Catra Budaya

Menjelang Hari Seni Dunia, Karawitan di Persimpangan Jalan

catrawarta.com — Peringatan Hari Seni Dunia setiap 15 April bukan sekadar seremoni, melainkan alarm bagi nasib seni tradisi. Di tengah kepungan budaya...

KARAWITAN: Anak-anak bermain karawitan dalam festival di Yogyakarta.(Sumber: Dinas Kebudayaan DIY)

catrawarta.comPeringatan Hari Seni Dunia setiap 15 April bukan sekadar seremoni, melainkan alarm bagi nasib seni tradisi. Di tengah kepungan budaya populer yang kian masif, seni karawitan kini berdiri di persimpangan jalan, berjuang tetap relevan atau perlahan menjadi ”fosil”.

Dosen Filsafat Nusantara UGM, Dr Sartini memotret fenomena tersebut dengan jernih. Baginya, karawitan di Yogyakarta sebenarnya punya akar yang kuat, namun ketahanannya bukan ditentukan oleh label “warisan budaya”, melainkan seberapa sering instrumen itu dipukul dan bunyinya didengar publik.

Ada optimisme di balik layar digital. Teknologi seharusnya menjadi “karpet merah” bagi karawitan untuk melanglang buana via YouTube atau live streaming. Ironisnya, saat komunitas luar negeri giat memamerkan kemahiran menabuh gamelan, masyarakat lokal justru sering kali abai pada potensi besar di ujung jari mereka sendiri.

Banyak Gamelan Mematung

Kenyataan di lapangan menyuguhkan ironi yang getir. Banyak set gamelan di desa-desa atau instansi hanya mematung, berdebu karena jarang disentuh. Masalah utamanya klasik namun krusial: ketiadaan ruang pentas. Tanpa panggung, motivasi untuk berlatih luruh, dan seni tradisi pun kehilangan napas kehidupannya.

”Budaya akan hidup kalau sering dipertunjukkan,” tegas Sartini.

Tanpa adanya wadah ekspresi yang rutin, minat masyarakat yang sebenarnya masih ada akan tersumbat. Karawitan butuh ekosistem, bukan sekadar pelestarian yang sifatnya pasif dan administratif.

Potensi yang terpendam terbukti dalam gelaran seperti Festival Karawitan di UGM. Antusiasme peserta dari kalangan pelajar hingga umum menunjukkan bahwa dahaga akan ruang seni itu nyata. Masyarakat butuh panggung untuk membuktikan bahwa identitas mereka belum sepenuhnya tergerus zaman.

Karawitan Sekolah Kehidupan

Lebih dari sekadar musik, karawitan adalah sekolah kehidupan. Sartini menekankan filosofi ngemong, kemampuan saling mendengarkan dan berkomunikasi antarpemain demi harmoni. Di dunia yang makin individualis, nilai-nilai dalam ansambel gamelan ini seharusnya menjadi antitesis yang sangat relevan.

Mengenai minimnya keterlibatan generasi muda, kritikan tajam tertuju pada aksesibilitas. Gen-Z bukan tidak cinta budaya sendiri, mereka hanya kurang terpapar. Jika sejak dini telinga mereka lebih akrab dengan beat pop global daripada denting saron, maka itu adalah kegagalan sistem dalam menyediakan pintu masuk ke seni tradisi.

Masyarakat perlu belajar dari fenomena Korean Wave yang mendunia lewat promosi masif. Jika karawitan tidak “dijual” secara aktif di ruang digital dengan kemasan yang segar, maka wajar jika ia kalah bersaing. Bangga pada budaya sendiri membutuhkan perkenalan yang intens, bukan sekadar paksaan moral.

Menghadapi masa depan, harapan besar diletakkan pada sinergi komunitas, sekolah, dan institusi. Hari Seni Dunia harus menjadi momentum untuk berhenti memperlakukan karawitan sebagai simbol belaka. Karawitan butuh ruang untuk berbunyi, beradaptasi, dan kembali menjadi detak jantung dalam kehidupan masyarakat modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *