catrawarta.com — Fadjar Djunaedi, Hendung Tunggal Jati, dan Ahmad Yunus merupakan barisan seniman senior asal Kota Batu yang api kreatifnya terus menyala selama berpuluh-puluh tahun. Ketiganya konsisten mencari kemungkinan baru dalam proses artistik tanpa mengenal kata padam. Dedikasi ini juga terlihat dari keaktifan mereka menggelar karya dalam berbagai pameran, baik secara mandiri maupun berkelompok, sebagai bentuk bakti kepada kota yang mereka cintai melalui jalur kesenian.
Kali ini, mereka bertiga bersinergi menghelat pameran kelompok di Galeri Raos, Kota Batu, yang berlangsung pada 25 April hingga 4 Mei 2026. Mengusung tema “AMOR FATI”, pameran ini mendapatkan sorotan khusus dari Djuli Djatiprambudi, seorang akademisi dan kurator. Ia menyatakan bahwa pameran tersebut merefleksikan hidup yang tidak sekadar bersandar pada nasib, melainkan bagaimana takdir diolah menjadi energi untuk menemukan pengalaman baru. Karya-karya Fajar, Hendung, dan Yunus Tupai mengajak audiens merenungkan hidup melalui posisi biofilia dan nekrofilia secara utuh.
Seni bukan sekadar peristiwa ekonomi, melainkan peristiwa batin dan kebudayaan yang kompleks di mana karya menjadi medan eksplorasi gagasan yang liar. Di luar jangkauan lampu galeri mewah, praktik kesenian tetap berjalan dengan intensitas tinggi melalui para perupa di berbagai daerah, seperti di Kota Batu, Pasuruan, Malang, atau wilayah Indonesia lainnya. Meski berada jauh dari pusat legitimasi Jakarta atau Yogyakarta – dan mencipta tanpa jaminan bahwa karya akan segera terjual – pameran mandiri tetap terselenggara secara konsisten melalui kekuatan swadaya. Proses kreatif terus dirawat dengan tekun tanpa perlu menunggu keriuhan publikasi media nasional.
Logika ekonomi murni akan melihat praktik semacam ini sebagai sesuatu yang janggal. Aktivitas kesenian di tepian sering dianggap tidak produktif karena tidak ada angka pertumbuhan yang dapat dihitung secara statistik. Tidak ada akumulasi modal nyata yang dihasilkan dari pameran-pameran kecil di galeri lokal. Namun, logika tersebut terlalu sempit untuk memotret realitas seni yang sebenarnya. Seni tidak selalu tunduk pada asas efisiensi karena ada kebutuhan lain yang jauh lebih mendasar daripada sekadar mengejar hasil yang dapat diukur secara finansial.
Energi yang sulit diukur namun sangat menentukan keberlanjutan seorang seniman adalah kegelisahan kreatif. Ini bukan semangat musiman yang cepat redup setelah pameran usai, melainkan dorongan yang membuat perupa tetap teguh berkarya di studio setiap hari. Mereka terus melangkah meski tidak ada otoritas seni tertentu yang datang memvalidasi. Keyakinan batin menjadi kemudi utama dalam bekerja, memastikan bahwa setiap sapuan kuas memiliki alasan kuat untuk hadir di atas kanvas sebagai bentuk penerimaan atas panggilan hidup.
Konsistensi dalam berkarya lahir murni dari kegelisahan internal yang terus bergejolak. Semangat terjaga karena adanya panggilan dari dalam diri sendiri yang menuntut penyaluran gagasan. Tanpa dorongan tersebut, seorang seniman akan mudah merasa lelah atau patah semangat ketika respons publik terasa minim. Kegelisahan kreatif ini merupakan pemicu utama bagi tercapainya kematangan sebuah karya. Kematangan tersebut muncul bukan karena keinginan untuk terlihat hebat di mata kolektor, melainkan berangkat dari pengalaman hidup yang otentik.
Berdasarkan catatan sejarah seni rupa Indonesia, gerakan dari wilayah pinggiran sering menjadi penyelamat bagi kelesuan ide di pusat. Suwarno Wisetrotomo pernah mengingatkan bahwa kekuatan sebuah karya tidak boleh hanya bersandar pada aspek visual semata. Karya harus ditopang oleh narasi dan landasan pemikiran yang kokoh. Tanpa pondasi ideologis, seni hanya akan menjadi komoditas instan yang cepat dikonsumsi lalu dilupakan. Kematangan artistik adalah hasil dari perenungan panjang yang tidak bisa digantikan oleh kemasan luar.
Keberlanjutan seorang perupa tidak ditentukan oleh seberapa tinggi angka produktivitasnya dalam hitungan kalender, apalagi sekadar mengejar target penjualan demi memenuhi tuntutan pasar yang fluktuatif. Daya tahan dan keteguhan sikap dalam menghadapi perubahan zaman serta tekanan ekonomi adalah kunci yang lebih utama. Seniman yang bergerak di luar arus utama memiliki ruang gerak yang lebih longgar untuk bereksperimen karena mereka tidak memikul beban untuk mengulang-ulang formula visual yang sudah sukses secara komersial hanya demi menjaga stabilitas harga di mata kolektor. Kondisi ini membuka peluang bagi pencarian artistik yang lebih bertenaga, sebab mereka merdeka menentukan arah tanpa intervensi pihak luar yang sering kali lebih mengutamakan nilai investasi daripada kedalaman estetika sebuah karya.
Ekosistem seni yang sehat tidak boleh hanya bertumpu pada satu suara atau satu kutub kekuatan saja. Ia harus tumbuh dari keragaman praktik yang saling berdampingan secara harmonis. Kehadiran seniman di segala lini memberikan keseimbangan yang sangat diperlukan agar dunia seni rupa tidak dikuasai oleh lingkaran terbatas yang bersifat eksklusif. Sifat eksklusivitas dalam jangka panjang dapat membatasi akses serta persepsi masyarakat luas terhadap nilai-nilai keindahan yang seharusnya bersifat universal.
Praktik seni akan menemui jalan buntu apabila terlalu banyak disetir oleh pertimbangan pragmatis. Munculnya gagasan baru selalu membutuhkan keberanian besar, termasuk kesiapan mental untuk menghadapi kemungkinan gagal dalam bereksperimen. Dalam konteks ini, kegelisahan kreatif bukan lagi sekadar urusan pribadi sang seniman, melainkan menjadi tenaga penggerak bagi pembaruan wacana seni rupa secara luas. Pembaruan hanya mungkin terjadi melalui tangan orang-orang yang berani keluar dari zona nyaman dan meruntuhkan batasan kemapanan.
Pameran yang diselenggarakan di daerah, seperti di Galeri Raos, merupakan ruang pertemuan antara karya dan masyarakat secara langsung. Seni hadir tanpa protokol yang terlalu kaku atau mengintimidasi pengunjung awam. Di sana, karya bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan sehari-hari, memungkinkan proses belajar terjadi secara wajar. Warga dapat berdialog langsung dengan penciptanya tanpa sekat birokrasi seni yang rumit, misalnya harus reservasi dulu sebelum menghadiri. Kedekatan inilah yang membuat seni rupa terasa lebih membumi dan berfungsi sebagai sarana komunikasi sosial.
Pandangan yang meragukan kapasitas seniman yang tinggal di daerah pinggiran merupakan sebuah kekeliruan cara pandang. Tolok ukur kesuksesan yang selama ini berlaku cenderung sempit karena hanya melihat aspek ketenaran. Banyak perupa secara sadar memilih jalur yang tidak mencolok agar tetap bisa menjaga kualitas batin dan integritas karyanya. Mereka memberikan ruang yang luas bagi eksplorasi yang dilakukan secara perlahan tanpa harus terburu-buru oleh tenggat waktu pasar yang menuntut kebaruan setiap saat demi kepentingan tren.
Apresiasi terhadap praktik kesenian di luar arus utama perlu terus diperluas oleh berbagai pihak. Dukungan yang dibutuhkan oleh seniman tidak melulu berkaitan dengan transaksi materi dengan harga fantastis. Kehadiran fisik publik dalam setiap pameran sudah memberikan arti besar bagi semangat berkarya. Perhatian yang tulus dari penikmat seni merupakan asupan energi berharga bagi para perupa untuk terus menjaga eksistensinya di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.
Aktivitas pameran dan proses berkarya ini merupakan bagian integral dari kerja kebudayaan. Seni rupa tidak hanya bertugas mencerminkan kondisi zaman, tetapi juga ikut membentuk cara masyarakat memahami identitas diri. Seniman yang bekerja dalam kesunyian turut merekam berbagai pengalaman manusia yang sering luput dari perhatian arus informasi utama. Kontribusi mereka melengkapi kepingan sejarah yang terserak dan memberikan warna pada kekayaan budaya secara kolektif.
Data menunjukkan bahwa sebaran galeri dan artspace di Indonesia mulai mengalami desentralisasi yang positif. Kota-kota seperti Batu, Pasuruan, Malang, hingga Banyuwangi mulai menunjukkan geliat pameran yang bermutu. Fenomena ini membuktikan bahwa energi kreatif tidak terpusat di satu titik geografis saja. Semangat “Amor Fati” yang diusung oleh para seniman di Batu menjadi bukti nyata bahwa penerimaan terhadap takdir justru bisa menjadi bahan bakar utama untuk terus melahirkan inovasi yang relevan.
Proses kreatif yang dijalani dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah berakhir sia-sia. Popularitas atau keuntungan materi mungkin saja datang sebagai dampak dari ketekunan tersebut, namun hal itu bukan menjadi tujuan utama sejak awal kuas digoreskan. Hal yang paling fundamental adalah menjaga agar api kreatif di dalam dada tetap menyala secara stabil. Api itulah yang memastikan dunia seni rupa terus bergerak secara dinamis dan tidak terjebak dalam pengulangan yang statis.
Keteguhan sikap untuk tetap berkarya meskipun tanpa sorotan kamera adalah bentuk kemenangan tersendiri bagi seorang seniman. Dalam perjalanan panjang tersebut, batin menjadi landasan hidup yang paling bisa diandalkan. Kepercayaan diri untuk terus bereksperimen dengan berbagai teknik dan tema merupakan modal utama yang sangat bernilai. Inilah yang membuat karya-karya dari seniman yang berdedikasi tinggi selalu memiliki daya hidup yang panjang dan mampu menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan audiensnya.
Menjelang penutupan sebuah pameran, yang tersisa adalah jejak gagasan yang tertanam dalam ingatan publik. Setiap pameran kelompok merupakan sebuah dialog antargenerasi dan antarpemikiran yang memperkaya khazanah intelektual. Dengan memahami bahwa takdir adalah energi yang harus dimaknai, seniman tidak lagi merasa terbebani oleh tuntutan hasil akhir. Fokus utama dialihkan sepenuhnya pada kualitas proses dan kedalaman makna yang ingin disampaikan kepada para penikmat yang hadir.
Pada tingkatan ini, seni rupa bukan lagi sekadar hobi atau profesi, melainkan jalan hidup yang dipilih dengan penuh kesadaran. Melalui pameran bersama ini, masyarakat diingatkan kembali bahwa kreativitas adalah hak yang harus terus dirayakan keberadaannya. Semangat untuk tidak pernah berhenti belajar dan mencari kemungkinan baru adalah warisan terbaik yang bisa diberikan oleh para seniman senior kepada generasi penerusnya agar api kesenian di tanah air tetap menyala.
Eksistensi perupa di tepian arus utama membuktikan bahwa integritas artistik tetap bisa terjaga di tengah tarikan kepentingan pasar. Keberanian untuk tetap setia pada jalur batin merupakan bentuk perlawanan terhadap penyeragaman selera. Dengan demikian, setiap pameran yang digelar di ruang-ruang swadaya bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa seni akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh dan menghidupi jiwa-jiwa yang haus akan nilai-nilai keindahan tanpa pretensi.
Purwosari, 26 April 2026

Sekolah Rakyat Solusi Terbaru Atasi Kemiskinan 