Warta

Suhu Ekstrem Ancam Indonesia, Padi dan Jagung Bisa Paling Terdampak

catrawarta.com — Gelombang suhu di atas normal yang menyengat Indonesia pada periode pancaroba April 2026 memicu alarm bahaya bagi sektor pertanian. Produktivitas...

Verdant rice fields stretch toward a line of palm trees with distant mountains under a clear sky
Ilustrasi lahan sawah yang terancam gagal panen akibat cuaca ekstrem.(Sumber: catrawarta.com)

catrawarta.comGelombang suhu di atas normal yang menyengat Indonesia pada periode pancaroba April 2026 memicu alarm bahaya bagi sektor pertanian. Produktivitas komoditas pangan strategis berada dalam ancaman serius akibat anomali cuaca tersebut.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya MP mengungkapkan panas ekstrem mengganggu proses biologis tanaman secara fundamental. Gangguan bisa menyerang langsung pada fase reproduktif yang krusial.

”Dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu. Suhu tinggi mempercepat stres tanaman serta mengganggu pembungaan dan penyerbukan,” ujar Oki dalam keterangannya pada media.

Data menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Ia menjelaskan, setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata global berpotensi menurunkan hasil panen padi sebesar 3,2 persen dan jagung hingga 7,4 persen.

Bagian Pemanasan Global

Angka tersebut menjadi indikator nyata bagi kondisi lapangan saat ini. Fenomena panas yang dirasakan masyarakat sekarang, menurutnya, bukan sekadar cuaca harian biasa, melainkan bagian dari tren pemanasan global.

”Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat,” kata Oki.

Padi dan jagung, ia sebut sebagai komoditas yang paling menderita. Pada padi, suhu tinggi saat pengisian gabah memicu sterilitas bunga, yang mengakibatkan bulir padi tidak terbentuk sempurna atau hampa.

Sementara itu, jagung dinilai jauh lebih sensitif. Tanaman ini sangat rentan mengalami kegagalan pada fase tasseling (munculnya bunga jantan), silking (munculnya rambut jagung), hingga awal pengisian biji.

Turunkan Kualitas Benih

Sektor hortikultura seperti cabai dan tomat pun tidak luput dari risiko. Suhu ekstrem dapat menurunkan kualitas benih dan bobot buah, bahkan merusak viabilitas serbuk sari yang mengganggu proses pembuahan alami.

Oki menambahkan gejala kerusakan sudah mulai terlihat di berbagai lahan pertanian. Tanaman tampak cepat layu pada siang hari dan mengalami gangguan pembungaan meskipun belum tercatat sebagai gagal panen total. Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena pancaroba yang minim curah hujan.

”Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat,” imbuhnya.

Sebagai solusi, Oki mendesak pemerintah untuk segera memperkuat infrastruktur irigasi dan akses benih tahan panas. Petani juga diimbau menyesuaikan waktu tanam demi menjaga stabilitas stok pangan nasional di tengah ketidakpastian iklim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *