Catra Milenia

Dari Perpustakaan Keliling ke Filsafat UGM

catrawarta.com — Di tengah arus zaman yang makin sibuk mengejar gelar demi pekerjaan, Misye Qiera Prameswari justru memilih jalan berbeda. Perempuan 18...

Woman in a white blazer speaks into a microphone at a conference with a projection slide about preventing stunting in the background
Misye Qiera Prameswari dalam sebuah acara. Foto: humas ugm

catrawarta.comDi tengah arus zaman yang makin sibuk mengejar gelar demi pekerjaan, Misye Qiera Prameswari justru memilih jalan berbeda. Perempuan 18 tahun asal Karangploso, Malang itu memilih masuk Program Studi Filsafat Universitas Gadjah Mada melalui jalur SNBP 2026. Pilihan yang bagi sebagian orang dianggap “tidak biasa”, justru lahir dari pengalaman hidup yang sangat membumi perpustakaan keliling di desa-desa.

Nama Qiera belakangan sempat viral di media sosial. Qiera viral karena mengikuti pesan sederhana ibundanya. Sang ibu menulis bahwa pendidikan bukan sekadar jalan mencari pekerjaan, tetapi proses membentuk kebijaksanaan hidup. “Belajarlah apa yang kamu cintai. Jika kamu mencintai apa yang kamu pelajari, hasil akan mengikuti.”

Kalimat itu bukan motivasi kosong. Ia tumbuh dalam keluarga yang membiasakan budaya membaca, berdiskusi, dan berpikir bebas. Sejak kecil, Qiera terbiasa bertanya tentang banyak hal. Namun dunia pendidikan formal tak selalu ramah terhadap rasa ingin tahu. “Saya pernah dianggap slow learner karena terlalu banyak bertanya,” ujarnya.

Di ruang kelas, pertanyaan kritis sering dianggap mengganggu ritme belajar. Namun justru dari situlah watak intelektualnya terbentuk. Ia tidak puas menerima jawaban instan. Qiera ingin memahami alasan di balik sesuatu.

Perubahan besar dalam hidupnya terjadi ketika keluarganya pindah ke Desa Pagelaran, Kabupaten Malang. Di desa itu, kedua orang tuanya mendirikan komunitas pendidikan Omah Sinau yang bergerak dalam literasi dan perpustakaan keliling. Bersama ayahnya, Qiera kerap berkeliling desa membawa buku-buku untuk anak-anak. Dari perjalanan sederhana itulah ia melihat wajah lain Indonesia.

Qiera menyaksikan sendiri anak-anak desa yang baru pertama kali mengenal buku. Ada yang belum pernah membayangkan dunia di luar kampungnya. Ada yang membaca dengan mata berbinar seolah menemukan jendela baru kehidupan. “Saya terenyuh ketika melihat ada anak yang baru pertama kali mengenal buku,” kenangnya.

Pengalaman itu menjadi titik balik kesadarannya. Ia memahami bahwa akses pendidikan dan kemampuan berpikir kritis masih menjadi privilese bagi sebagian orang. Sejak saat itu, pendidikan baginya bukan sekadar urusan akademik, tetapi jalan pembebasan manusia.

Kegemarannya membaca membuat Qiera akrab dengan berbagai pemikiran tokoh dunia hingga pendiri bangsa. Salah satu yang membekas adalah gagasan Tan Malaka tentang tanggung jawab terhadap bangsa dan desa. Dari sana ia mulai melihat filsafat bukan sebagai ilmu abstrak yang jauh dari kehidupan, melainkan fondasi berpikir untuk memahami realitas sosial.

Pilihan masuk filsafat di UGM pun lahir dari proses panjang. Sebelum mantap menentukan jurusan, ia sempat tertarik pada psikologi, sosiologi hingga hubungan internasional. Namun akhirnya ia memilih filsafat karena ingin memahami dasar cara manusia berpikir.

“Filsafat memberi kemampuan berpikir luas dan holistik. Bidang ini bisa masuk ke semua aspek kehidupan,” katanya.

Bagi Qiera, filsafat justru semakin penting di era kecerdasan buatan dan otomatisasi. Ketika mesin mampu menggantikan banyak pekerjaan teknis, manusia tetap membutuhkan kemampuan reflektif, etika, dan kebijaksanaan.

Kini, bersama komunitas yang berkembang menjadi Good Village Project, ia bercita-cita membangun ruang belajar berbasis pemikiran kritis bernama Sekolah Athena. Sebuah ruang yang diimpikannya menjadi tempat anak-anak desa belajar berpikir, berdialog, dan memahami dunia secara lebih luas.

Di usia muda, Qiera memberi pelajaran penting pendidikan sejatinya bukan hanya tentang menjadi pintar. Pendidikan sejatinya menjadi manusia yang mampu berpikir, peduli, dan memberi arti bagi sesama. (ugm.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *