catrawarta.com — Seni pertunjukan Melayu lahir dari kebudayaan bandar dan masyarakat pesisir yang sejak berabad-abad menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa, bahasa, agama, dan tradisi. Kehidupan masyarakat Melayu tumbuh di pusat perdagangan, pelabuhan, dan jalur pelayaran yang menuntut kemampuan membangun hubungan sosial dengan beragam kelompok manusia.
Sutradara seni pertunjukan Melayu, N Darius, mengatakan karakter utama seni pertunjukan Melayu bukan terletak pada penonjolan ekspresi individual, melainkan kemampuan merawat hubungan sosial dan membangun komunikasi antarmanusia.
“Karena itu, karakter utama seni pertunjukan Melayu bukanlah penonjolan ekspresi individual, melainkan kemampuan merawat hubungan, membangun komunikasi, dan menciptakan ruang perjumpaan,” kata Darius, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, dalam berbagai bentuk pertunjukan Melayu, unsur dialog, pantun, musik, gurindam, nyanyian, hingga interaksi antarmanusia memiliki peran sangat penting.
Pertunjukan Melayu tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga menjadi media mempererat hubungan sosial, menyampaikan nasihat, membangun kesepahaman, hingga merundingkan berbagai persoalan kehidupan bersama.
“Seni pertunjukan Melayu cenderung menempatkan komunikasi, musyawarah, kesantunan, dan keharmonisan sosial sebagai inti ekspresinya,” ujarnya.

Darius menjelaskan seni pertunjukan Melayu dapat dipahami sebagai cerminan pandangan hidup masyarakat bandar, yakni masyarakat yang tumbuh dari perjumpaan dan pertukaran budaya.
“Dalam konteks itu, seni pertunjukan Melayu dapat dipahami sebagai cerminan pandangan hidup masyarakat bandar: masyarakat yang hidup dari perjumpaan, tumbuh melalui pertukaran, dan bertahan karena kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama,” katanya.
Ia menilai nilai paling menonjol dalam seni pertunjukan Melayu adalah kesantunan, penghormatan kepada sesama, kebersamaan, kebijaksanaan, serta kemampuan menjaga marwah.
Pesan moral dalam pertunjukan Melayu, lanjutnya, umumnya tidak disampaikan secara keras atau konfrontatif, melainkan melalui simbol, pantun, gurindam, lagu, dan berbagai kiasan yang mengajak masyarakat berpikir.
“Pantun adalah salah satu jantung kebudayaan Melayu. Pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, tetapi cara berpikir masyarakat Melayu,” ujarnya.
Darius menambahkan pengaruh adat dan agama dalam perkembangan seni pertunjukan Melayu sangat besar. Dalam tradisi Melayu dikenal ungkapan “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” yang menunjukkan eratnya hubungan budaya dan nilai-nilai Islam.
Karena itu, seni pertunjukan Melayu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media pendidikan moral, penyampaian nasihat, dan pembentukan etika sosial.
Meski demikian, seni pertunjukan Melayu tidak berkembang dalam ruang tertutup. Pengaruh Arab, India, Tiongkok, Eropa, hingga berbagai tradisi Nusantara turut mewarnai perkembangan seni pertunjukan Melayu.
Pada masa kolonial muncul berbagai bentuk hiburan dan musik yang memperlihatkan proses percampuran budaya. Selain itu, hubungan antarnegeri serumpun di kawasan Melayu juga memungkinkan pertukaran gagasan, repertoar, alat musik, hingga bentuk pertunjukan.
“Karena itu, seni pertunjukan Melayu sesungguhnya memiliki karakter yang cair dan adaptif,” katanya.

Menurut Darius, kemampuan menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri menjadi salah satu kekuatan utama kebudayaan Melayu hingga saat ini.
Ia juga menekankan bahwa simbol dan kiasan dalam seni pertunjukan Melayu bukan sekadar cara menyembunyikan makna, melainkan upaya menyampaikan pesan secara bijaksana.
Di dalam seni pertunjukan Melayu terkandung bahasa, nilai, sejarah, pengetahuan lokal, tata hubungan sosial, hingga cara manusia berinteraksi dengan lingkungan tempat hidupnya.
“Bagi masyarakat Melayu, alam bukan sekadar latar kehidupan, melainkan bagian dari kebudayaan itu sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, pantun, syair, gurindam, lagu rakyat, hingga berbagai bentuk pertunjukan Melayu banyak mengambil inspirasi dari sungai, laut, hutan, burung, ikan, musim, dan berbagai fenomena alam lainnya.
“Karena itu, pelestarian seni pertunjukan Melayu tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan hidup,” katanya.
Darius menilai bila seni pertunjukan Melayu hilang bukan hanya berarti hilangnya tarian, lagu, atau bentuk pertunjukan semata, tetapi juga hilangnya cara masyarakat Melayu memahami dirinya sendiri.
“Yang ikut hilang adalah cara masyarakat Melayu memahami dirinya sendiri, memahami hubungan antarmanusia, serta memaknai alam dan lingkungan yang membentuk kehidupannya selama berabad-abad,” ujarnya.
Menurutnya, yang turut hilang adalah bahasa simbolik, nilai kebijaksanaan, pengetahuan ekologis, hingga memori kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Di akhir wawancara, Darius menegaskan seni pertunjukan Melayu mengajarkan bahwa masyarakat dapat menjadi modern tanpa kehilangan kesantunan dan identitas budayanya.
“Manusia dapat terbuka terhadap dunia tanpa kehilangan identitas, serta dapat beradaptasi terhadap perubahan tanpa tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya.

