Catra Budaya

Perubahan Sosial Bikin Masyarakat Indonesia Alami Goncangan Budaya

catrawarta.com — Banyak orang memandang Orba adalah masa penuh pembatasan. Politik dikontrol, pers diawasi,  aktivis dibungkam, bahkan ekpresi keagamaan (Islam dan Konghucu)...

Magazine cover with two men posing in front of an ancient stone temple title reads gaya nusantara issue no 26 february 1994 plus indonesian subtitle text
Perubahan Sosial Bikin Masyarakat Indonesia Alami Goncangan Budaya. Foto: x.com

catrawarta.comBanyak orang memandang Orba adalah masa penuh pembatasan. Politik dikontrol, pers diawasi,  aktivis dibungkam, bahkan ekpresi keagamaan (Islam dan Konghucu) dibatasi.  Negara saat itu lebih takut pada gerakan politik berbasis agama dibanding ekpresi budaya modern yang dianggap tidak mengancam kekuasaan secara langsung. 

Dunia hiburan cukup glamor, majalah dewasa bertebaran, diskotik tumbuh di mana-mana. Bahkan pada tahun 1994 terbit sebuah majalah komunitas LGBT bernama GAYa NUSANTARA yang cukup terbuka membahas identitas seksual, relasi hingga kehidupan komunitas gay di Indonesia. Sebuah paradoks. Rezim yang sangat longgar pada satu aspek namun sangat keras pada aspek yang lain. 

Setelah Reformasi 1998 situasi berubah drastis. Negara tidak lagi sekuat dulu dalam mengontrol masyarakat. Pers jadi lebih bebas, organisasi sipil tumbuh. Hampir tiga dasawarsa kemudian,  internet dan media sosial mempercepat  dampak pada banyak hal. Perluasan kebebasan membawa konsekuensi sosial, ada kemajuan demokrasi dan penghormatan terhadap hak individu namun di sisi lain sekaligus juga mengikis nilai sosial, budaya, dan agama yang selama ini dijaga masyarakat Indonesia. 

Jika era orde baru ekspresi identitas seksual bergerak diam-diam melalui komunitas terbatas dan media cetak tertentu, pada era digital ini komunikasi menjadi terbuka, massif dan lintas negara. Perubahan sosial ini membuat masyarakat Indonesia mengalami goncangan budaya.  Indonesia sejak awal dibangun di atas nilai keluarga, relasi sosial komunal, dan konsep laki-perempuan sebagai pondasi dasar kehidupan bermasyarakat. 

Sebagian kelompok melihat orientasi seksual sebagai ranah privat yang terkait dengan hak individu. Mereka mendorong pendekatan non distributif dan menolak kekerasan terhadap kelompok LGBT. Di sisi lain mayoritas masyarakat Indonesia merasa fenomena ini sudah bergerak terlalu jauh dari batas sosial yang wajar. 

Kekhawatiran terbesar bukan lagi sekedar soal keberadaan komunitas itu sendiri, tapi tentang perubahan pola sosial yang dianggap mulai mempengaruhi anak-anak dan remaja melalui budaya popular, media digital, fenomena grooming di ruang online, juga mengaburnya batas antara edukasi, ekspresi, dan normalisasi yang semakin kabur. 

Masyarakat menilai perubahan orientasi seksual bertentangan dengan fungsi dasar manusia sebagai makhluk biologis dan sosial. Secara biologis manusia diciptakan dengan sistem reproduksi laki-laki dan perempuan untuk melanjutkan keberlangsungan generasi. Perspeksif sosial memandang  keluarga sebagai unit dasar pembentuk peradaban. 

Dari keluarga lahir pendidikan, perlindungan, regenerasi hingga stabilitas sosial. Karena itu bagi sebagian masyarakat Indonesia perubahan relasi gender dan seksual bukan sekedar soal pilihan pribadi tapi dianggap berkaitan dengan arah masa depan masyarakat itu sendiri. 

Kekhawatiran ini semakin menguat dengan meningkatnya berbagai persoalan kesehatan seksual global termasuk HIV AIDS yang hingga saat ini belum ada obat penyembuh totalnya.

Pendekatan terhadap perubahan sosial modern tidak hanya bisa dilakukan dengan kemarahan atau penolakan emosional semata. Masyarakat membutuhkan keseimbangan antara menjaga nilai sosial, melindungi anak-anak, memperkuat keluarga dan tetap mengedepankan kemanusiaan. 

Indonesia hari ini berada di tengah tarik-menarik besar antara budaya global dan nilai lokal. Satu sisi ada arus keterbukaan, kebebasan identitas, dan hak individu yang terus menguat lewat globalisasi digital. Di sisi lain ada masyarakat yang ingin mempertahankan struktur sosial tradisional yang dianggap sebagai pondasi moral bangsa.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap zaman selalu memiliki cerita sendiri. Melihat foto majalah GAYa NUSANTARA tidak cukup hanya dengan rasa kaget atau nostalgia. Ia membuka pelajaran penting bahwa sejarah Indonesia tidak pernah hitam putih. 

Yang terpenting adalah bagaimana cara Indonesia menghadapi tantangan baru, menjaga kebebasan tanpa kehilangan arah budaya dan nilai sosial yang menjadi pondasi masyaraka, serta bertanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *