Catra Budaya

Cari Pendaki Bukit Mongkrang, Tim SAR Libatkan Ahli Spiritual

catrawarta.com — Bukti Mongkrang di Lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar, selama ini menjadi ‘jujugan’ para wisawatan. Sebab, bukit tersebut memang telah menjadi...

Uba rampe disiapkan untuk mendampingi Tim SAR mencari keberadaan pendaki yang hilang di Bukit Mongkrang

catrawarta.comBukti Mongkrang di Lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar, selama ini menjadi ‘jujugan’ para wisawatan. Sebab, bukit tersebut memang telah menjadi objek wisata yang dikelola Perhutani dan kelompok sadar wisata setempat.Ketingian Bukit Mongkrang 2.194 meter di atas permukaan laut (mdpl) berada di wilayah Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, menawarkan pemandangan indah dan hawa sejuk.

Sepanjang jalan yang dilewati sebelum sampai puncak, pengunjung mendapat suguhan pemandangan padang ilalang yang terlihat unik dan menjadi hamparan yang indah. Setelah berada di puncak bukit, selain bisa menyaksikan Gunung Lawu, jika langit sedang cerah dari kejauhan dapat menyaksikan keindahan gunung lain, seperti Gunung Merbabu, Merapi, Sumbing, Telomoyo, Prau dan Gunung Ungaran.

Dalam beberapa hari terakhir, Bukit Mongkrang sedang mencuri perhatian masyarakat menyusul hilangnya salah satu pendaki, Minggu (18/1/2026) . Pendaki yang belum ditemukan itu bernama Yasid Ahmad Firdaus (26), warga Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.
Upaya pencarian hingga saat ini belum membuahkan hasil. Namun, Tim SAR gabungan setempat tak kekurangan akal, maka ditempuhlah dengan pendekatan spiritual. Cara ini sebagai langkah ikhtiar dan diharapkan bisa menemukan pendaki yang hilang tersebut.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, mengatakan keterlibatan unsur spiritual dilakukan setelah berbagai metode pencarian teknis belum menemukan titik terang.
“Kami sudah berupaya dengan beberapan metode, baik teknis darat, udara, anjing pelacak dan drone dan kini kita mencoba dengan pendekatan spiritual. Ini bagian dari ikhtiar bersama, beriringan dengan usaha kemanusiaan,” jelas Hendro kepada wartawan.

Hendro menjelaskan, korban dilaporkan hilang sejak Minggu (18/1/2026) saat melakukan pendakian bersama tiga rekannya melalui jalur Bukit Mongkrang. Rombongan sempat mencapai puncak dan beristirahat.

Namun saat perjalanan turun, keempat pendaki terpisah di sekitar Pos 3. Tiga orang berhasil kembali ke basecamp, sementara Yasid tidak kunjung menyusul. Upaya pencarian mandiri oleh rekan-rekannya tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya kejadian tersebut dilaporkan kepada petugas dan operasi SAR resmi dimulai Senin (19/1/2026).

Menurut Hendro, tim spiritual yang dilibatkan berjumlah sekitar empat orang, didampingi relawan serta unsur TNI dan Polri dan diarahkan menuju area sekitar Pos 2 Bukit Mongkrang. Mereka menyiapkan dupa, bunga melati dan kopi hitam. Namun, kondisi cuaca menjadi tantangan utama.
“Cuaca di lapangan sangat tidak bersahabat. Hujan, angin kencang dan badai terjadi sejak pagi hingga siang hari. Sampai saat ini belum ditemukan tanda-tanda barang milik korban maupun petunjuk lain,” katanya.

Ia menegaskan, pendekatan spiritual tidak menggantikan prosedur pencarian SAR, melainkan melengkapi seluruh upaya yang telah dilakukan. “Semua ikhtiar sudah ditempuh. Anjing pelacak, drone, penyisiran manual, hingga pendekatan batin kami lakukan bersamaan,” tambah Hendro. Sementara itu, keluarga korban masih berada di sekitar basecamp dan berharap ada kabar baik dari seluruh upaya pencarian yang terus dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *