tumbuh tanpa memiliki pemahaman yang memadai mengenai batasan dalam berinteraksi, hak atas tubuhnya sendiri, maupun cara mengenali tindakan yang tergolong sebagai kekerasan seksual.
Literasi seksualitas, jelasnya, diberikan sejak dini melalui pendekatan yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan seks bukan bertujuan mengajarkan perilaku seksual, melainkan membekali seseorang agar mampu menjaga diri, menghormati orang lain, serta terhindar dari berbagai bentuk kekerasan seksual.
Sering Dianggap Tabu
Ia melihat pendidikan seks sering dianggap tabu sehingga tidak pernah dibahas. Ketika seseorang tidak memahami tubuhnya, batas-batas berinteraksi, maupun risiko perilaku seksual, ia lebih rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan.
”Literasi bukan mengajarkan perilaku seksual, tetapi memberikan pengetahuan agar seseorang mampu menjaga dirinya sesuai nilai-nilai Islam,” tandas Akif dalam sebuah acara di UMY.
Menurutnya, literasi seksualitas Islami tidak hanya membahas aspek biologis reproduksi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, tanggung jawab, rasa malu serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Melalui pemahaman tersebut, peserta didik mampu membedakan interaksi yang sehat dengan perilaku yang mengarah pada pelecehan maupun eksploitasi seksual.
Pendidikan secara Bertahap
Akif memberi gambaran, pemberian pendidikan seksualitas secara bertahap sesuai dengan usia peserta didik, mulai dari lingkungan keluarga hingga satuan pendidikan. Materi juga sesuai dengan tahap perkembangan anak. Tujuannya, mereka memiliki bekal untuk mengenali berbagai modus kekerasan seksual, termasuk praktik grooming atau manipulasi psikologis yang sering menimpa anak dan remaja.
”Sekarang yang banyak terjadi yakni grooming. Pelaku tidak langsung melakukan kekerasan, tetapi membangun kedekatan, memberi perhatian, membantu berbagai kesulitan, lalu perlahan memanipulasi korban,” paparnya.
Anak-anak dan remaja perlu memahami tidak semua perhatian memiliki niat yang tulus. Mereka harus mampu mengenali tanda-tandanya agar tidak mudah menjadi korban.
Mengenai literasi seksualitas islami, imbuhnya, untuk membentuk pengendalian diri. Dalam perspektif psikologi Islam, manusia memiliki akal, nafsu, dan hati yang harus berkembang secara seimbang. Ketiga unsur tersebut perlu dibina melalui pendidikan dan pembiasaan nilai-nilai agama agar seseorang mampu mengendalikan dorongan yang berpotensi mengarah pada perilaku menyimpang.

Sejarah 7 Juli: Sosok Mastini Hardjoprakoso, Kepala Perpusnas Perempuan Pertama 