catrawarta.com — Salah satu artefak Indonesia yang saat ini masih tersimpan di The Metropolitan Museum of Art (The Met), New York, dan masuk dalam proses repatriasi ke Indonesia adalah bagian dari koleksi Arca Surocolo.
Temuan arkeologis ini menarik perhatian para peneliti karena diduga merupakan satu set mandala Buddhis yang berasal dari abad ke-9 Masehi.
Arca Surocolo merupakan kumpulan artefak berupa arca-arca logam perunggu berukuran kecil dengan tinggi antara 5 hingga 13 sentimeter. Artefak tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang warga bernama Sudarnowijono pada 4 September 1976 saat menggali tanah di halaman belakang rumahnya di Dusun Poyahan, Kalurahan Seloharjo, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Saat ditemukan, puluhan arca tersebut tersimpan di dalam sebuah guci keramik yang tertanam sekitar 50 sentimeter di bawah permukaan tanah.
Menurut keterangan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, temuan tersebut terdiri atas 19 arca perunggu berukuran kecil yang diduga merupakan satu kelompok arca Buddhis serta satu arca bercorak Siwaistis.

Temuan ini kemudian menjadi salah satu pembahasan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi I pada tahun 1977. Para arkeolog menyimpulkan bahwa sebagian besar arca tersebut merupakan satu kesatuan set yang berkaitan dengan sebuah mandala Buddhis tertentu.
Berdasarkan hasil identifikasi, diketahui bahwa koleksi Arca Surocolo merupakan campuran artefak bercorak Buddhis dan Siwaistis.
Sebanyak 18 arca di antaranya tergolong dalam satu kelompok mandala Buddhis, sedangkan dua arca lainnya merupakan arca individu yang masing-masing bercorak Siwaistis dan Buddhis.
Sejak tahun 2000, delapan belas arca Buddhis disimpan di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, sementara dua arca individu lainnya disimpan di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.
Jejak Mandala Buddha Kuno
Para peneliti meyakini bahwa kumpulan arca Buddhis dari Surocolo merupakan bagian dari sebuah mandala.

Dalam tradisi Buddha, mandala adalah diagram geometris yang menggambarkan susunan figur atau komponen secara hierarkis dalam pola tertentu. Mandala memiliki fungsi religius sebagai sarana meditasi dan konsentrasi dalam praktik ritual keagamaan.
Arkeolog senior Edi Sedyawati melakukan kajian mendalam terhadap koleksi tersebut dan berhasil mengidentifikasi 12 figur utama yang kemudian dikelompokkan ke dalam lima kategori.
Berdasarkan analisis ikonografi dan kajian terhadap naskah-naskah Buddhis, sebanyak 17 arca Buddhis Surocolo diidentifikasi sebagai figur pendamping dalam sebuah mandala.
Sementara satu arca lainnya, yaitu Vajrapani, hingga kini masih menjadi bahan perdebatan di kalangan akademisi terkait posisi dan fungsinya dalam susunan mandala tersebut.
Dalam kajiannya, Edi Sedyawati merujuk pada naskah Buddhis Nispannayogavali yang diterbitkan oleh Benoytosh Bhattacharyya pada 1949.
Manuskrip tersebut ditulis sekitar abad ke-11 hingga ke-12 oleh Abhayakaragupta, seorang tokoh Buddhis dari Biara Vikramashila yang berada di wilayah Bihar, India saat ini.
Daftar Arca yang Teridentifikasi
Dari total 20 arca yang ditemukan di Situs Surocolo, para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah figur penting, yaitu Vajrapani, Siwa Mahadewa, Vajraraksa, Vajraloka, Vajragantha, Hayashya, Vajrasphota, Sukarasya, Vajranirtya, Vajraraga, Mukanda, Vajralasi, Muraja, Vajrakarma, Vamsa, Vajragiti, Vajradhupa, Vajrabhasa, Padmapani, dan Vinayaka.
Keberadaan koleksi ini menjadi bukti penting perkembangan ajaran Buddha Tantra di Jawa pada masa Mataram Kuno.
Karena itu, pemulangan salah satu Arca Surocolo dari The Met tidak hanya berarti kembalinya sebuah benda bersejarah, tetapi juga mengembalikan bagian penting dari jejak peradaban dan praktik keagamaan Nusantara pada lebih dari seribu tahun lalu.

KDMP dan Rasa Cinta Tanah Air 