Catra Budaya

Ringin Sepuh Kotagede, Cikal Berdirinya Mataram

catrawarta.com — Ringin Sepuh di kawasan Dondongan, pintu gerbang Masjid Ageng Mataram Kotagede, adalah entitas botani yang berusia ratusan tahun. Ia merupakan...

Pohon Beringin Usia sekitar 500 Tahun di halaman Masjid Besar Mataram Kotagede, Kamis 29 Januari 2026 roboh akibat angin kencang pukul 14.00

catrawarta.comRingin Sepuh di kawasan Dondongan, pintu gerbang Masjid Ageng Mataram Kotagede, adalah entitas botani yang berusia ratusan tahun. Ia merupakan artefak ekologis sekaligus simbol kultural yang merepresentasikan hubungan dialektis antara spiritualitas, kekuasaan, dan pengelolaan lingkungan dalam sejarah awal Mataram Islam. Keberadaan pohon beringin tersebut tidak dapat dilepaskan dari narasi kosmologis Jawa-Islam yang menempatkan alam sebagai bagian integral dari tatanan sosial dan religius.

Tradisi tutur yang diwariskan secara turun-temurun menyebutkan bahwa Ringin Sepuh ditanam oleh Sunan Kalijaga, salah satu figur sentral Wali Songo, ketika Alas Mentaok masih berupa kawasan hutan. Meski tidak didukung oleh dokumen tertulis formal, memori kolektif para abdi dalem Keraton Yogyakarta memperkuat keyakinan bahwa penanaman beringin tersebut merupakan bagian dari strategi dakwah kultural sekaligus penataan ruang ekologis. Dalam perspektif sejarah kebudayaan, narasi semacam ini memiliki legitimasi simbolik yang kuat karena membentuk kesadaran identitas masyarakat setempat.

Penanaman Ringin Sepuh diyakini beririsan dengan proses pembentukan Kerajaan Mataram Islam pada pertengahan abad ke-16. Sunan Kalijaga adalah arsitek nilai yang memahami pentingnya keberlanjutan alam bagi kesejahteraan sosial. Pesan agar kerajaan dibangun di sekitar beringin menunjukkan pandangan visioner tentang pusat kekuasaan yang bertumpu pada harmoni antara manusia, lingkungan, dan nilai spiritual.

Secara ekologis, Ringin Sepuh memainkan peran strategis sebagai penjaga sistem hidrologi lokal. Struktur perakaran beringin yang luas dan dalam memungkinkan penyerapan air hujan dalam jumlah besar, yang kemudian dilepaskan secara gradual pada musim kemarau. Fenomena ini menjelaskan mengapa mata air di sekitarnya, khususnya Sendang Seliran dan Sendang Kemuning, tetap lestari sepanjang tahun. Dalam kajian lingkungan, fungsi tersebut menempatkan Ringin Sepuh sebagai elemen kunci dalam sistem penyangga kehidupan kawasan Kotagede.

Keberlanjutan mata air tersebut tidak hanya berdimensi ekologis, tetapi juga sosial dan kultural. Sendang Seliran, dengan pembagian simbolik antara Sendang Putri dan Sendang Kakung, merefleksikan struktur sosial keraton sekaligus praktik pemanfaatan sumber daya air yang berbasis nilai adat. Transformasi sendang dari ruang eksklusif keluarga kerajaan menjadi ruang publik menandai pergeseran nilai menuju inklusivitas tanpa menghilangkan makna historisnya.

Di luar fungsinya bagi manusia, Ringin Sepuh juga menjadi habitat beragam fauna, mulai dari burung, serangga, hingga mamalia kecil. Keanekaragaman hayati ini menegaskan posisi beringin sebagai simpul ekosistem mikro yang menopang keseimbangan lingkungan perkotaan. Dengan demikian, Ringin Sepuh tidak hanya hidup sebagai penanda masa lalu, tetapi juga sebagai entitas aktif yang terus memberi manfaat ekologis.

Tumbangnya sebagian tubuh Ringin Sepuh akibat angin kencang pada 29 Januari 2026 kemarin dapat dibaca sebagai peristiwa ekologis sekaligus simbolik. Ia menjadi pengingat akan rapuhnya warisan alam-budaya di tengah perubahan iklim dan tekanan modernitas. Ada pelajaran bahwa keberlanjutan peradaban hanya mungkin terwujud jika manusia meneladani kearifan alam—memberi, menjaga, dan hidup selaras dengan semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *