catrawarta.com — Teguh Ranusastra Asmara lahir Banjarnegara pada 22 Januari 1947. Salah satu tonggak sejarah bagi tumbuh kembang sastra di Yogyakarta ini mendedikasikan hidupnya untuk sastra dan kebudayaan. Kepergiannya menyisakan kenangan yang tak terlupa bagi banyak kalangan.
Hadir dan Merekam
Persentuhan saya dengan sosok bersahaja ini terjadi pada 2012. Yogyakarta, saat itu, sedang membara. Hampir semua elemen masyarakat bergerak dengan pusat tujuan cuma satu: Gedung DPRD DIY di Malioboro. Aspirasinya cuma satu: meneguhkan keistimewaan Yogyakarta. Setiap hari ada demonstrasi, bahkan para istri bupati dan pejabat pun turun ke jalan. Rekaman peristiwa itu saya ikuti di akun Facebook Kangmas Teguh yang rajin mengabadikan. Tetapi, kemana suara para penyair?
Itulah yang mendorong kami, bersama Bunda RAy Sitoresmi Prabuningrat, untuk menginisiasi pembuatan antologi puisi “Satu Kata: Istimewa” sekaligus kurator independennya. Yogyakarta adalah oase dan kawah candradimuka bagi banyak orang besar di panggung kebudayaan nasional. Mereka harus bersuara, setidaknya mengenang kota yang ikut menorehkan sejarah kehidupan mereka. Dan sambutannya meriah, penyair dari berbagai kota berdatangan sangat antusias hingga kami launching pada 5 September 2012. Momen itu sengaja kami angkat untuk mengenang Maklumat 5 September 1945. Tema yang kami angkat saat itu, “Meneguhkan Kembali Peran Yogyakarta Sebagai Ibukota Penyair” berlangsung meriah di gedung Purna Budaya atau Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasumantri (PKKH) UGM.
Ada 72 penyair dalam antologi itu. Dan satu demi satu baca karyanya secara alfabetis. Di situlah saya mengenang Kangmas Teguh. Tiap penyair yang pentas bacakan karyanya di panggung Purna Budaya difoto, dibuatkan album dan itu tanpa sepengetahuan saya. Baru ngeh setelah beliau upload di dinding Facebook! Cukup sedih, kenapa nama beliau tidak ada dalam antologi yang diterbitkan Penerbit Ombak ini? Tak sempat pula bertanya kenapa tak mengirimkan puisi sampai akhir hayatnya, 9 Mei 2016.
Para seniman, sastrawan, penyair atau bahkan tokoh publik tentu merasakan bagaimana seorang Teguh Ranusastra Asmara tidak saja hadir tetapi juga merekam event yang mereka inisiasi. Dalam banyak kesempatan bertemu, itu murni inisiatif pribadi. Didorong karena kecintaan dan dedikasi pada seni, sastra dan budaya, bila kondisi badan sehat, hujan pun akan diterjang. Itu komitmen diri yang bisa jadi langka ditemukan. Hadir dan merekam. Sebuah tugas peradaban yang mengagumkan.
Melepas kepergian tokoh rendah hati itu, Guru Besar FIB UGM Prof Faruk HT membuat puisi yang indah dan menukik:
*Lebih Cepat dari Kilat*
: Tegoeh Ranusastra
Oleh: Faruk HT
telah kauberi cahaya
pada semua peristiwa
sampai habis nyalamu
sampai kau jadi bayang
dan kemudian padam
telah kaukuras tenaga
dan kauperas untuk mereka
hingga sungaimu asat
hingga perahumu kandas
dan dayung pun lepas
lalu angin datang
membawamu terbang
lebih cepat dari kilat
kamera yang pucat
(10/5/2016)
Bang Faruk tepat dalam menarik sosok itu ke dalam diksi. Datang, tak banyak bicara, tapi semua orang merasakan kehadirannya, dan kini kehilangannya, adalah karakter lembah manah yang mengagumkan. Dan tugas peradaban itu diemban sampai ujung kehidupan. Dalam banyak hal, sebagai seorang sejarawan, saya belajar dari Kangmas Teguh.
Maka, sepakat dengan Cak Nun yang melepas kepergian sahabat karibnya itu, “Mas Teguh Ranusastra tidak meninggal dunia. Mas Teguh tetap jadi wartawan hanya dipindah tugaskan ke alam yang lain oleh Yang Maha Wartawan (Al- Khabir) dan tetap menjalankan tugas kewartawanannya sambil menunggu ditempatkan di surga sebagai khalidina fiha abada”.
Keteguhan Menapaki Jalan
Perjumpaan demi perjumpaan terjadi di beragam kegiatan. Saat mengampu Matakuliah Dokumentasi Budaya di Prodi Kearsipan SV UGM pada 2014, saya tugaskan mahasiswa untuk membuat biografi para tokoh Yogyakarta. Salah satunya, Kangmas Teguh. Dan tugas ditunaikan dengan baik oleh tim Muhammad Mulkan dkk. Di wall Facebook-nya Kangmas Teguh (23/5/2014) menulis:
“Terima kasih rekan-rekan mahasiswa UGM Kearsipan yang sempat dolan ke tempat saya Karangkajen. Mereka adalah Mulkan, Fadlan, Roisa, Rena, Sella dan Alfi. Mereka mengorek tentang perjalanan hidup saya dan sepak terjang Persada Studi Klub dalam dunia sastra Yogya. Terima kasih juga pada mas Wahjudi Djaja yang mengirim mahasiswa ke tempat saya”.
Keteladanan beliau teramat langka bagi kami yang bergerak di bidang arsip dan sejarah. Bila kami hanya membantu menulis kembali jejak perjalanan Kangmas Teguh, agar menjadi inspirasi bagi banyak orang, apa susahnya. Menginisiasi Persada Studi Klub (PSK) pada 5 Maret 1968 di kantor redaksi koran mingguan Pelopor Jogja di Jl Malioboro 175 A, bersama Umbu Landu Paranggi, Ragil Suwarna Pragolapati, Iman Budhi Santosa, Soerparno S Adhy, Mugiyono Gitowarsono dan M IPan Sugiyanto Sugito, adalah bukti mentalitas pionir. Sebuah kapal kreatif yang melegenda dalam samudra sastra.
Catatan, foto atau karya Kangmas Teguh Ranusastra bisa jadi berceceran. Zaman sedang mengalami transisi saat beliau berada di ujung akhir perjuangan. Media baru semakin menjadi tanda zaman yang berbasis digital. Beliau telah merekam sastra, menjadi seorang dokumentator sejati, tugas kitalah untuk membingkai peristiwanya, termasuk menggali pemikiran dan karyanya.
Damailah di keabadian Kangmas, salam dan doa kami semua.

Awas, Kawasan Karst Gunung Sewu Terancam Kritis! 