Catra Budaya, Catra Wisata

Sastra Inggris UNY Latih Pegawai Museum Vredeburg Perkuat Komunikasi Publik

catrawarta.com — Program Studi Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta(UNY)  menghadirkan sebuah inisiatif pengabdian kepada masyarakat yang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi benar-benar...

Presenter in a dark suit explains a plan at the front of a conference room while attendees in hijabs sit around a long table with papers water bottles and pink orchids a projection screen shows a blue pyramid diagram labeled in indonesian
Suasana kegiatan Pelatihan Public Relations bagi Pegawai Museum Benteng Vredeburg. (Istimewa)

catrawarta.comProgram Studi Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta(UNY)  menghadirkan sebuah inisiatif pengabdian kepada masyarakat yang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan praktis di lapangan.

Bertempat di ruang audiovisual Museum Benteng Vredeburg, Kamis (23/4/2026) suasana yang biasanya digunakan untuk pemutaran dokumentasi sejarah berubah menjadi ruang belajar yang dinamis. Dua puluh pegawai museum dari berbagai divisi duduk melingkar, terlibat aktif dalam diskusi, simulasi, hingga praktik membangun narasi yang mencerminkan semangat kolektif untuk memperkuat peran mereka sebagai representasi museum di hadapan publik.

Pelatihan bertajuk “Pelatihan Public Relations bagi Pegawai Museum Benteng Vredeburg” ini dipimpin Ketua Tim Pengabdian, Dr. Rachmat Nurcahyo SS  MA, yang menekankan pentingnya kontribusi akademisi dalam mentransfer pengetahuan ke ruang-ruang publik. Tidak hanya berhenti pada teori, kegiatan ini dirancang untuk menjawab tantangan nyata bagaimana museum dapat menyampaikan nilai sejarah secara lebih hidup, relevan, dan mudah dipahami oleh pengunjung masa kini.

Museum Menjadi Ruang Intepretasi

Pembukaan kegiatan oleh Penanggung Jawab Museum Agus Sulistya SPd MA yang mengharapkan kegiatan ini memperkuat arah tersebut. Ia menyoroti, museum bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu, melainkan ruang interpretasi yang menjembatani sejarah dengan konteks kekinian. Dengan kata lain, nilai sejarah tidak cukup hanya dipelajari, namun perlu dikomunikasikan dengan cara yang mampu menyentuh pengalaman pengunjung.

Sepanjang pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi tentang dasar-dasar public relations, tetapi juga diajak memahami komunikasi sebagai praktik sehari-hari yang membentuk citra institusi. Fokus pada storytelling menjadi bagian penting, karena narasi yang kuat mampu mengubah informasi sejarah menjadi pengalaman yang bermakna.

Pendekatan interaktif menjadi kunci peserta berlatih menghadapi berbagai situasi nyata, mulai dari menyambut pengunjung, menjawab pertanyaan kritis, hingga merespons potensi keluhan dengan cara yang tetap membangun citra positif.

Budaya Komunikasi yang Hidup

Menariknya, pelatihan ini juga menggeser cara pandang peserta terhadap peran mereka masing-masing. Salah satu peserta menyadari, bahkan posisi seperti petugas keamanan pun memiliki kontribusi strategis dalam membentuk persepsi publik. Setiap interaksi, sekecil apapun, menjadi bagian dari praktik public relations yang kolektif. Di sinilah letak esensi kegiatan ini.  PR tidak lagi dipahami sebagai fungsi eksklusif divisi humas, melainkan sebagai budaya komunikasi yang hidup di seluruh lini organisasi.

Melalui program ini, Sastra Inggris UNY tidak hanya memperluas jangkauan pengabdiannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ilmu komunikasi dapat diterapkan secara konkret dalam konteks pelestarian budaya.

Di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi terhadap institusi untuk bersikap terbuka, komunikatif, dan responsif, pelatihan semacam ini menjadi langkah strategis. Bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga untuk membangun museum sebagai ruang yang tidak sekadar informatif, melainkan juga inspiratif dan relevan bagi generasi hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *