Catra Budaya, Warta

Sosok Abdul Muis, Wartawan dan Sastrawan ‘Salah Asuhan’ yang Lantang Selama Perjuangan

Tokoh 3 Juli, Abdul Muis yang jadi tonggak perjuangan lewat sastra dan jurnalisme

Pahlawan nasional abdul muis yang jadi wartawan dan sastrawan
Pahlawan Nasional Abdul Muis yang Jadi Wartawan dan Sastrawan (kemensos RI)

catrawarta.com‘Salah Asuhan’ merupakan mahakarya sastra tak lekang oleh waktu sekaligus bisa dinikmati lintas generasi, Mungkin, banyak orang yang begitu tersanjung dengan gaya penulisan hingga otak brilian dari sang penciptanya.

Ya, siapa lagi kalau bukan Abdul Muis. Lahir tepat pada 3 Juli tahun 1886 di Sungai Puar, Bukittingi, Sumatera Barat, Abdul Muis tumbuh dewasa menjadi sosok yang cerdas sekaligus pemberani.

Seperti halnya orang Minang pada umumnya, putra Datuk Tumenggung Lareh tersebut memiliki jiwa berpetualang yang begitu tinggi. Sejak remaja, dia bahkan telah berani mempertaruhkan nasib di perantauan, Pulau Jawa.

Tak hanya berani, dia juga terbukti mau untuk menjadi pribadi pembelajar yang tak kenal lelah. Usai lulus dari Sekolah Eropa Rendah (Eur. Lagere School/ELS), dia lantas kembali menempuh pendidikan kedokteran di Stovia selama 3,5 tahun. Namun lantaran sakit, beliau kemudian keluar dari sekolah.

Semasa hidup, dia pernah berkarir di berbagai tempat. Dia berjuang sebagai klerk di Departemen Onderwijs en Erendienst selama 2,5 tahun. Setelah itu, dia kemudian memantapkan diri menjadi wartawan di Bandung dan memulainya sebagai anggota redaksi Bintang Hindia.

Selang beberapa tahun kemudian, dia bergabung Sarekat Islam sekaligus menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda sebagai redaktur. Di sana pula, dia menjadi tulang punggung dan penggerak bagi Sarekat Islam melalui Harian Kaoem Moeda yang cukup vokal menyuarakan kaum pribumi.

Dalam perjuangannya, Abdul Muis juga seringkali lantang memberikan kritik terhadap pemerintah Belanda yang dinilainya tak selaras dengan banyak hal. Bahkan saat berkunjung ke Belanda untuk mempromosikan Komite Indie Weerbaar, dia keras meminta para tokoh sentral Belanda untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi yang kini kita kenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).

Bahkan, beberapa kali pria Minang ini mengecam tulisan orang-orang kolonialis Belanda saat menulis di Harian De Express. Abdul Muis ini rasanya begitu memiliki idealisme tinggi. Dia begitu teguh memperjuangkan nasib rakyat yang baru saja dijajah kolonial.

Tak hanya lewat media, sastra, bahkan dia ikut terjun langsung beberapa kali di bidang politik. Tulisan-tulisannya terasa lebih tajam dibandingkan senjata Belanda kala itu.

Lewat tangan dinginnya pula di sela-sela perjuangan dan karirnya, lahir beberapa karya sastra indah seperti ‘Pertemuan Jodoh’ hingga Robert Anak Surapati’. Alih-alih merasa terpuruk saat diasingkan, karya ‘Salah Asuhan’ justru lahir dengan penuh cinta di pangkuannya sendiri.

Abdul Muis menutup perjalanan luar biasanya sebagai masyarakat Indonesia pada 17 Juni 1959 di Jawa Barat sebagai aktivis Sunda. Selang dua bulan setelah beliau wafat, Abdul Muis kemudian mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 218 Tahun 1959, Abdul Muis resmi menjadi Pahlawan Nasional yang pertama. Tak hanya ini, hari kelahiran Abdul Muis bahkan juga diabadikan sebagai Hari Sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *